Wednesday, 16 May 2018

Dear Najwa, happy birthday!

Dear Najwa, 

Aku menulis ini setelah berlatih untuk simposium internasional akhir bulan ini. Sebenarnya aku ngantuk dan lelah sekali karena bekerja seharian ini tapi aku tak ingin momen ku terlewat untuk mengucapkan selamat ulang tahun untukmu, anakku. Seperti biasa, aku tak bisa mengucapkannya secara langsung padamu namun percayalah, kau, selalu dalam doa ku, doa kami, saat ini, aku dan Russell Church yang kini mendampingiku. 

Dear Najwa, happy birthday. 
Di ulang tahunmu yang ke-12 ini aku hanya ingin mengingatkan padamu bahwa kau anak yang hebat! Tidak semua anak mampu bertahan dalam keceriaan seperti yang kau tunjukkan jika mereka berada di posisimu. Kau sudah tak lagi mendapatkan kasih sayang seorang ibu di usiamu yang baru 6 tahun saat itu, saat kau dan aku dipisahkan oleh amarah orang orang yang merasa lebih berhak padamu, daripada aku. Aku tahu, hidupmu tidak mudah sejak saat itu. Di usia 6 tahun itu kau belajar membuat teh sendiri karena tidak ada lagi aku yang bisanya menyiapkan teh es di kulkas bahkan sebelum kau tiba dari sekolahmu. Aku selalu ingat akan hal itu. Aku juga tahu, berat bagimu menemukan kawan yang tulus, yang tidak membully dirimu hanya karena kulitmu jauh lebih gelap daripada anak anak lain yang merasa paling sempurna hanya karena kulit mereka. Percayalah anakku, KAU CANTIK. YOU ARE BEAUTIFUL. Kulit seperti kulitmu itu adalah kulit eksotis yang sangat cantik dimata orang luar negeri yang lebih akrab dengan perbedaan. Jadi kau tak perlu bersedih hati hanya karena olok olok kawanmu itu. Mereka TIDAK SIGNIFIKAN dalam hidupmu. 

Dear Najwa, happy birthday!
12 tahun yang lalu aku melahirkanmu. Saat itu setelah kau lahir bidan yang menanganiku menyatakan aku salah jahit dan mengalami infeksi di organ vitalku. Itu pun saat itu yang merawatmu kebanyakan aku dan nenek, aku basically banyak sendiri saat itu. Setelah salah jahit itu, aku jadi sering kena penyakit perut dan aku sudah tak bisa menahan kalau mau buang air besar, yah, that is true, anakku. Dan ada banyak saat dimana aku harus pakai pampers dewasa demi tetap bisa menjalankan aktifitas dan tidak terhambat oleh penyakit di tubuhku, dan kau lihat anakku, dengan jatuh bangun itu aku menyelesaikan gelar masterku di luar negeri. Lalu aku dapat beasiswa lagi ke negara lain lagi. Aku tidak menyerah dengan keadaan, anakku, dan itu yang ku harap bisa kau warisi untuk bekal hidupmu. Hidup tidak selalu sesuai dengan apa yang kita rencanakan, dan kita harus selalu siap dengan berbagai cara untuk tetap survive. Aku tak pernah menyesali salah jahit di tubuhku ini, karena melalui salah jahit ini, kau lahir ke dunia. Dan aku juga tak terlalu larut dalam kesedihan, setelah salah jahit itu, lalu membesarkanmu selama 6 tahun, kini aku dan keluargaku melihat mu pun saja tidak boleh seolah olah kami tak ada jasa membesarkanmu. Semua sudah Digariskan oleh Allah dan kita ini hanya menjalani saja. Aku hanya ingin kau lakukan satu hal untuk hidupmu: BE HAPPY, bagaimana pun hidup memperlakukan kita. Teruslah berbahagia dan berbuat baik, karena kalau kita tidak bahagia rasanya susah berbuat baik. Jadi apapun itu, anakku, jadilah anak yang berbahagia, no matter what. Aku takkan pernah menentang apapun keputusanmu dalam hidup, percayalah, kau akan selalu ku dukung untuk bahagia. Aku juga pernah tidak bahagia, mungkin kau dulu sering melihatku menangis, tapi kini, see, aku menemukan hidup yang sebenarnya, aku dihormati, dicintai dan dibahagiakan. Jadi jangan terlalu larut dalam kesedihan ya anakku, lift it up, kau tetap bisa bahagia.

Dear Najwa, happy birthday. 
Kau juga harus tahu ibumu ini jatuh bangun dalam cacian, hinaan, hujatan sejak aku (dianggap) meninggalkanmu. Aku tidak pernah meninggalkanmu, dan aku yakin kau tahu itu. Kau pasti ingat saat aku membawamu bersamaku ke tempat nenek dan lihatlah apa yang terjadi. Amarah, gedor pintu, seolah olah aku menculik dirimu. Maka hal itu bukan berarti aku meninggalkanmu, aku menyebut itu sebagai "aku dipisahkan darimu". Dan aku tak ingin ribut, itu saja, maka dari itu aku MENGALAH, aku MENJAUH dan PERGI. Dan terus terang sejak hidupku berlayar sendiri di tahun 2012 itu aku tak lagi perduli dengan ucapan orang. Yang penting aku harus tetap BERNAFAS, harus tetap HIDUP dan BERGERAK. Kau pun harus begitu, anakku. Tumbuhlah kuat tapi tidak menyakiti orang lain. Pilihlah untuk diam jika engkau disakiti dan menangislah hanya dengan Allah saja. Ia lah Penolong kita, anakku. Jadi manusia itu hanya sementara, dan kau tak perlu tergantung pada manusia. Bergantunglah hanya pada ALLAH, anakku, karena yang Menggenggam hati manusia itu ALLAH. Jadi biar saja, teman mem bully, mengolok, berbuat jahat, diam saja, fokus dengan doa, fokus dengan belajar, fokus dengan kebaikan. Masalah mereka nanti biar Allah saja yang Balas. Allah Maha Mendengar doa doa kita dan Ia tidak pernah tidur! Jadi, jangan terlalu sedih dengan olok olok teman dear Najwa, teruslah fokus dengan doa dan kebaikan. Tidak perlu terlalu bersedih dengan hal hal yang tidak signifikan. I know I know, sebagai manusia yang punya hati, kita pasti sakit, tapi kita juga harus tumbuh menjadi kuat anakku. Kita harus tetap BERNAFAS, BERGERAK dan HIDUP! 

Dear Najwa, happy birthday. 
Tahun ini aku sebenarnya ingin memberimu kartu ucapan seperti dua tahun lalu. Tapi aku sadar, Nenek sudah meninggal, dan kau tak lagi aktif di sekolah itu. Aku juga sempat berpikir membelikan kue ulang tahun lalu menyuruh gojek mengantar ke sekolah tapi aku sadar tahun ini kau berulang tahun tepat di 1 Ramadhan (bukankah itu luar biasa, anakku?) Selain itu, kau juga pasti sudah dipindahkan ke sekolah yang aku takkan tahu lagi dimana. Dan lihatlah anakku, bukankah akhirnya masa ini datang? Januari tahun ini kau sempat memintaku menunda kepulanganku ke Auckland, dan menunggu hingga kau lulus SD tapi bukankah akhirnya meski kita satu kota aku tak bisa lagi menemuimu. Aku tak tahu kau di sekolah mana saat ini dan pasti pengawasan atasmu lebih ketat lagi. Ku pikir kau pasti bukan di sekolah umum seperti SD mu saat ini dimana aku dan nenek bisa datang menjengukmu. So, meskipun aku tak pulang ke Auckland, kita tetap tak bisa bertemu lagi. Jadi aku memutuskan memeliharamu dalam doa doa panjangku, dan selalu bersangka baik pada Takdir Allah SWT. Dan aku terlalu yakin, pada saat-Nya kau dan aku akan Ia Kumpulkan kembali. Allah terlalu luar biasa dengan segala takdir-Nya anakku, percayalah. Akan ada hari dimana kau dan aku beremu lagi. Dan sementara kita belum bertemu, doa, itulah penghubung aku dan dirimu. 

Dear Najwa, happy birthday. 
Aku ingin kau tetap ceria, tetap bahagia, tetap bersangka baik pada Allah SWT. Dan jadikan Allah sebagai SATU SATUNYA peganganmu dalam hidup ini. Kau tak perlu bersedih dengan kondisi hidup kita saat ini, karena percayalah, doaku selalu mengelilingimu. Tidak ada satu sujud pun dalam shalatku yang tidak tersebut namamu. Please don't be sad dengan keadaan anak anak lain karena banyak orang hebat justru dilahirkan dari kemalangan anakku. Jadi dikelilingi fasilitas itu bukan jaminan orang itu akan sukses. Suatu saat, percayalah, kau mungkin akan sekolah ke luar negeri sementara anak anak lain yang mengolok olokmu saat ini, cuma bisa melihat kesuksesanmu di negara lain. Kau akan meraih beasiswa, atau kau akan ku sekolahkan di negara Barat dimana persamaan dan kemanusiaan dijunjung tinggi. Dimana kulit mu tidak akan diolok olok bahkan kau dianggap cantik oleh orang orang di sekitarmu. Kau akan jadi manusia bahagia, di negara lain, sementara tukang olok olok itu hanya akan bertahan di tempurung mereka saja. Tidak kemana mana. Tunggu saja, masa itu akan datang, anakku. 

Dear Najwa, happy birthday. 
Aku akan terus menulis untukmu. Kau akan terus menemukan tulisan tulisanku selama aku masih bernafas dan masih hidup. Semoga usiamu barokah, sebentar lagi kau akan mulai baligh, kau akan mengalami menstruasi dan itu berarti kau sudah tak boleh meninggalkan ibadah rutin seperti shalat. Dimana pun kau berada, apapun yang terjadi dalam hidupmu, jangan pernah tinggalkan shalat. Karena itu adalah penghubung kita dengan Rabb! Semoga kau bahagia dimana pun kau berada saat ini. Semoga kau bisa makan KFC (yang kau sebut dengan makan SIP dulu waktu kau kecil), semoga kau tetap tumbuh menjadi anak yang penuh cinta. Kuat tapi tidak menindas. Dan tetap fokus dengan doa. Percayalah Allah SWT selalu Bersama kita. Suatu saat kita akan berkumpul lagi. Jika tidak di dunia ini, maka masih ada akhirat menanti. 

Sudah hampir tengah malam di Auckland. Selamat ulang tahun ya nak, happy Ramadhan juga, semoga selalu Dimudahkan Allah kita beribadah di bulan suci ini. Kami, selalu berdoa untukmu, dan pada saat-Nya kita akan berkumpul kembali.  Amin. 

Auckland, 16 Mei 2018, 
Jam 11:24 malam. 
36 menit menuju tanggal 17 Mei. 
Happy birthday, Najwa. 

With all love and prayer, 

-ME-




Thursday, 10 May 2018

A SPIRITUAL JOURNEY IN LIFE PART 1: CHOOSING THE RIGHT AGENT


Haji. Bagi saya ini seperti ibadah yang sangat tinggi dan hanya orang orang yang benar benar beriman dan mampu secara fisik dan finansial yang bisa menjalaninya. Terus terang saya bukan orang yang bermimpi besar akan menjalani perjalanan ini. Satu, dulu saya sering sakit perut aneh yang membuat saya tidak bisa beraktifitas lancar seperti orang lain. Jangankan hendak perjalanan jauh, ke Balikpapan saja dulu saya takut padahal itu Cuma perjalanan 3 jam dari Samarinda. Dua, saya ini penakut naik pesawat. Kalau ada pesawat yang Cuma sejam atau semenit saya lebih baik naik itu hehe. Tidak bisa membayangkan duduk berjam jam lamanya di pesawat menuju ke suatu tempat. Tiga, uangnya darimana. Jangankan memikirkan biaya haji yang puluhan bahkan ratusan juta itu, bayar kos saja 750 ribu di tahun 2014 itu saya harus kerja di dua tempat. Empat, ya elah iman saya saja masih on off, beragama masih koboy, masak mimpi naik haji. Begitulah pikiran saya.

Selain itu saya kurang support dengan (maaf) kebiasaan orang kita yang mencantumkan gelar religius ini di depan nama mereka, bahkan sering marah atau tersinggung jika sudah naik haji terus kita lupa panggil dengan Pak Haji atau Bu Hajjah. Menurut saya, ini sesuatu yang tak perlu di mention. Yes, I know, melakukannya memang berat, perlu dana, waktu, tenaga yang tidak sedikit, sehingga harus dihargai, tapi bukankah sebaiknya cukup orang tahu kita berangkat, share hal hal yang bermanfaat, then kalau pulang yo wis, perbaiki diri terus. Bukan terlena dengan gelar itu, seolah olah kita sudah jadi manusia pilihan Tuhan. Saya memang bukan termasuk manusia yang senang dengan gelar gelar. Menurut saya, everyone is equal, kita ini MANUSIA, yang membedakan hanya KUALITAS IMAN kita. Itu saja.

Anyway, di tengah tidak adanya faktor dukungan untuk berhaji itu, baik segi finansial, iman, fisik, mental, Allah Takdirkan saat ini saya sedang kuliah PhD di luar negeri. Yang ajaib, saya malah ketemu jodoh disini dan jodoh saya seorang muslim kiwi. Kami pun sebenarnya tidak pernah berambisi untuk ke tanah suci, hanya tahun lalu kami tiba tiba ber nazar akan hal ini. Itu pun karena saat itu saya sedang menghadapi hal yang rumit di tanah air dan you know, saat kita berada dalam kesulitan, kita selalu berdoa lebih kencang dari biasanya. Dan keluarlah kalimat itu “if Allah proceeds our process, let’s do hajj next year”. Padahal harganya saja belum tahu, kerumitan urusannya juga masih buta, sudah “lancang” ingin berhaji. Dan tunangan saya waktu itu pun mengiyakan. Dan alhamdulillah, urusan saya memang BENAR BENAR DILANCARKAN. So, here we are berusaha mewujudkan nazar kami, dari luar negeri.

Berangkat haji dari luar negeri itu ada untung ruginya. Untungnya, space terbuka LEBAR. Apalagi di negara Barat seperti New Zealand ini, sangat sedikit mereka yang hendak ber haji. Jika pun ada, biasanya sudah cukup berumur dan itu pun bukan orang NZ asli. Biasanya mereka orang India atau Pakistan yang sudah tinggal lama di NZ. Sehingga, asal kita hendak ber haji, biasanya bisa berangkat on the year. Ruginya, karena jarang yang hendak beribadah ini, travel yang mengurusi juga sedikit, dan menurut saya, service nya kurang kompetitif dengan harga yang MELAMBUNG (apalagi pakai kurs dollar). Memilih travel yang akan mengurusi perjalanan ini pun susah susah gampang. Apalagi yang menjalankan bukan orang NZ asli tapi pendatang seperti India, Srilanka atau Pakistan. Yaaa beda saja sih,sepertinya kalau westerner yang mengurusi akan jauh lebih profesional. 

Anyway, diantara dua agen yang saya temui, satu adalah agen besar bermarkas di Australia dan NZ (sebutlah agen A), sedangkan yang satu NZ dan Fiji (agen B). Agen A sudah saya hubungi sejak awal Maret, tapi SLOOOOW banget jawab email. Jadi keki. Telpon pun kadang tidak diangkat. Mungkin karena base mereka di Australia. Saya bertanya masalah student visa saya yang masih belum jelas apakah boleh melamar visa haji lewat NZ. Akhirnyaaaa setelah menunggu lamaaaa, 2 minggu lalu mereka membalas email saya dengan SORRY, WE CAN’T HELP YOU ON THIS.  Mengecewakan, apalagi harga mereka jauh lebih murah dari travel B.

Long story short, travel B tiba tiba menghubungi kami malam Jumat minggu lalu. Itu karena saya pernah menulis expression of interest ke mereka. Dan travel B ini meyakinkan bahwa VISA SAYA BOLEH MELAMAR HAJI. Saya jelas tidak percaya dong. Apalagi travel A sudah menyebut mereka sudah dikonfirm oleh konsulat Arab Saudi di Auckland. Akhirnya, saya sendiri yang telpon ke konsulat Arab Saudi. Dan akhirnya dikonfirm boleh melamar haji. Lega.

Untuk service sendiri, travel B yang lebih mahal memang tampak jauh lebih profesional. Web mereka interaktif, bahkan kita bisa melihat berapa jumlah uang yang kita bayarkan dan berapa sisanya. Lalu semua jamaah dikumpulkan di FB page, ada juga WA grup untuk hajj class. Hotel mereka juga di swissotel Makkah di Makkah tower, di ring terdekat dengan Ka’bah, dan yang di Madinah di Movenpick, NO AZIZIYAH apartment. Saya juga baru ngeh aziziyah apartment ini adalah apartemen penduduk Makkah yang bisa disewa selama musim haji (tentu dengan harga yang lebih murah dari hotel). Resiko di Aziziyah, kita akan sering packing dan unpacking, yang membuat lelah jamaah. Kalau di hotel, apalagi yang paling dekat dengan Ka’bah, kelelahan itu bisa dikurangi. Email saya juga berbalas cepat dengan customer service yang bukan orang India atau Pakistan sepertinya (namanya Hesham Jones), dan Inggrisnya oke. Selain itu mereka tidak terbang langsung ke Jeddah tapi berhenti semalam di Kolombo, Srilanka untuk istirahat di hotel di Srilanka yang juga ditanggung travel. Lalu akan ada kelas haji (4 kali sebelum berangkat), lunch provided, dengan shekh lulusan Makkah (katanya). Yang termahal ya hotel itu yang mencapai 41 juta untuk 10 hari di Mekkah dan 9 hari di Medinah. Itu pun kami tidak bertahan selama itu di Madinah, hanya 2 hari, kami kembali bertolak ke Auckland (with extra charge hehe). Dan akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, bismillahirrahmaannirrahiim, kami memutuskan melaksanakan perjalanan ini melalui travel B. Lebih mahal 10 jutaan, tapi lebih terjamin akan diurusi (sepertinya) hehe.



Dan saat kami menerima bukti pembayaran via email tersebut hari ini, rasanya ajaib sekali. Rasanya tidak mungkin kami mampu (dengan saya yang cuma kerja serabutan sana sini dan RC yang cuma guru TK di Auckland), tapi Alhamdulillah. Apalagi mengingat betapa tidak punya nya saya saat tiba di Auckland. Benar benar mampu menguras air mata.

There you go. I tell you the story. Perjuangan kami masih jauh untuk trip ini. Meski sudah di konfirm konsulat, saya masih ketar ketir dengan status student visa saya melamar haji. Tapi semuanya sudah Digariskan Allah SWT. Kita ini hanya menjalani saja. Setidaknya satu lagi pengalaman saya bertambah, tahu seluk beluk bagaimana orang pergi haji dari luar negeri. Doakan perjuangan kami untuk nazar besar ini yah. Amiin. Semoga bermanfaat, amin. 

Monday, 30 April 2018

Selamat menempuh ujian nasional, Najwa


Dear Najwa,

Berdasarkan info di internet, aku tahu bahwa tanggal 3-5 Mei nanti kau akan menjalani salah satu tes yang serius dalam hidupmu, USBN kalau dulu di zamanku namanya EBTANAS. Ujian Nasional intinya. Aku tahu mungkin saat ini kau pasti sedang mempersiapkan diri. Kau pasti sedang gugup, takut tidak bisa mengerjakan soal. Dan aku, seperti biasa hanya bisa mendoakanmu disini.

Aku juga tahu kau tak seberuntung anak anak lain yang dilepas oleh ibu mereka di gerbang sekolah, yang mungkin disiapkan bekalnya di hari hari ujian nasional lalu mereka masih bisa berbalik dan melihat ibu ibu mereka tersenyum dan berkata “kamu pasti bisa”. Kau tak seberuntung itu anakku, aku tahu itu. Dan situasi bertambah sulit karena nenek pun sudah meninggal dan tidak bisa lagi menemuimu di sekolah lalu menghubungkanmu denganku disini. Bahkan jika pun aku di tanah air saat ini, hanya tinggal hitungan hari kau akan pindah ke sekolah dimana aku tak bisa lagi menemuimu dan sama seperti halnya saat ini, kita hanya akan terhubung dengan doa. Aku tahu kau tak seberuntung anak anak lain itu. Saat ini dengan kekuatan anak anak mu, kau berusaha tegar dan menjalani ujian nasional itu. Dan mungkin karena itu tadi malam aku bermimpi kau mengejar, memelukku dan berkata “I miss you”. So kupikir hari ini aku harus menulis ini untukmu.

Melalui tulisan ini aku hanya ingin bercerita bagaimana aku melewati ujian nasionalku. Terus terang aku jauh lebih beruntung darimu, nenek dulu sangat memperhatikan dan mendoakan, meski tidak menuntut harus berhasil. Kau harus tahu bahwa ibumu ini tidak pernah dituntut harus berhasil oleh nenek. Malah nenek marah kalau aku ini belajarnya kelewatan hehe. Apalagi dulu itu sekolahku kebakaran tepat beberapa bulan sebelum Ebtanas. Akhirnya aku harus belajar numpang di sekolah lain, salah satunya aku pernah ikut belajar Matematika di sekolahmu sekarang, karena guru Matematika yang melatih kami dulu guru Matematika di SD mu sekarang. Waktu itu, ibumu yang pemalu ini mulailah berbaur dengan anak anak lain yang menurut pandanganku dulu JAUH LEBIH KAYA, JAUH LEBIH PINTAR, JAUH LEBIH HEBAT, JAUH LEBIH BERUNTUNG.  

Oh aku juga lupa, justru di hari Ebtanas itu nenek dengan kai berangkat naik haji. Jadi basically, aku pun ujian Ebtanas tanpa kai dengan nenek. Aku belajar dari buku dan kau pasti tahu betapa gilanya aku belajar. Dan mulailah aku mengerjakan ujian itu. Dan di luar dugaan, nilai ibumu ini meraih nilai tertinggi. Jadi anakku, tidak penting seberapa fasilitas yang kita punya, yang harus kita miliki itu adalah SEMANGAT pantang menyerah. Biarpun sekolahku dulu kebakaran, aku tak punya buku selengkap anak anak lain, bahkan percayalah anakku, S3 ku disini pun ku rintis dari sebuah kamar kos, dengan buku TOEFL pinjaman dari kawan, dengan dana yag dikumpulkan dari sana sini. Jadi sebanyak apapun fasilitas yang kita punya, tentu menyenangkan kalau kita punya semua itu, tapi itu tidak menjadi faktor penentu keberhasilan anakku. Ada banyak anak anak yang dimanjakan dengan fasilitas tapi akhirnya jadi terlena. Dan ada banyak juga anak anak yang tidak memiliki fasilitas tapi bisa berhasil dalam banyak hal. 

Tapi kau tak perlu khawatir anakku. Seperti halnya nenek, aku takkan pernah menuntutmu untuk jadi nomer satu. Yang penting terus berusaha, tetap pantang menyerah, dan JUJUR itu yang penting. Apapun hasil yang kau dapatkan, aku yakin itu adalah yang terbaik. Terus terang aku bukan ibu yang ingin kau meraih apa yang ku raih. Aku yakin kau pasti memiliki jalanmu sendiri, dan sukses itu tidak didefinisikan dari nilai ujian nasional saja anakku. Ada banyak orang jenius yang malah tidak berhasil di sekolah tapi malah menciptakan sesuatu yang luar biasa. Albert Einstein contohnya. Jadi, kau tak perlu khawatir dengan ujian ini. Tentu kau harus belajar, harus berdoa, tetap berusaha, itu pasti. Lalu kerjakan soal itu dengan hati hati, teliti, penuh pemikiran, tapi kau tak perlu khawatir dengan hasilnya. Hidup ini terlalu singkat kalau selalu kita isi dengan kekhawatiran.

So be happy, Najwa. Tetap semangat. Aku tahu aku takkan tahu berapa hasil USBN yang akan kau dapatkan, dan setelah ini kau akan dipindahkan ke sekolah dimana aku tak bisa lagi menemuimu di sekolah, tapi percayalah, jauh disini aku terus mendoakanmu, menitipkanmu bukan pada manusia, tapi pada Ia yang Memiliki seluruh alam semesta ini. Aku yakin doa doa panjangku ini akan sampai padamu dan kau pasti merasakan itu. Pada saat-Nya, pada saat qadar takdir perpisahan ini terpenuhi, pada saat yang sudah Ditulis Allah di Lauhul Mahfuz itu nanti, kita akan bertemu lagi. Mungkin kau akan kuliah di New Zealand, mungkin kita akan berlibur bersama di Auckland, aku sangat yakin, suatu saat Allah akan Kumpulkan kita lagi. Aku tidak menitipkanmu pada manusia, anakku, aku menitipkanmu pada Allah. Dan itu adalah buhul yang amat kuat.

Dan itu juga yang harus kau coba lakukan. Berusahalah anakku, tapi pada saat yang sama, serahkan semua hasil usahamu pada Allah SWT. Kita ini cuma manusia, kita cuma bisa berusaha, yang berhak menentukan hasil usaha kita itu Allah SWT. Dan jangan khawatir, sukses itu tidak hanya di sekolah saja anakku. Ibumu ini sudah bertemu banyak manusia sukses dan tidak semua dari mereka berasal dari sekolah. Kau bisa jadi apapun yang kau bahagia lakukan. Bahagia, itu saja yang kuharapkan akan kau lakukan dalam hidupmu. Do what makes you happy, anakku.

Good luck dengan ujian nasionalmu. Aku pun disini masih terus bergulat dengan perjuangan PhDku. Mari saling memanjat gunung pencapaian, anakku. Pada saat-Nya, kita bisa membangun jembatan dari puncak mu atau dari puncakku, dan kita akan bertemu.
Meanwhile, biar doa yang menyatukan kita. Alhamdulillah, kita masih berada di bawah langit yang sama, anakku.
Semoga berhasil, aku selalu mendoakanmu. You are always in my thoughts and in my prayer. Always.

Auckland, 1 Mei 2018,
-Me-



Thursday, 26 April 2018

What a marriage life! Catatan Mrs. Church


Dear life.
Saat ini kau menempatkanku pada keadaan yang sangat tenang, keadaan penuh cinta. Kadang kadang aku pun tak percaya kini aku memiliki seseorang yang luar biasa romantis dan menyayangiku sepenuh hatinya. Well, aku sudah terbiasa dikecewakan, so saat aku menerimanya pun aku berpikir mungkin ia akan berubah begitu pernikahan dimulai. Tapi ternyata aku salah. Apa yang kurasakan saat ini penuh dengan ketenangan, kebahagiaan.

Tawa. Itu yang banyak kudapati di pernikahan ini. Ia begitu mudah membuatku tertawa, bahkan tersenyum sendiri ingat betapa banyak kalimat gombalnya yang selalu ia katakana sebagai FAKTA itu mampu membuatku tersenyum sinting sendirian. Seperti tadi malam, seperti biasa aku ke wc sekitar jam 4. Begitu aku kembali, area tidurku sudah ditempatinya. Lalu aku bertanya dengan suara manjaku “honey, my space naaah”. Dan ia pun berkata diantara tidurnya “I was looking for you, darling. The bed is not the same without you”. Atau “I am warming the bed for you, darling. So you won’t be cold when you come back to my arms”. OMG, siapa yang tidak senyum sinting mendengar kalimat seperti itu, meskipun mungkin itu gombal hehe. But it works.

Sebelumnya ia memeluk sebelum kami tidur dan berkata “I can’t get sick of your body. It is so nice, I love you, my darling”. Kalimat yang juga bikin meleleh. Kali lain ia berkata “your skin is so nice, darling, so smooth”.  Can you believe that? Saya yang cuma item kelas bawah kalau di Indonesia ini tiba tiba jadi item SO NICE oleh seorang bule di Auckland hahaha. Well, life is full of surprises sometimes.

Sore ini saat ia tiba di rumah, saya seperti biasa, menghambur ke pelukannya. Lalu kami saling melepas rindu setelah hamper 8 jam tidak bertemu. Setelah itu, seperti biasa saya membuatkannya lemon drink. Lalu setengah menggoda bilang “I will spit (meludah) on your lemon drink”. Dan ia berkata “oh please, darling, isn’t when we kiss you always give your saliva to me? And I LOVE it!”. Nah kalimat itu bikin saya mesem mesem lagi saat ini haha.

Not to mention sepanjang malam kami selalu bersentuhan, skin to skin contact. Dan it feels amazing. Awalnya saya agak kikuk karena terus terang saya belum pernah sleeping naked bahkan meskipun dulu saat saya single, apalagi ini berdua hahaha. Then one night I tried. Dan itu memang releasing banget dan saya begitu menikmati sentuhan langsung dengan kulitnya. Dan ia mengakui bahwa baru dengan saya ia merasakan begitu nikmatnya skin to skin contact itu.

Hidup kami begitu damai disini. Saya tetap puasa Senin Kamis, setiap Sabtu ia akan membawakan makanan take away, lalu Minggu malam ia akan mengajak saya berkencan. Ini lain lagi. Di jalan saat berkencan itu, ia akan selalu menggenggam tangan saya. Kadang tiba tiba nge kiss in public as di Auckland semua orang biasa saja melihat a couple kissing. Lalu di restoran ia akan membukakan kursi, membuka jaket saya, lalu di tengah makan atau memesan menu, ia akan menatap saya lalu bilang “wow”. Kadang ia sampai berdiri dari sisi mejanya hanya untuk memberikan a kiss on my lips. Senang diperlakukan seperti itu, dan kadang ada saja saya lihat pengunjung lain yang senyum senyum melihat kami.

Kamar kami selalu penuh dengan wangi bunga yang ia hadiahkan dua kali sebulan. Bunga tanggal 11 karena saya lahir tanggal itu dan bunga tanggal 22 karena itu tanggal kami bertemu. Saya benar benar dimanjakan oleh romansa seorang bule yang gentle dan selalu ingin doing right termasuk dalam memperlakukan wanitanya. Dan ia selalu menyebut saya sebagai “the gift from Allah”. Huah, senangnya! Saya merasa sangat berarti!

Dan amazingly, ia tak pernah mau jauh dari saya (padahal belum di pelet itu hahaha). Saat makan ia akan menyentuh kaki saya. Saat nonton tivi, ia akan memangku saya. Saat tidur, ia akan memeluk saya, bahkan saat ke toilet ia akan mencari saya di antara tidurnya. Bahkan di tengah menulis ini, sudah beberapa kali saya berhenti sejenak karena ia datang dari meja belajarnya dan memberikan kecupan atau pun hanya sekedar belaian di rambut saya sambil bertanya “how is it going, darling?”

Sungguh suatu kenikmatan tiada tara. Bersandar di bahunya, tidur di atas dadanya, terasa sekali sekarang saya dilindungi olehnya. Hingga kadang saya takut ia Diambil Allah lebih cepat dari saya. I really don’t know how to continue my life without him by my side. Dan saya ini sesungguhnya penyendiri kelas tinggi. Jika saya sudah begitu tergantung dengannya seperti saat ini, maka lelaki ini pasti luar biasa dalam melekatkan dirinya dengan saya (pakai lem super kayaknya) sehingga ia bisa meruntuhkan pertahanan saya yang tidak ingin terlalu dekat dengan manusia karena saya takut tersakiti.

Did I tell you bahwa setiap pagi juga ia akan menggendong saya ke toilet? Ini karena saya pernah bercanda “can you pee for me, darling?” hahaha. Dan ia benar benar melaksanakannya. Ia berjanji karena saya terlalu malas berjalan ke wc, ia akan menggendong saya setiap pagi. I think it was cuma gombal, but nope, he does it, every morning.

Dan malam ini, saya melihat foto lamanya ini. I can’t believe lelaki dengan bibir setipis ini bisa jatuh cinta pada saya yang biasa biasa ini hahaha. Mau menunggu saya menuntaskan urusan saya dengan masa lalu, bahkan berkenan membayar pengacara, lalu begitu saya tiba di Auckland, ia menikahi saya dengan dua hukum sekaligus, Islam dan Internasional.

And he is amazingly playful on bed. Mungkin karena bule hahaha jadi permainannya lebih canggih hahaha. Kadang saya merasa seperti Anna dalam Fifty Shades of Grey. Gileee perlengkapannya canggih haha, bahkan ia sering bercanda ia “hafal” anatomi tubuh saya hahahah. Amazing husband.
Belum lagi, karena ia bule, ia begitu rajin dan disiplin. Kadang saya terharu saat bangun ia sedang membersihkan dapur, atau toilet atau nge vakum saat minggu pagi. Oh ya, ia juga selalu memasak makanannya sendiri dan tugas saya Cuma bikini sandwich yang tinggal oles mentega itu lalu diisi ma keju, selesai hehe. Simple banget itu pun terima kasihnya luar biasa. Whoa, benar benar lelaki baik hati!

Bahagia. Itu mungkin yang bisa saya ungkapkan. Pernikahan ini begitu menyenangkan. Begitu menyenangkan. Alhamdulillah Allah Memberi saya kesempatan kedua. A descent one. 

Auckland, 26 April 2018
A very happy wife,

-Mrs. Church-


Friday, 6 April 2018

Lemon and lemonade of life: A Cinderella Story

Life is not always a sugar sweet. Sometimes it gives you the sour of lemon. And when that time comes, make a LEMONADE!
Sebelum membaca ini, saya harus peringatkan bahwa yang Anda baca bukan a fairy tale, bukan cerita di dongeng sebelum tidur, poin poin yang akan Anda baca disini adalah A REAL LIFE story. Sehingga, I am brave to say that YOU CAN DO IT TOO! Anda akan membaca berbagai lemon hidup yang saya temui dalam hidup and how I turn it into A GLASSFULL of LEMONADE!
Setiap wanita berhak akan A CINDRELLA STORY. Make your own. TODAY.

When life gives you lemon, make a lemonade. Because every woman deserves a happily ever after




Lemon 1: PERPISAHAN DAN KEHILANGAN 
Lemon pertama yang diberikan hidup adalah perpisahan dengan anak perempuan saya satu satunya. Lelaki yang saya abdi selama bertahun tahun memutuskan untuk memisahkan saya dengan anak saya. Awalnya karena saya meminta berpisah dengan baik baik, namun well, life gives me this. Saya dipisahkan dengan satu satunya anak yang saya lahirkan. Tidak hanya itu, saya hampir tak punya apa apa saat perpisahan terjadi. Jadi life gives me 2 lemons sekaligus: PERPISAHAN DAN KEHILANGAN.
My lemonade: anak terus saya doakan, karena saya percaya DOA itu adalah energi. Dan bagaimana pun saya dipisahkan, energi doa itu akan terus sampai pada ia yang saya doakan. Untuk kehilangan banyak hal dalam hidup dan hampir tak punya apa apa, saya bawa dengan ikhlas dan syukur. Day by day, saya membangun hidup saya kembali. Sendiri, but I am at peace.

Lemon 2: FINANCIAL HARDSHIP 
Perpisahan tentu juga berujung pada kesulitan ekonomi. Saya masih ingat di awal awal perpisahan, saya harus pinjam uang hanya untuk supaya bisa bayar kos (karena saya tidak suka kembali hidup dengan orang tua saya, I chose to be independent). Saya masih ingat hari hari saat saya menangis di pojok kamar kos, berteman dua kantong plastik baju yang sempat saya bawa. Waktu itu saya cuma bisa menangis dan berbisik "mampukah saya, mampukah saya". Tiba tiba saya sendirian, anak hilang, harta hilang, wuih serasa kiamat sugra saat itu. Belum lagi tekanan masyarakat akan status saya. Masih ingat ditolak seorang Ibu kos begitu tahu saya "janda". Beliau dengan sinis berkata "cuma menerima wanita yg belum menikah atau yg berkeluarga". Can you imagine that?
How did I make it into a lemonade? Saya melamar beasiswa. Hitungan saya jika saya berangkat sekolah dengan beasiswa, tabungan saya di tanah air akan bertambah karena gaji (saya tetap dibayar tugas belajar saat sekolah), dan saya masih bisa hidup dari beasiswa. Saya lulus beasiswa master, lalu sekarang saya di beasiswa PhD. Sebelum ini pun, saat saya dihantam kesulitan eknomi di tanah air, saya bekerja di dua tempat. Pagi saya mengajar di kantor A, sore hingga malam saya mengajar di kursus (karena di kantor saya tidak banyak yang memberi saya kesempatan karena status saya). Dengan kerja di dua tempat inilah, saya berhasil membiayai persiapan beasiswa saya. Saya lulus beasiswa master dan kini sedang menempuh PhD saya.

Lemon 3: EDUCATION HARDSHIP 
Tidak selalu usaha saya berhasil. Ada saja batu sandungan yang membuat saya harus putar otak. Waktu saya menempuh master of science, saya keluar masuk rumah sakit karena sering ingat anak dan tak bisa makan. Saya bahkan di diagnosa kena bullimia oleh dokter, karena saya selalu muntah setelah makan, ingat anak saya. Betapa sintingnya saya dengan mental seguncang itu, saya memutuskan untuk sekolah lagi. Tapi I did it! Di tengah kesulitan dan goncangan mental itu, saya lulus master ON TIME. Dan itu master kedua yang saya genggam.
Awal saya tiba di negara ini (I am now in New Zealand), PhD saya hampir karam. Saya pun di diagnosa dokter terkena depresi berat. Saya hampir bunuh diri di kamar saya di Auckland. Saya pikir sudah jauh jauh saya berjuang, mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk PhD, lha kok malah karam?
How did I change it into a lemonade? Saya ikut kelas depresi. Dan itu menguatkan saya. Saya diajari untuk ikut arus depresi, membiarkannya membawa saya tenggelam, tidak melawan, karena itu akan bikin tmabh frustasi, lalu turn around, berputar dan berenang ke permukaan. And I DID it! Di tengah kepala depresi itu, saya menulis proposal ke education, saya MEMINDAHKAN PhD saya di luar negeri! Saya ikut interview dengan beberapa supervisor, dan akhirnya YAY! PhD saya berhasil dipindahkan. Saya juga me lobby imigrasi dan beasiswa, agar tetap mau me sponsori saya. Dan semua berhasil. PhD saya berhasil pindah, saya sekarang sudah menjadi doktoral kandidat dan bahkan way better, begitu saya pindah, saya DIKONTRAK oleh universitas terbesar di New Zealand.
Kena depresi tidak membuat saya patah. Setelah depresi, saya tidak hanya berenang ke permukaan, saya MELOMPAT tinggi ke angkasa!

Lemon 4: LOVE HARDSHIP 
Ingat Reese Witherspoon dalam film Sweet Home Alabama? Ceritanya tentang cewek yang sukses dan dilamar seorang lelaki tapi surat cerainya belum selesai. Yep, itulah saya. Karena tak punya uang, saya tak mampu menuntaskan surat cerai saya. Lebih parah lagi, karena saya sekolah ke luar negeri, saya tidak punya waktu untuk menuntaskan itu. Kasus saya sudah pernah saya daftarkan dan dengan sisa uang tabungan saat itu, saya menyewa pengacara. Tapi well, kasus saya digagalkan pengadilan karena saya dianggap gagal hadir di persidangan meski sudah diwakili pengacara. Saya mencoba cara lain, meminta mantan saya yang mendaftarkan gugatan, tapi tetap well, he won't help. Akhirnya saya tidak punya uang lagi untuk menuntaskan kasus saya dan membiarkan diri saya ini TERKATUNG KATUNG tanpa status. Menurut agama sudah bercerai, tapi menurut negara belum. Menikah status, tapi tak dihiraukan suami. Harta diambil, anak diambil. Saya sendiri, berusaha mengatasi kesulitan hidup. Lima tahun saya hidup tanpa surat cerai dan tidak jelas status.
Hingga saya berhasil melulusi proposal PhD saya dan diberi waktu 3 bulan untuk ambil data ke tanah air. Saat itulah dengan uang tabungan saya bekerja di luar negeri, saya menyewa pengacara lagi. Saya berpacu dengan waktu agar surat cerai saya tuntas dalam waktu 12 minggu. Saya juga harus meyakinkan hakim bahwa perpisahan ini sudah terjadi sejak 5 tahun yang lalu, tapi saya ditelantarkan tanpa surat oleh mantan saya. Dan saya BERHASIL! Surat cerai saya selesai dalam waktu 9 minggu, Proses pengambilan data saya sukses, dan saya akhirnya BERHASIL membeli harga diri saya!

My Lemonade: A HOUSE OF MY OWN
Saat saya berpisah, rumah milik keluarga saya direbut oleh mantan suami. Jangankan itu, ijazah saya pun hampir tidak dikembalikan oleh mantan. Pelajaran untuk siapa pun yang berniat menikah: amankan surat surat pribadi, you will never know when things go wrong.
Anyway, saat saya berangkat untuk PhD, saya sampai jual motor cuma supaya ada uang tambahan buat tiket pesawat. Lalu saat itu pun, status saya masih anak kos, dan masih luntang lantung nyari duit sana sini. Pas baru tiba di negara ini pun, saya sampai harus menahan lapar dan makan cuma roti karena gak mampu beli ayam selama berhari hari sebelum uang beasiswa saya tiba.
Dan a year after that, saya berhasil membeli rumah di tanah air. Cukup signifikan, meski cuma rumah sederhana, karena setelah financial hardship itu, saya berhasil membeli rumah CASH. This is what I call as my house goal. Saat saya pulang ke tanah air kemarin, saya menuntaskan urusan surat cerai saya, membeli rumah dan menuntaskan pengumpulan data saya. All in 9 weeks!

Next Lemonade: LOVE 
Ada banyak lemonade yang terjadi justru saat saya di titik nadir depresi. Saat itu saya dilamar oleh seorang bule muslim (persis seperti yang saya doakan ke Tuhan). Saya termasuk yang tidak bermimpi punya pasangan bule karena concern dengan perbedaan keyakinan dan budaya. Sebutlah saya wanita konservatif yang sadar diri bahwa saya tidak punya apa apa yang bisa menarik hati bule. Wajah pas pasan, penampilan apa lagi, modern pun tidak. Saya ini cuma wanita biasa yang senang di rumah, belajar, memasak, dengar musik, itu hobby saya.
Well then justru saat saya kena depresi, saat PD itu sangat tipis sekali saya dilamar olehnya di puncak SKY TOWER. With a DIAMOND. Can you beleve that? Mimpi pun tidak bakal punya a diamond, ini saya justru dilamar di puncak tower tertinggi di southern hemisphere! Setelah dihujat oleh mantan saya bahwa tidak akan ada lagi yang menginginkan saya, seorang bule justru berlutut di hadapan saya mengucapkan "would you marry me?".
Now that is A REAL LEMONADE!

The Greatest Lemonade: A Cinderella Story 
Setelah berhasil membeli harga diri saya dengan mengurus surat perceraian yang tergantung selama 5 tahun itu, saya pun menikah di Auckland. I called this a Cinderella story, karena semua disiapkan penuh dengan kemeriahan oleh tunangan saya. Ia membelikan a bridal shoes dari negara lain, lalu membuatkan saya a custom made veil agar saya bisa tetap pakai jilbab dan tetap berkerudung ala white bride.
Saya juga dijemput limousine dan dibawa terbang naik helikopter setelah perayaan. Yang lebih membahagiakan, setelah 5 tahun jadi wanita tanpa surat, sekarang saya punya DUA surat nikah dari luar negeri. Tunangan saya menikahi saya secara muslim dan tercatat di Muslim Association Auckland, dan secara negara yang tercatat di Internal Affairs New Zealand.
Bagaimana dengan anak saya? Saat ini ia masih kecil tapi saya selalu tekankan padanya untuk menghafal nama belakang saya. By the time she googled me, she will find me. And when she is ready, ia akan saya tuggu dimana pun di dunia ini. Meanwhile, sementara ini saya memeliharanya DALAM DOA. Dan saya yakin Tuhan selalu Melindunginya.
Sekali lagi, hidup itu tidak selalu semanis gula, selalu ada hal yang asem yang bikin kita merem melek menelannya. Tapi percayalah, dengan ikhlas, sabar, dan pantang menyerah, kita bisa membuat keaseman hidup itu menjadi sesuatu yang masih bisa dibuat senyum. I am not a Cinderella, definitely not. I make my own Cinderella story. And if I can, you can do it too!


Friday, 23 March 2018

How about A Cinderella Story, Najwa?

Dear Najwa.

Let me read you a Cinderella story.

Back in 2005, hiduplah seorang perempuan. Ia penakut, punya mimpi besar, tapi tak pernah punya cukup kepercayaan diri untuk mewujudkannya. Ia sering sakit, ia sadar dirinya jelek dan tidak menarik, gendut, hitam, intinya ia menganggap dirinya tidak pantas berharap besar. Di Agustus 2005, ia memilih menikah dengan seorang laki-laki sederhana. Padahal saat itu, lamarannya ke sebuah universitas di Amerika sudah lulus. Ia berkorban untuk lelaki itu, karena ia pikir semoga nanti setelah menikah, ia bisa sekolah lagi. Si lelaki bahkan tak mau memundurkan tanggal pernikahan demi menunggu kawan baik si perempuan dari Amerika, padahal itu sangat berarti baginya. Ia mengalah. Ia menurut. Dengan harapan ia akan mendapat kasih sayang, cinta, penghargaan, atas seluruh pengorbanannya.

Ternyata tidak. Ia banyak sekali kecewa, menangis, tersakiti, hingga akhirnya ia pergi. Si lelaki marah dan merebut semua yang ia punya, termasuk putri kecilnya, yg sekarang mungkin sedang membaca tulisan ini. Perempuan itu awalnya penakut, sering sakit, tidak percaya diri, apalagi habis melahirkan putri kecilnya, ia sering sakit perut. Lalu tiba tiba ia kehilangan semuanya. Bahkan untuk mengambil ijazah sekolahnya saja, ia harus berjuang.

Setelah itu, ia mengembara ke India. Ia sekolah menyelesaikan master keduanya. Sering ia menangis sendirian di India, ingat putri kecilnya yang tak lagi ia tahu kabarnya. Ia sempat masuk rumah sakit di India karena tidak bisa makan. Setiap kali ia memasak, ia ingat betapa putri kecilnya senang sekali dengan masakannya lalu ia mual dan muntah hingga tak ada satu pun makanan yang bisa masuk ke perutnya. Ia juga tak lagi bisa makan KFC, karena ingat putrinya selalu bilang "makan SIP" untuk istilah makan KFC yang mungkin menurut anak kecil itu LEZAT SEKALI. Ia juga tak bisa makan oseng hati ayam karena setiap kali memasak ia ingat anak kecil itu selalu bilang ini masakan "love" karena hati itu simbolnya love. Ia juga sering mengigau malam mendengar si anak kecil berteriak "MAAA SUDAAAH" sebagai tanda ia selesai buang air besar karena selalu si perempuan itu yg mencuci anak kecil itu sebagai bagian dari pengabdiannya di rumah. Lalu seringkali ia berlari ke wc di rumahnya di India dan saat menemukan wc itu kosong, ia menangis berjam jam di depannya, menangisi kenapa ia tak bisa lagi mendengar kabar anak kecil itu. Kau pasti tahu siapa anak kecil itu, Najwa.

Akhirnya ia sadar, jika ia terus tidak makan, ia akan mati dan sekolahnya tak pernah selesai. Ia dirawat orang orang yang ia kenal di India dan salah seorang wanita Muslim dari Yaman berkata padanya suatu hari. "Make dua, dua is the power of a Muslim" yang artinya "berdoa lah, doa itu kekuatan orang Muslim". Sejak saat itu, ia menjadikan DOA sebagai kekuatannya. Ia akhirnya lulus dan pulang ke tanah airnya.

Cobaan belum berakhir. Gajinya dipotong karena ia dinyatakan berhutang dengan negara. Ia kerja keras banting tulang menghidupi hidup sendirinya. Ia hidup sederhana di sebuah kamar kos di jalan Pramuka. Kadang ia kelaparan, kadang ia pulang kebanjiran, namun ia tetap ceria dengan hidupnya. Sesekali ia menemui anak kecil itu di sekolahnya. Meski harus memacu motornya kesana kemari di sela sela jadwal mencari nafkahnya. Ia sudah tak ingin berebut lagi dengan lelaki itu. Ia ikhlaskan semua barang barangnya yang tertinggal di rumah itu. Yang paling menyesakkan hingga saat ini adalah BUKU. Ia sedih sekali semua buku bukunya tidak terbawa dari rumah itu dan kini mungkin sudah entah dimana.

Dan ia berangkat ke New Zealand. Tiga minggu setelah tiba di NZ, ia bertemu seorang lelaki. Ketemunya juga lucu. Ia sudah hampir kehabisan uang dan cuma bisa memasak roti dengan telur saja karena uang beasiswanya belum tiba. Lalu ia berdoa minta ayam pada Allah SWT. Kamis sore ia memasak di dapur bersama dan bertemu seorang lelaki botak yang bertanya namanya. Ia tak pernah berharap apa apa dengan lelaki itu, karena ia tahu, susah baginya untuk percaya siapa siapa lagi. Ia hanya berniat satu hal di NZ: SEKOLAH.

Hidupnya di NZ bertambah baik. Ia dikontrak universitas tempat sekolahnya dengan bayaran tinggi. Kadang ia masih meneteskan air mata ingat bagaimana dulu di tanah air ia berusaha mencari kerjaan namun tidak berhasil dan ia akhirnya dapat pekerjaan di kursus bahasa inggris. Betapa perih dan susahnya hidupnya dulu.

Mungkin kita harus sedikit berhenti sejenak, Najwa, mari kita melihat bagaimana perubahan dirinya sejak tahn 2005 hingga sekarang, 2018. Foto kiri adalah ia saat masih penakut, masih tidak percaya diri dan kanan saat ia sudah tumbuh menjadi jauh lebih kuat, di New Zealand. Lihat bedanya anakku? Yang kiri, ia sering sedih, sering sakit hati, seringkali dikecewakan. Mungkin kau sempat melihat beberapa air matanya jatuh saat itu. Padahal ia tak meminta banyak dalam hidupnya, namun tetap, ia dikecewakan. Tapi lihatlah yang kanan, anakku. Ia berubah menjadi lebih ceria, lebih sehat, lebih bahagia, meski ia hampir tak punya apa apa. Ia juag terus menjadikan doa sebagai senjatanya. Dan ia benar-benar merasakan bahwa hanya DOA yang terus bisa menolong kita, dalam setiap keadaan. Just like Cinderella, ia berubah dari ia yang penakut menjdi ia yang penuh percaya diri.


Karena ini cerita Cinderella, maka harus ada juga pangerannya. Dan itu yang terjadi dua minggu ini, anakku. Sesuatu lebih besar terjadi pada dirinya dua minggu ini. Setelah berjuang cukup panjang, akhirnya si perempuan yang dulu penakut itu menikah dengan lelaki botak yang ia temui di dapur bersama 3 tahun yang lalu. Laki laki baik yang mau menunggunya, setia menemaninya dan berhasil menyembuhkan luka di hatinya. Ia didandani bak putri raja, dijemput dengan limousine lalu dibawa terbang dengan helikopter. Karena ini cerita Cinderella, maka ia juga harus punya sepatu yang cantik, tentu saja. Dan si lelaki pun memesankan ia sepatu jauuuh dari negeri Inggris sana. Ia pun tampil cantik di hari bahagianya. 

Ini foto Cinderella itu di depan Viaduct Harbor, tempat yang dulu fotonya ia lihat di ruang kelas di EF, tempatnya mengajar dulu. Dulu di tahun 2014, ia mengusap foto ini di kursus tempatnya mengajar, anakku. 4 tahun kemudian, ia berfoto di tempat yang sama. 

Hal yang harus diambil dari kisah ini, anakku, adalah bahwa setiap kita harus berjuang untuk kebahagiaan hidup kita. Kita tak bisa meletakkan kebahagiaan kita di pundak orang lain, itu tugas yang amat berat. Kita tidak tahu bagaimana hidup kita ke depan, tapi kita harus selalu berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan. Jika si wanita itu tidak berjuang hidup, jika ia tetap tidak mau makan saat di India, jika ia tetap bersedih, maka hidupnya juga akan begitu begitu saja. Tapi tidak, anakku, ia berjuang di luar negeri, pontang panting mengumpulkan dollar demi dollar, siang ia bekerja, malam ia belajar, begitu pun saat ia di tanah air, ia berjuang kerja pagi di kampus, lalu malam di kursus, supaya semuanya bisa tercukupi. Dan kini, hasil perjuangannya sudah mulai terlihat. Ia mendulang bahagia dalam hdupnya. Menjadi Cinderella itu tidak instan, Cinderella itu harus diperjuangkan. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Kau juga akan jadi Cinderella suatu saat nanti. 

Tetaplah jadi orang baik, anakku, bagaimana pun hidup memperlakukan kita. Tetap jadi orang yang ramah, kuat, tidak suka menyakiti orang lain, tetap ceria, percaya dengan kuasa Allah dan jadikan doa sebagai senjata kita. 

Salam dari kami berdua di Auckland. Remember, you are always welcome to New Zealand. You have a family here. 

Be a Cinderella, anakku. Ubah kemalangan hidup menjadi kegemilangan. Doaku selalu untukmu. 

Auckland, 24 Maret 2018,

-ME-


Saturday, 27 January 2018

Hi Najwa, how are you there?

Hi Najwa, how are you there? 

Mama baik aja disini. Perutnya masih kadang dangdutan hehe awa tau kelo kalau Mama sering sakit perut heheh. Tapi Mama sudah ke dokter, terus disuruh ke lab juga, periksa, dan seperti Mama bilang di Samarinda, semuanya GRATIS! Padahal biaya labnya itu wa hampir 2 juta kalau uang kita Indonesia, terus dokternya juga, tapi semuanya dibayarkan asuransi, alhamdulillah! Makanya Mama bilang kan, Mama harus segera kembali ke New Zealand karena disini semua biaya obat Mama dibayarkan asuransi.

Other than that, ya Mama kerja. Tiga hari seminggu. Sehari itu gajinya guede Wa hehe. Mama kerja Rabu Kamis Jumat aja dapatnya 5 juta uang kita Wa hehehe. Makanya disini hidup Mama jauh lebih baik lah alhamdulillah. Selain itu ya Mama belajar kalau malam, terus hari Sabtu Minggu Mama full belajar sambil pacaran dengan si botak hehe. Kemarin kami makan di restoran Turki baru shopping. Si botak mau nonton konser tapi Mama ndak ikut jadi dia pergi dengan keluarganya yang lain hari ini, jadi Mama belajar aja hari ini. Masih banyak yang harus Mama ketik, nanti Mama dimarahi supervisor hehe. Jadi kerjaan Mama tu ya kerja kalau siang, malam belajar, Sabtu Minggu belajar sambil jalan jalan kalau si botak ada waktu.

Di Auckland lagi summer Wa. Puanasss, tapi karena perut Mama masih belum stabil, Mama masih ai kedinginan hahaha. Jadi mama pakai baju belapis lapis padahal buat orang sini sdh ndak dingin lagi, tapi buat Mama masih belum panas. Jadi kalau Mama pakai sweater suka dilihatin bule bule terus dibilangin “are you serious, Nurul?” Hehehe tapi Mama bilang aja kalau badan Mama terbiasa dengan suhu Indonesia makanya masih perlu waktu beradaptasi dengan suhu di NZ.

Awa apa kabar? Sudah sibuk try out dan persiapan UAN kah ya? Awa harus terus rajin belajar ya Wa dan juga harus terus berusaha belajar Bahasa Inggris. Awa pasti bisa. Mama ndak pernah disekolahkan Nenek sekolah Bahasa Inggris tapi Mama belajar sendiri. Kadang Mama sering ngomong sendiri dulu tu waktu kecil karena Kai Nenek dengan Bu Ati ndak ada yang bisa ngomong Bahasa Inggris dengan Mama hehe. Bahkan waktu Awa di dalam perut Mama, kita sering ngomong Bahasa Inggris. Awa itu teman Mama mulai dari dalam perut kita sudah sama sama. Kita tes dosen sama sama, kita kecelakaan pas Mama ke rumah sakit sama sama, bahkan kita jatuh dari plafon rumah Kai dulu jua sama sama. Dan Awa itu anak kuat. Biar Mama jatuh dari plafon itu Awa tetap ndak begerak di perut Mama. Awa Insya Allah jadi orang sukses. Awa harus pintar Bahasa Inggris lalu sekolah ke New Zealand juga. Mama ada disini dan Mama insya Allah buka jalan buat Awa supaya Awa bisa dapat pendidikan dan kenyamanan di negara ini. Tenang aja Wa. Mama Awa ini bukan orang bego, with Allah, I will find a way! Insya Allah. 

Teman teman masih jahat kah Wa? Kalau ada yang jahat biarkan aja. Biar Allah yang Balas. Awa diam aja. Tetap aja belajar, beribadah sama Allah, orang jahat ke kita itu biar Allah yang Balas. Bilang Nenek dulu dengan Mama, kita ndak usah berusaha menang dengan manusia, nanti malah Dikalahkan Allah. Kita merunduk aja, fokus dengan hidup kita, ibadah kita, ndak usah bersaing dengan siapa siapa. Nanti Allah yang Angkat derajat kita. Dan kita harus percaya dengan kuasa Allah, Wa. Allah itu mudah aja hendak Menjadikan sesuatu. Dan Awa harus tetap sangka baik dengan Allah SWT ya Wa. Percaya Allah itu ndak Tidur. Allah Maha Melhat, Allah Maha Tahu. Jadi kalau teman Awa jahat, diam aja. Awa bawa berdoa aja, jangan nangis di depan teman, tapi nangis nya di shalat aja, dengan Allah yang Maha Kuat.

Semua  kado Awa Mama bawa ke Auckland. Ini ada di meja belajar Mama. Kalau Mama lagi kangen Awa pasti Mama usap kadonya, terus baca surat tulisan tangan Awa itu. Terima kasih ya Wa sudah jadi anak baik, anak yang ikhlas dan hati Awa seluas samudera. Semoga Awa selalu sehat, bahagia, terus sekolah Awa Dimudahkan Allah. Hehe, kalau Awa mau SMP ke NZ, bisa aja. Visa S3 Mama bisa bikin sekolah Awa murah disini. Tapi asal Awa berani bilang ke Bapak, Mama tinggal booking tiket dari sini. Awa pasti bisa masuk SMP di NZ sini dan Mama pasti bantu Awa belajar. Tapi kalau Awa ndak berani, ndak papa. I understand. Kadang kita harus mengalah Wa, supaya semuanya damai. Mama yakin dimana pun Awa sekolah pasti tetap berhasil.

Ini Mama fotokan kado Awa dengan pemandangan Auckland siang ini. Puanas hari ini Wa, 29 derajat Auckland hari ini. Mama tapi tetap pakai piyama hahaha. Ok Wa, sampai sini dulu ya cerita Mama. Awa ndak perlu balas. Dan saat Awa bisa google Mama, you will find this. I know you will. Awa itu anak cerdas, kuat, dan tabah. Karakter penting dalam hidup ini.




Rajin belajar, terus jaga shalat, terus percaya dengan Kebaikan Allah ya nak. Mama terus doakan Awa di setiap shalat. You will always in my prayer. Dan kekuatan orang mukmin itu adalah DOA anakku. Itu adalah kekuatan yang tak akan pernah putus! Karena saat kita berpegang pada tali Allah sesunnguhnya kita tengah berpegang pada buhul yang amat kuat. Buhul yang amat kuat. 






I miss you here. A lot!

Auckland, 28 Januari 2018,

-ME-