Friday, 2 October 2015

My PhD Journey, Auckland Day 2

Hello readers.

It is me again with my silly writings. Saya tahu di Indonesia saat ini baru jam setengah enam, mungkin Anda baru ada yang selesai shalat subuh, dan baring baring lagi ya. Saat ini kami di Auckland sudah jam 10.45 pagi hampir jam 11 dan saya makan toast bread lagi. Entah sudah berapa hari saya tidak makan nasi, toast bread ini saya pikir cukup nyaman untuk perut saya yang lumayan "sensitif".

Postingan kali ini masih tentang my Auckland journey. Saya akan bercerita tentang serunya hari kedua saya di Auckland. Sebagai seseorang yg tidak biasa dengan budaya western, terus terang saya kaget dengan perbedaan budaya ini. Well, India is still asia sehingga tidak begitu sulit bagi saya untuk beradaptasi. Minimal, wc ada airnya hehe. Disini juga semua eror akan ada penalty. Jika buang sampah sembarangan, jika lupa kunci kamar, bahkan jika kunci kamar tertinggal di dalam kamar. Ini benar-benar menjadikan saya pribadi yang harus TELITI jika tidak mau tekor selalu bayar denda. Saya harap saya bisa menyesuaikan diri dengan cepat, karena saya ingin fokus mengejar pencapaian akademik, once saya sudah cukup beradaptasi. Semoga, insya Allah.  Metode yang saya terapkan adalah SYUKURI HAL SEKECIL APAPUN.

Hari kedua ini, saya bangun kesiangan. Saya bangun jam 11 30 pagi karena kelelahan menangis semalaman. Saya ingat bahwa saya harus menemui manajer hostel untuk menyelesaikan pembayaran hostel tiga bulan ke depan. Bergegas saya mandi, buat sarapan (yg cuma toast bread) dan berjalan ke kantor manajer. Ada dua orang Indonesia yang sudah saya kenal di building ini, satu mbak Sari, dosen yg berangkat dengan biaya DIKTI dan satu lagi awardee LPDP. Saya bertemu salah satu dari mereka dan well, ternyata mereka semua sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing sehingga tidak ada yang bisa mengantar saya ke city. Jika saya menunggu lagi, tentu itu akan membuat proses daftar ulang saya telat, dan itu juga mengakibatkan pembayaran uang beasiswa menjadi telat. Saya pun berpikir, saya harus BERGERAK sendiri.

Saya shalat zuhur dulu di kamar sebelum berangkat. Awalnya, saya menemui manajer hostel dan membayar kamar untuk 12 minggu ke depan. Saya memilih long stay agar saya bisa dapat internet. Saat ini saya sudah dapat net dengan kuota 2 Gb per week, lumayan, saya bisa mengakses net dengan laptop saya. Selain itu saya mendapat kitchen locker tempat saya bisa menaruh bahan makanan plus alat masak yang saya punya. Alhamdulillah.

Here are some experiences for the smooth second day:
1. Bus Stop (number 277 and 247)

Tempat tinggal saya agak jauh dari bus stop dan saya harus berjalan memanjat sekitar setengah mil. Namanya mount eden village dan memang ada gunung yg indaaah banget di belakang perumahan saya. Saya diberitahu nomer bus dan segera bergegas karena jam telah menunjukkan pukul 2 siang. Saya sebenarnya janjian dengan WNI lain yang tinggal di city, namun karena ia ada kuliah jam 2 30 siang, saya pun tawakkal melangkah sendiri. Supir bis yang pertama agak grumpy. Ia nampak tidak senang saya banyak bertanya. Ah, sudahlah, saya biarkan ia dengan ke grumpy an nya. Ternyata tempat tinggal saya tidak jauh, jika ditempuh bis hanya lima belas menit.

2. The Enrollment (Daftar ulang)
Saya pun turun di clock tower, dan ternganga melihat semua bangunan yang saya lihat di website, sekarang benar-benar ada di hadapan saya. Saya menuju Graduate centre dan daftar ulang. Smooth sekali prosesnya. saya diberi tahu bahwa tahun pertama ini saya masih PhD student dan akan dievaluasi tahun depan untuk menyelesaikan goal goal saya. Ada tiga hal yang harus saya selesaikan ASAP.
a. Doctoral Induction Program: ini seperti program orientasi penerimaan mahasiswa doktoral yang wajib diikuti, ada pilihan sessionnya dan saya diminta booking online. Alhamdulillah, saya sudah punya internet sehingga tidak pelu repot repot mengaksesnya.
b. DELNA assesment, ini seperti English for academic, sama seperti halnya induction day, saya juga harus booking online.
c. ACAD module integrity, ini adalah modul tes akademik yang juga harus saya selesaikan dalam waktu dekat namun baru bisa available by next week.
Smoothly, saya pun terdaftar ulang.

3. International Centre
Saya pun ke gedung belakang graduate centre. Disini saya disambut petugas yang ramah sekali. Saya diberikan enrollment sheet yang bisa digunakan untuk apply living allowance. Bahkan si perempuan memberikan saya city map dan mengajari saya toko hardaware dimana saya bisa mendapat berbagai barang untuk "memulai hidup". Saya sangat berterima kasih dengannya hingga saya memberikan salah satu souvenir yang saya bawa.

4. The Professor.
Nah, ini dia. Waktu telah menunjukkan jam 3.45 saat saya naik ke lantai tujuh tempat dimana beliau berkantor. Saya tidak berharap bisa bertemu beliau karena memang saya berjanji akan menemui beliau minggu depan dan departemen akan tutup jam 4. Beliau juga menyarankan saya untuk istirahat dulu karena saya akan mengalami jet lag. Namun, entahlah, proses yang begitu smooth mengantarkan saya ke building beliau.
Setiap mahasiswa kimia punya akses card sehingga jika saya tidak sama sama dengan mereka yang sudah memiliki akses card, bisa dipastikan saya tidak bisa masuk. Namun, alhamdulillah, saya berbarengan dengan mahasiswa s satu dan saat dia menswipe kartunya, lewatlah saya hehehe.
Saya akhirnya menemukan ruangan beliau. Tapi tidak ada seorang pun disana. Saya bertanya dengan petugas di depan, mereka hanya mengangkat bahu. Saya pun memberanikan diri mendekati pintu dan melihat beliau disana. Sedang mengamati layar monitor. Beliau kaget, mengamati wajah saya, dan saya pun menyebutkan "Sir, it is me, Nurul". Beliau nampak kaget karena memang saya tidak ada janji, tapi segera berubah ramah dan menyebutkan "Ah, it is you, I did not expect to see you today, have a seat, how was the flight, how was the accommodation". Hehe, saya agak kikuk ditanya banyak hal oleh pembimbing.
Saya pun menjawab semua baik baik saja, dan memohon maaf saya belum membawa oleh-oleh untuk beliau karena saya tidak menyangka bisa bertemu beliau kemarin. Beliau menggelengkan kepala, lalu berkata "it doesn't matter". Satu kalimat pujian awal "your English is EXCELLENT". Saya pun hanya bisa berkata "thank you, Sir".

Beliau pun bertanya apa saya sudah punya PhD pack. Saya jawab belum. Beliau pun menyuruh saya duduk dan beliau mengambilkan PhD pack saya ke bawah. Saya hampir tidak percaya bahwa saya menemui orang yang selama setahun ini berkomunikasi dengan saya via email. Beloau ternyata seramah emailnya dan well. nyantai banget sebagai supervisor. Saya beberapa kali merinding. Untuk seoarng yang tidak se jenius yang lain, pengalaman PhD ini adalah luar biasa untuk saya.
Beliau kembali, lalu menunjukkan beberapa hal dalam PhD pack. Dan langsung menawari posisi teaching assistant, sesuatu yang sudah dijanjikan beliau di email. Saya tidak menyangka semua ini akan secepat itu karena saya pikir beliau pasti ingin men tes saya dulu, untuk melihat skill saya. Tapi ternyata tidak, beliau memeprtimbangkan posisi saya sebagai dosen di Indonesia dan menyatakan bahwa pekerjaan teaching aasistant ini sangat well paid dan sangat baik untuk CV saya. Tentu saya setuju. Beliau pun mengisi formulir itu untuk saya. Aneh ya.

Saya pun mengatakan pada beliau saya perlu shalat Ashar. Beliau bertanya apakah saya harus melakukan itu sekarang. Saya jawab mungkin jam 4 30. Dan seperti di email belaiu, beliau memang sangat support dengan apa yang saya percayai. Beliau mengatakan diskusi dengan beliau akan selesai sebelum jam 4.30 untuk memastikan waktu shalat saya tidak terganggu. Setelah itu beliau menunjukkan tempat shalat dari kantor beliau. Beliau membuka jendela lalu menunjuk ke satu arah. Beliau memanggil saya untuk berdiri di samping beliau dan berusaha menunjukkan tempat itu dari jendela kantornya.

Masih bingung, namun saya berusaha berkata"I will try myself. Sir". Namun beliau berkata "no, let me put you to that place. I need some fresh air anyway". Beliau membuka lift, mengetuk tombol G dan membawa saya ke lantai dasar. Setengah berlari, beliau menunjukkan tempat itu. "Muslim prayer room". Beliau berusaha membuka pintu musholla itu untuk saya, namun terkunci, akhirnya saya meminta izin pergi saja karena sepertinya tidak ada orang di dalam. Beliau berkata "you can do your pray in my office". Saya terbelalak, lalu berkata dengan sopan "no. thank you. Sir". Akhirnya beliau memberi ide untuk mengetuk pintu itu dan yes, pintu pun terbuka hehe.

Saya membungkukkan badan berkali-kali pada beliau. Luar biasa rasa terima kasih saya pada orang asing ini. Beliau berkenan menerima saya, menawari posisi teaching assistant, bahkan mengantarkan saya hingga ke musholla. Semua kekhawatiran saya bahwa beliau akan berbeda dengan email-emailnya hilang. Beliau benar-benar seperti bunyi email=emailnya. Bahkan sebelum pergi, beliau masih berkata"It is nice to meet you, and email me over the weekend, let me know your condition".

Saya pun masuk, shalat Ashar dan bertemu banyak muslim lainnya. Saya ikut shalat ashar berjamaah dan sejuk rasanya mendengarkan adzan di Auckland. Di tempat yang begitu jauh dari rumah, Allah masih hadir untuk saya.

5. The Warehouse
Ini adalah seperti Ace hardware. Saya membeli keperluan awal hidup seperti piring gelas, dan penggorengan. Disini lah saya membeli gembok kunci yang super muahaaahhlll, hehehe. 20 dollar untuk sebuah gembok itu luar biasaaa. Saya pun selesai berbelanja, sudah punya roti sendiri dan membawa belanjaan saya pulang.

Supir bis yang kedua ini agak ramah. Dan saya benar-benar berterima kasih pada beliau. Saya pun berjalan kaki dari bus stop, menikmati pemandangan mount Eden dan bersyukur akan hal- hal yang telah saya capai di hari kedua. Alhamdulillah ya Allah, for the smooth second day in Auckland!

Auckland, 3.10.2015


Nurul Kasyfita

My PhD Journey: First Days in Auckland

Hi guys.

Well, well, I am now in Auckland. Kali ini saya ingin berbagi kisah ttg Auckland di awal hidup saya disini ya. Bagi Anda yang mengikuti postingan saya di fb, pasti tahu bahwa saya berangkat tgl 30 September kemarin dan tiba di Auckland tanggal 1 Oktober 2015. Saya akan bercerita tentang dua hari perjalanan saya, karena ini sangat berkesan bagi saya, so far.

30 September 2015.
Hari ini hari yang berat buat saya. Sejak pagi, meski saya sarapan di hotel, saya tetap tidak bisa menikmatinya. Hari ini benar-benar hampa buat saya, karena meskipun saya bersama keluarga, saya tahu detik detik saya meninggalkan mereka semua sudah tiba. Saya bersalaman dengan ibu saya dan adik saya, dan hampir saja tidak bisa melangkahkan kaki ke luar hotel. Yang saya ucapkan hanya TUNGGU SAYA, TUNGGU SAYA. Kenapa? Karena kedua orang tua saya sudah tua dan you know, umur itu tidak tahu kapan berakhirnya, sementara saya akan berada puluhan km dari mereka semua. Bahkan untuk mencapai Samarinda saja, saya harus menghabiskan 20 jam perjalanan. Tentu tidak sebentar bukan? Semoga Allah selalu memeliharakan kai semua, dan mengizinkan saya untuk bertemu beliau beliau kembali amin.

Saat di airport, rasanya tambah berat. Saya melihat ibu saya terakhir kali dari gerbang keberangkatan, menitikkan air mata dan hampir tidak melangkahkan kaki lagi. Saya ingan cancel PhD ini. Apa yang saya lakukan? Bego sekali langkah ini rasanya. Kenapa tidak master ini saja, bukankah sudah cukup untuk dapat hidup layak di Samarinda? Begitu pikiran yang berkecamuk di otak saya.

Tapi tentu pikiran gila itu harus segera dihilangkan, karena itu syaitan. Saya memukul kepala saya sendiri hanya untuk meyakinkan bahwa saya kuat. Saya pun menunggu pesawat ke Jakarta. Bagasi saya yang overweight 1 kg segera dibongkar dan mulailah perjalanan saya. Di pesawat menuju Jakarta, tidak banyak yang saya lakukan. Saya hanya menangis dan menangis.

Tiba di Jakarta, saya memindahkan bagasi ke Qantas. Berat sekali koper itu dan saya berulangkali melenguh untuk menguatkan diri. Saat ini kaki dan tangan saya sudah tidak terasa lagi bengkaknya karena memikul begitu banyak barang bawaan seorang diri. Saya check in, memastikan luggage tag nya adalah AUCKLAND dan menuju ruang tunggu. Bagasi saya ternyata hanya 29 kg di timbangan di Jakarta, tau gitu termos dan sepatu saya bawa bersama saya. Hik.

Saya pun memasuki pesawat. Wow, itu pesawat yang super besar. Saya belum pernah melihat pesawat sebesar itu. Saya ternyata bersebelahan dengan seorang warga negara Kroasia, seorang lelaki ramah yang saya pun tidak tahu namanya. Ia tinggal di Sydney dan sepanjang jalan kami banyak berbagi kisah, hingga akhirnya saya tertidur. Makanan pun mulai berganti rasa, dan satu satunya yang bisa saya habiskan hanyalah roti kebab. Entahlah, semuanya tasteless.

1 Oktober 2015
New day, new land. Si Kroasia membangunkan saya saat sarapan, dan berkata ini sudah pagi di Sydney. Ia menunjuk sunrise dari jendela pesawat dan pas saya lihat jam ternyata masih jam 2 di Samarinda. Sydney-Samarinda ternyata beda 3 jam. Saya agak bingung dengan waktu saat ini karena benar-benar pergi ke tempat yang lebih cepat zona waktunya itu membingungkan. Jika biasanya saya ke India dan dapat surplus waktu, kali ini saya seperti kehilangan waktu.

Saya pun lanjut ke Auckland. Saya duduk di terminal 36, dan benar-benar seperti orang hilang. Suhu sudah mulai menurun dan saya pun tertidur lagi di kursi. Hingga saya masuk pesawat dan ternyata di sebelah saya perempuan berkebangsaan Malaysia. Taoi kami tidak banyak bertegur sapa, karena ia lebih banyak mendengarkan musik. Kami diberi menu makan siang, dan jujur saya bingung dan merasa mual dengan menu makan siang saya. Satu satunya yang bisa saya habiskan hanya ES KRIM MANGGA yang segar menurut saya. Saya bahkan muntah di toilet pesawat karena perjalanan dan turbulensi lumayan banyak yang saya rasakan.

Dan....tibalah kami di Auckland. Sebelum landing, si pilot memberi kami aero show dengan terbang di atas sky tower, auckland zoo, mount eden, dan banyak lagi yang ditunjukkan si pilot. Saya benar-benar menikmati pemandangan Auckland dari atas. Ini seperti kota yang HIJAU. Itu yang saya rasakan.

Saya pun turun dari pesawat, dan dengan dag dig dug menunggu bagasi saya. Si Kroasia sempat bercerita bahwa ia kehilangan bagasinya saat transit dari Jerman ke Kuala Lumpur, jadi saya sempat takut barang saya tidak tiba ke Auckland. Alhamdulillah, si koper ungu ada. Saya pun memuat ke trolly dan memulai screening imigrasi. Imigrasi NZ sangat ketat dengan bioscreening yaitu barang barang dari makhluk hidup yang tidak boleh dibawa ke NZ bahkan madu sekalipun. Saya pun men declare beberapa barang karena jika kita bohong dan mereka melihat di X Ray, saya akan langsung didenda 400 NZD. Hoa, that is A LOT OF MONEY!

Saya sempat khawatir mereka akan mengambil beberapa barang terutama sendal jepit yang saya bawa karena outdoor outfit juga bisa disita. Saya juga bawa ANTANGIN, saudara saudara haha, jadi benar-benar takut akan disita. Eh, ternyata seluruh barang bawaan saya dinyatakan clear dan saya bisa keluar airport dengan segera.

Saya harus segera menemui perwakilan universitas yang menjemput saya, karena jika dalam waktu 1,5 jam saya tidak muncul, supir itu akan meninggalkan saya. Karena instruksi yang sudah sangat jelas, saya berhasil menemukan beliau. Seorang New Zealander yang gemuk dan seringkali bercanda dengan saya bahwa saya akan menjadikan NZ sebagai rumah saya. Saya cuma berkata singkat, Indonesia is my home, Sir.

Tibalah saya di hostel tempat saya akan berdiam, selama beberapa bulan ini. Saya masuk dan si supir bahkan menelponkan si penjaga hostel untuk saya. Muncullah seorang lelaki tua bernama Greg. Ia pun menjelaskan berbagai kamar yang ada di hostel dan saya memilih satu. Setelah ia pergi, mulailah barang barang bertebaran di kamar. Saya memasukkan satu per satu. Saat itulah cultural shock melanda saya. Wc ternyata tidak ada airnya, sehingga saya harus membawa botol untuk bilas. Dan satu satunya botol minum yang saya punya hanyalah aqua 135 ml. Selain itu saya tidak punya makanan dan perut saya lapar sekali. Cuaca juga sangat dingin saat malam hari dan karena WC di luar, saya harus menggigil ria ke WC. Perut lapar, cuaca dingin, WC yang mengejutkan, saat itulah saya mulai menitikkan air mata saya. Sendirian di kamar, jauh dari siapa pun.

Saat itu, satu yang saya lakukan, SYUKURI HAL SEKECIL APAPUN SAAT INI. Dan berikut hal yang saya syukuri saat hari pertama di Auckland.
1. Bagasi saya lolos screening tanpa ada pemeriksaan dan yang penting, ia selamat hingga ke Auckland.
2. Saya sudah dapat kamar tanpa harus menginap di hotel atau di barak asrama dan menghabiskan banyak uang untuk itu.
3.  Saya diantar supir dari Universitas dan tidak menghabiskan banyak uang untuk biaya taksi.
4. Saya sudah bertemu beberapa orang Indonesia di building ini dan sudah mulai ada teman.
5. Saya masih HIDUP. Masih mampu berpikir, meskipun dalam kesedihan.

Saya terus berkata "besok akan lebih baik, akan lebih baik, Insya Allah", sambil terus menangis. Saya tahu, saya akan sakit jika menangis terus, tapi karena beban saya penuh sekali, air mata ini terus mengalir Dan akhirnya, saya pun tertidur dalam kelelahan, pegalnya kaki dan tangan, perut yang keroncongan, setelah menjalani perjalanan 20 jam non stop.

This is my PhD journey. The new life begins again. Mungkin tidak akan mudah, tapi dengan Allah, semuanya akan baik baik saja.

Auckland, 2.10.2015.

Nurul Kasyfita

Saturday, 15 August 2015

My PhD journey: IT HAPPENS FOR A REASON, part 7: THE RESULT AND THE SUPERVISOR

Hey hey, ini adalah seri terakhir untuk sementara ini. Di episode ini saya akan menuliskan suasana saat saya mengetahui hasil dari perjuangan beasiswa saya dan sedikit contribute to the supervisor. Saya pikir saya harus menuliskan bagian ini karena sungguh, saya baru memperhatikan siapa supervisor saya benar benar setelah saya dinyatakan lulus interview.

Up to 10 Juni 2015. Saya benar benar berada dalam kesedihan hari hari ini. Saya tahu, ini bukan akhir dunia dan saya mesti siap dengan segala hasil yg akan saya dapatkan. Namun, saya yg merasa bodoh karena meneteskan air mata saat interview merasa belum melakukan hal yg maksimal sehingga saya tidak bisa berhenti mengutuki diri sendiri. Dan itu membuat saya bertambah sedih. Ini memang bukan satu satunya beasiswa yg saya ikuti dan come on, namanya juga kompetisi, masa nggak siap kalah, begitu pikir saya. Hari hari saya lalui dengan mimpi buruk dan terus saya memikirkan hasil interview yg perlu 10 hari untuk mengetahuinya. Auckland yg terpampang di hadapan mata, supervisor yg menjanjikan banyak kemudahan membuat saya tidak bisa menerima jika saya dinyatakan tidak lulus. Dan juga, ini seperti denyut nadi saya. Berbeda dengan orang lain, sekolah lah pain killer terbaik saya.

10 Juni 2015. Saya mengajar di kampus dan EF seperti biasa. Kami para peserta LGD sudah membuat whtsapp grup dan saya terlalu takut untuk membuka internet hari itu. Sejak subuh, teman teman yg mengikuti perjuangan saya mengirimkan pesan melakui fb, memantau jika ada kabar baik. Saya mengajar kelas jam tiga sore. Saat sedang menggunting kartu bersama siswa, tab saya berbunyi, pesan whtsapp. Seperti biasa saya mengecek pesan whtsapp saat siswa sdg mengerjakan latihan. Ternyata salah seorang peserta LGD yg menyebutkan sudah ada pengumuman. Dan beliau menyebut ada tiga nama yg lolos dan nama saya tersebut di text itu. Allahu akbar, Anda tahu, saat itu saya merinding. Air mata berlompatan keluar dari mata saya. Siswa saya bingung dan bertanya. Saya berlari ke bawah ke front office EF, orang orang yg menjadi saksi hidup perjuangan saya. Dan tidak ada yg bisa saya peluk saat itu, seperti biasa saya menerima kabar sendirian. Beruntung manajer EF memeluk saya dan berkata U DID IT, U DID IT. Seusai kelas, saya shalat ashar, dan bersimpuh dalam sujud syukur.
SAYA LULUS LPDP. Dengan interview yg begitu mencekam, membuat saya termehek mehek, saya lulus. Saya akan kuliah PhD. S tiga. Sesuatu yg dulu begitu jauh dari angan saya. Ini gelar akademik tertinggi dengan supervisor yg punya reputasi excellent, di universitas dengan ranking 100 besar dunia. Saya, the simple Nurul Kasyfita, lulus. Allahu akbar, Engkau lah Maha Besar.

Setelah itu ucapan selamat berdatangan. Ada yg men tag saya di fb, ada yg menulis di messenger, dan seperti biasa, saya bagikan kabar ini melalui status fb saya. Perlu diketahui saya menggunakan akun fb saya untuk ber posting kabar, bukan untuk kepo dengan hidup org lain, apalagi mem bully. Melalui kabar, biasanya saya minta doa, dan ini adalah jawaban doa org org yg mendoakan saya. Maka wajar jika saya posting hasilnya. Bukan untuk show off, semata mata berbagi kabar bahagia.

Malam, penat sekali badan saya. Sebelum tidur, saya meng email beliau,
I GOT THE SCHOLARSHIP, SIR. Singkat, padat, tapi cukup membuat beliau tahu hasil perjuangan saya.

Dan esok paginya saya sudah melihat balasan beliau,
CONGRATULATIONS, THIS IS GREAT NEWS. START YOUR VISA PROCESS SOON AS IT WILL TAKE TIME
I THINK THE INTERVIEW WENT BETTER THAN YOU THOUGHT.

Seperti biasa, diakhiri dengan best, Jon. Meskipun saya selalu menyebut beliau dengan professpr Jonathan, beliau selalu membalas dengan singkat, JON. What a humble man. Disitulah baru saya menyadari satu hal, saya belum tahu yg mana wajah si prof ini. Seperti Anda tahu, saya mengirim banyak email pada banyak professor. Bahkan di Auckland saja saya mengirim ke tujuh professor sebelum akhirnya meng email beliau. Saya tidak ingat siapa dengan wajah yg mana karena saya murni hanya menyimpan alamat email mereka. Dan karena beasiswa sudah hampir di tangan, saya pun meng google nama beliau.

DR. JONATHAN SPERRY, AUCKLAND.

Dan muncullah foto beliau beserta akun email auckland beliau. Dan saat ini saya baru tahu wajah orang yg selalu membalas email saya di ujung sana. Ternyata beliau bukan si prof tua yg berkacamata, beliau hanya SATU TAHUN LEBIH TUA DARI SAYA. Beliau lulus B.Sc dengan gelar kehormatan sehingga langsung lompat PhD tanpa menempuh master. Beliau berasal dari UK dan diangkat menjadi senior lecturer di University of Auckland. Tahun lalu beliau memenangkan Rutherford fellowship dari pemerintah dan beliau berambisi mengaktifkan ikatan karbon agar bisa menjadi channel port syaraf untuk obat. Reputasinya di kimia medisinal sudah banyak. Mahasiswa bimbingan beliau sudah banyak yg menyebar di Harvard.

Ya Allah, saya baru tahu ini supervisor saya. Selama ini kami hanya berdiskusi tentang riset, tentang beasiswa, proses pendaftaran sbg mhswa, tanpa pernah saling tahu wajah. Terutama saya, mhswa beliau. Dan bodohnya, selama ini saya berasumsi beliau adalah si prof tua berkacamata yg pernah saya lihat di website auckland. Jadi ini orang yg membalas email email saya selama ini. Ini orang yg me mentori saya selama interview, ini orang yb membalas email saya secepat kilat, memberikan solusi, menawarkan posisi sebagai asisten, menawarkan program magang untuk mahasiswa saya, yg menuliskan surat dukungan sebanyak dua halaman untuk membantu saya, yg menyetujui perubahan tanggal riset saya, yg membuat saya yakin kemusliman saya akan normal saja di Auckland. Sungguh, pribadi yg sangat humble.

Sejak saat itu, saya bertambah hormat dengan beliau. Terutama saat pengurusan visa saat ini, beliau telah meminta saya berkonsultasi dengan international office, namun tetap meminta update progressnya. Saya hanya berharap satu hal, semoga saya tidak mengecewakan beliau karena telah memilih saya. Dan saya bertekat untuk menyelesaikan proses ini secepatnya, agar bisa bertemu beliau dan mengucapkan THANK YOU SIR secara langsung.

Beliau adalah pembimbing saya, bahkan sejak pendaftaran menjadi mhswa.

My PhD journey: IT HAPPENS FOR A REASON, part 7: THE RESULT AND THE SUPERVISOR

Hey hey, ini adalah seri terakhir untuk sementara ini. Di episode ini saya akan menuliskan suasana saat saya mengetahui hasil dari perjuangan beasiswa saya dan sedikit contribute to the supervisor. Saya pikir saya harus menuliskan bagian ini karena sungguh, saya baru memperhatikan siapa supervisor saya benar benar setelah saya dinyatakan lulus interview.

Up to 10 Juni 2015. Saya benar benar berada dalam kesedihan hari hari ini. Saya tahu, ini bukan akhir dunia dan saya mesti siap dengan segala hasil yg akan saya dapatkan. Namun, saya yg merasa bodoh karena meneteskan air mata saat interview merasa belum melakukan hal yg maksimal sehingga saya tidak bisa berhenti mengutuki diri sendiri. Dan itu membuat saya bertambah sedih. Ini memang bukan satu satunya beasiswa yg saya ikuti dan come on, namanya juga kompetisi, masa nggak siap kalah, begitu pikir saya. Hari hari saya lalui dengan mimpi buruk dan terus saya memikirkan hasil interview yg perlu 10 hari untuk mengetahuinya. Auckland yg terpampang di hadapan mata, supervisor yg menjanjikan banyak kemudahan membuat saya tidak bisa menerima jika saya dinyatakan tidak lulus. Dan juga, ini seperti denyut nadi saya. Berbeda dengan orang lain, sekolah lah pain killer terbaik saya.

10 Juni 2015. Saya mengajar di kampus dan EF seperti biasa. Kami para peserta LGD sudah membuat whtsapp grup dan saya terlalu takut untuk membuka internet hari itu. Sejak subuh, teman teman yg mengikuti perjuangan saya mengirimkan pesan melakui fb, memantau jika ada kabar baik. Saya mengajar kelas jam tiga sore. Saat sedang menggunting kartu bersama siswa, tab saya berbunyi, pesan whtsapp. Seperti biasa saya mengecek pesan whtsapp saat siswa sdg mengerjakan latihan. Ternyata salah seorang peserta LGD yg menyebutkan sudah ada pengumuman. Dan beliau menyebut ada tiga nama yg lolos dan nama saya tersebut di text itu. Allahu akbar, Anda tahu, saat itu saya merinding. Air mata berlompatan keluar dari mata saya. Siswa saya bingung dan bertanya. Saya berlari ke bawah ke front office EF, orang orang yg menjadi saksi hidup perjuangan saya. Dan tidak ada yg bisa saya peluk saat itu, seperti biasa saya menerima kabar sendirian. Beruntung manajer EF memeluk saya dan berkata U DID IT, U DID IT. Seusai kelas, saya shalat ashar, dan bersimpuh dalam sujud syukur.
SAYA LULUS LPDP. Dengan interview yg begitu mencekam, membuat saya termehek mehek, saya lulus. Saya akan kuliah PhD. S tiga. Sesuatu yg dulu begitu jauh dari angan saya. Ini gelar akademik tertinggi dengan supervisor yg punya reputasi excellent, di universitas dengan ranking 100 besar dunia. Saya, the simple Nurul Kasyfita, lulus. Allahu akbar, Engkau lah Maha Besar.

Setelah itu ucapan selamat berdatangan. Ada yg men tag saya di fb, ada yg menulis di messenger, dan seperti biasa, saya bagikan kabar ini melalui status fb saya. Perlu diketahui saya menggunakan akun fb saya untuk ber posting kabar, bukan untuk kepo dengan hidup org lain, apalagi mem bully. Melalui kabar, biasanya saya minta doa, dan ini adalah jawaban doa org org yg mendoakan saya. Maka wajar jika saya posting hasilnya. Bukan untuk show off, semata mata berbagi kabar bahagia.

Malam, penat sekali badan saya. Sebelum tidur, saya meng email beliau,
I GOT THE SCHOLARSHIP, SIR. Singkat, padat, tapi cukup membuat beliau tahu hasil perjuangan saya.

Dan esok paginya saya sudah melihat balasan beliau,
CONGRATULATIONS, THIS IS GREAT NEWS. START YOUR VISA PROCESS SOON AS IT WILL TAKE TIME
I THINK THE INTERVIEW WENT BETTER THAN YOU THOUGHT.

Seperti biasa, diakhiri dengan best, Jon. Meskipun saya selalu menyebut beliau dengan professpr Jonathan, beliau selalu membalas dengan singkat, JON. What a humble man. Disitulah baru saya menyadari satu hal, saya belum tahu yg mana wajah si prof ini. Seperti Anda tahu, saya mengirim banyak email pada banyak professor. Bahkan di Auckland saja saya mengirim ke tujuh professor sebelum akhirnya meng email beliau. Saya tidak ingat siapa dengan wajah yg mana karena saya murni hanya menyimpan alamat email mereka. Dan karena beasiswa sudah hampir di tangan, saya pun meng google nama beliau.

DR. JONATHAN SPERRY, AUCKLAND.

Dan muncullah foto beliau beserta akun email auckland beliau. Dan saat ini saya baru tahu wajah orang yg selalu membalas email saya di ujung sana. Ternyata beliau bukan si prof tua yg berkacamata, beliau hanya SATU TAHUN LEBIH TUA DARI SAYA. Beliau lulus B.Sc dengan gelar kehormatan sehingga langsung lompat PhD tanpa menempuh master. Beliau berasal dari UK dan diangkat menjadi senior lecturer di University of Auckland. Tahun lalu beliau memenangkan Rutherford fellowship dari pemerintah dan beliau berambisi mengaktifkan ikatan karbon agar bisa menjadi channel port syaraf untuk obat. Reputasinya di kimia medisinal sudah banyak. Mahasiswa bimbingan beliau sudah banyak yg menyebar di Harvard.

Ya Allah, saya baru tahu ini supervisor saya. Selama ini kami hanya berdiskusi tentang riset, tentang beasiswa, proses pendaftaran sbg mhswa, tanpa pernah saling tahu wajah. Terutama saya, mhswa beliau. Dan bodohnya, selama ini saya berasumsi beliau adalah si prof tua berkacamata yg pernah saya lihat di website auckland. Jadi ini orang yg membalas email email saya selama ini. Ini orang yg me mentori saya selama interview, ini orang yb membalas email saya secepat kilat, memberikan solusi, menawarkan posisi sebagai asisten, menawarkan program magang untuk mahasiswa saya, yg menuliskan surat dukungan sebanyak dua halaman untuk membantu saya, yg menyetujui perubahan tanggal riset saya, yg membuat saya yakin kemusliman saya akan normal saja di Auckland. Sungguh, pribadi yg sangat humble.

Sejak saat itu, saya bertambah hormat dengan beliau. Terutama saat pengurusan visa saat ini, beliau telah meminta saya berkonsultasi dengan international office, namun tetap meminta update progressnya. Saya hanya berharap satu hal, semoga saya tidak mengecewakan beliau karena telah memilih saya. Dan saya bertekat untuk menyelesaikan proses ini secepatnya, agar bisa bertemu beliau dan mengucapkan THANK YOU SIR secara langsung. Ingin rasanya mem posting foto beliau di tulisan ini, namun saya pikir lebih baik Anda meng google sendiri, karena tidak baik rasanya men tag foto beliau tanpa seizin beliau.

Beliau adalah pembimbing saya, bahkan sejak pendaftaran menjadi mhswa. Sejak beliau memposting link untuk membuat student account. Beliau lah orang yg membalas email saya dengan kalimat WHAT CAN I DO TO HELP YOU, sebagai pintu awal sebuah kesempatan PhD untuk saya. Berkat kemurahan hati beliau memberi saya kesempatan, saya berada di titik ini saat ini. Ah, sungguh, bagi saya PhD ini bukan hanya sekedar sekolah. Ini adalah IT HAPPENS FOR A REASON.

Melalui tulisan ini saya juga tidak melupakan jasa orang orang yg telah menjadi motivasi saya selama ini. Karena tanpa bantuan mereka, saya bukan siapa siapa.
#kedua org tua saya, abah, mama, yg dengan sujud sujudnya menghantarkan saya saat ini.
#Najwa, nama yg selalu tersebut dalam doa, api yg tdk akan pernah padam, sampai berjumpa nanti ya nak.
#Dr. Jonathan Sperry, professor Jonathan, orang yg dengan kerendahan hatinya membukakan pintu kesempatan utk saya, supervisor untuk empat tahun ke depan.
#Dr. Nagaraj Naik, Dr. HS Yathirajan, Dr. BS Priya, Dr. KM Lokanatha Rai, atas rekomendasi terbaik untuk saya.
#Pak Budiman, atas motivasi awal mengejar LOA.
#Ervina, Wulan, terima kasih atas dukungan dan doa selama ini. Kalian tekah bersabar menerima miss, terima kasih.
#Mohammad. Abdullah Bageri, atas bantuan dan persaudaraan selama ini. Semoga Allah membukakan jalan PhD untukmu.
#Rini, yg dengan murah hati memjnjamkan buku TOEFL IBT dan berkenan menolong saya saat banyak org meninggalkan saya.
#Bu Nurul, pak Dydik, anggota trio macan, yg selalu berbesar hati menerima saya sbg sahabat.
#Rahma dan Ary, dua mhswa setia yg rela membonceng saya menuju tempat interview.
#Ibu Merry Ong, yg dengan murah hati mendoakan saya, mendukung saya saat terpuruk.
#teman teman seperjuangan di LGD 21A.
#Ardan, yg mmebuatkan gabus presentasi riset saya, Fifi, yg memprintkan kartu peserta.
#Salma, Zulfiah, yg menjadi teman berkomunikasi saya.
#Maradona, yg selalu sabar mem printkan keperluan saya karena saya tdk punya printer.

Semua sahabat, mahasiswa, murid murid EF, tukang fotocopy, ibu penjual teh, mbak penjaga travel, semua orang yg perduli dan mendoakan saya. Orang orang yg tidak menghakimi saya dan bisa melihat kualitas diri saya yg lain selain kegagalan hidup saya, mereka mereka yg membuat saya bersemangat, yg tidak mematahkan hati, orang orang yg optimis dan tidak menakut nakuti, terima kasih. Kebaikan Anda semua PRICELESS untuk saya yg tidak punya apa apa ini.

Dan semua readers yg ikut membaca tulisan ini, semoga bermanfaat. Masih akan ada tulisan di seri ini, namun untu, saat ini saya cukupkan disini dulu. Tentu perjuangan PhD saya masih jauh, namun seperti yg saya tuliskan di awal,

IT HAPPENS FOR A REASON....

Samarinda, 15.08.2015
Salam cinta,

Nurul Kasyfita
Lecturer of Chemistry dept Mulawarman University
PhD candidate University of Auckland batch 2015-2019
Awardee LPDP PK39 Gema Mahardika

Friday, 14 August 2015

My PhD journey: IT HAPPENS FOR A REASON, part 6: THE AFTER INTERVIEW

Hello readers, its me again.

Hmm, episode kali ini saya ingin membicarakan tentang bagaimana suasana seleksi interview di LPDP khususnya di Surabaya. Perlu diketahui, ini adalah cerita versi saya, untuk teman teman yg lain, mungkin bisa berbeda. So, mari kita mulai ceritanya.

Masih di Mei 2015.
Setelah bekerja keras dan dapat bantuan sana sini untuk tiket pesawat, hehe, saya pun terbang ke Surabaya. Saya tahu, tempat tes ada di Jalan Indrapura, salah satu jalan utama di Surabaya. Alhasil, tidak ada hotel dekat dekat situ yg "pas" dengan kantong saya hehe. Saya menginap agak jauh, akhirnya.
Selama dalam perjalanan menuju dan saat di Surabaya, saya berkomunikasi dengan prof sangat intens. Seperti mengirim sms, email send, lima menit jawaban dtg. Beliau cukup banyak me mentori saya, bahkan surat dukungan sepanjang dua halaman itu cukup menguatkan mental saya yg berjuang sendiri.
Alhamdulillah, berkat hubungan baik saya dg mhswa, mereka selalu siap sedia kapanpun saya memerlukan bantuan. Di Surabaya ini, ada dua mhswa saya yg sdg menempuh kuliah master di ITS. Jadilah mereka menjadi pengendara untuk saya, kami naik motor berbekal GPS menemukan gedung keuangan. Ah, tangan pertolongan Allah dimana mana.

Hari pertama: verifikasi berkas dan LGD.
Saya naik ke lantai tujuh tempat seleksi berkas berlangsung. Saya melihat banyak anak muda yg sangat cemerlang di mata saya. Para pelamar yg sama harapannya dengan saya, ingin disekolahkan LPDP. Celingak celinguk saya bertanya kapan berkas saya bisa diverifikasi. Hati saya ciut sebenarnya, karena saya belum punya ijazah asli, hanya ijazah sementara yg saya punya. Duh, pikir saya, jika saya tertolak di meja verifikasi, betapa sia sianya semua pengorbanan tiket dan hotel ini.
Saya pun duduk dan berkas saya diperiksa. Cuma satu perubahan dari saat pendaftaran online, yaitu status LOA saya yg sdh berubah menjadi unconditional dan tanggal starting yg harus dimulai dlm kurun waktu enam bulan. Si Ibu petugas mengangguk dan men stempel kartu peserta saya. Alhamdulillah, ada bulir airmata sedikit, satu fase telah saya lewati.

Saya pun turun ke lantai dua, tempat LGD saya akan dilaksanakan. Saya di kelompok 21A. Ada sekitar delapan orang di grup saya dan satu orang lagi yg akan doktoral ke luar negeri, selain saya. Selain kami, yg lain adalah mahasiswa calon master baik dalam maupun luar negeri. Saya sempat minder dengan kedosenan saya karena saya mendengar kabar dosen tidak disarankan melamar LPDP, meskipun sejak akhir 2014 hal itu berubah. Tetap saja hati saya ciut karena disini bukan arena nya dosen. Semua orang bisa apply di LPDP.

Kami pun berkenalan sbg peserta LGD. Hampir semua peserta sudah dapat LOA, bahkan dari UK. Beberapa diantara mereka telah mencoba untuk yg kedua kalinya akibat tidak lolos interview di saat pertama. Saya banyak mendengar ttg betapa banyaknya peserta berguguran di sesi interview, dan merinding sendiri membayangkan saya akan berhadapan dengan interviewer itu, besok. Ternyata bapak yg akan doktoral ke luar negeri itu telah menyelidiki kami satu per satu by google. Hehe, saya bahkan tidak sempat memikirkan orang lain, yg saya pikir hanya peta kekuatan saya dan bgmana menjual diri saya besok. Bapak itu masih muda, baru 28 tahun dengan reputasi riset telah terbit di jurnal internasional. Saya kembali ciut, ah, saya tidak sehebat itu pikir saya. Saya cuma gigih dan pekerja keras.

Iseng, saya membuka email. Masih ada balasan prof sesaat sebelum saya LGD. Beliau menulis
"very best wishes for the first phase today, and even if you did not get it, it is a great experience, so just do it and enjoy it. Let me know how it went".

Saya tersenyum. Beliau hebat pikir saya. Masih sempat membalas email ecek ecek saya yg curhat tentang kegugupan saya akan interview hari ini. Cara membalasnya pun lugas, tidak membuat saya buta akan kemungkinan gagal, karena saya telah menggambarkan betapa banyak pelamar LPDP, dan ini bukan arena dosen. Beliau juga masih dengan lugasnya menyuruh saya menikmati pengalaman ini, salah satu cara untuk meredakan ketegangan saya. Terus terang saya tidak peduli apakah beliau akan membalas email email saya. Menulis itu mengendorkan urat syaraf saya. Jadi meskipun beliau tidak membalas, menuangkan sesuatu di email tetap meredakan ketegangan urat syaraf saya yg sendirian ini. Menemukan bahwa email saya selalu berbalas dengan kata kata yg memotivasi, tentu berkah tersendiri.

Habis maghrib, kami pun dipanggil masuk. Kami disuguhi kertas yg berisi artikel semacam riset. Isinya tentang hukuman mati untuk koruptor lengkap dengan tinjauan pustaka singkat. Saya mengambil posisi sebagai aktivis dan beberapa teman mengambil posisi sbg masyarakat sipil dan akademisi. Ada dua ibu psikolog yg mengamati diskusi kami. Selama lima menit, kami diminta mengkonsep jawaban. Perlu diketahui, LGD berarti Leaderless Group Discussion. Diskusi ini tanpa pemimpin, berjalan apa adanya. Karena masih saling tunggu, saya pun berinisiatif mendata posisi teman teman. Dan mempersilahkan satu persatu. Semata mata agar diskusi lebih efektif. Kami berdiskusi dengan lancar hingga waktu habis, lalu saya pun berdiri menyalami para psikolog dengan teman teman yg lain. Salah satu ibu psikolog menjabat tangan saya dan berkata sukses bu!

Pulang ke hotel, saya masih menemukan email beliau yg menanyakan bagaimana LGD berjalan. Saya membalas beliau dengam bahagia bahwa sepertinya diskusi baik baik saja. Malam itu juga saya masih kasak kusuk mencari printer untuk email beliau yg terakhir, yg menyatakan menawari posisi sebagai asisten beliau untuk mengatasi kemungkinan kesulitan finansial. Saya ingat berjalan menuju hotel yg lain untuk menemukan printer. Dan saat si mas tukang jaga bertanya ini untuk apa, saya menjawab saya sdg seleksi beasiswa, dan minta ia mendoakan saya. Doa, itu energi saya.

Tengah malam, saya masih meng email beliau ttg DELNA, sebuah program bridging penyetaraan bhsa inggris dan apakah saya bisa tidak lulus lalu dipulangkan karena itu. Saat itu malam sabtu, dan saya meng email beliau jam tiga subuh, namun balasan tetap dtg lima menit kemudian. Weekend, dan pagi buta di Auckland, tapi si prof tetap membalas. Beliau meminta saya men cek LOA dan apakah masih ada syarat bhsa inggris disana. Saat saya nyatakan yg tertera tinggal tuition fee, beliau menjawab seperti biasa, DONT WORRY.

Hari kedua: THE INTERVIEW.
Saya datang lebih awal di interview hari ini. Mahasiswa saya berkeras menunggu saya di masjid bawah karena interview hanya berlangsung maksimal 25 menit. Jadi ia akan menunggu di bawah.

Ternyata benar, saya dipanggil lebih cepat karena ada peserta yg tdk dtg. Saya didudukkan di kursi tersendiri di kloter 6 sebelum dipanggil ke dalam. Bapak yg akan doktoral ke luar negeri itu ternyata dipanggil lebih dulu dari saya. Setelah beliau keluar, saya yg masuk.
Saya duduk di hadapan interviewer. Gugup, jelas. Ada dua bpk dan satu ibu psikolog dan ada tape recorder mini di hadapan saya. Saya diminta menyerahkan berkas dan beliau memeriksa dokumen saya. Saya diminta memperkenalkan diri. Dan, mulailah motivasi saya sekolah lagi padahal baru pulang tahun lalu itu dieksplore. Saya berusaha menjawab bahwa saya telah dapat LOA dan ini kesempatan langka. Saya tonjolkan juga biaya spp yg murah di Auckland, hubungan baik saya dg prof, kemungkinan ada program magang untuk mhswa saya, riset yg sangat menjual, semua telah saya kerahkan untuk membuat para interviewer terkesan dengan saya. Namun sama, beliau tetap punya cara tersendiri untuk menggojlok mental saya.
Dan...tibalah masalah klasik, KELUARGA. Saat itulah pertahanan saya seolah rontok. Saya benar benar tidak berdaya. Dan setelah dicecar berbagai pertanyaan, saya pun menjawab sambil menangis.
Saat itu interviewer bertanya tentang jalan hidup saya yg tidak biasa. Dan saya menyahut
"kita hidup dengan QADA dan QADAR, Pak. Qada adalah poin kejadian, Qadar adalah Takaran kejadian. Saat suatu qadar terpenuhi, maka qada pun akan berganti dengan qadar tersendiri lagi. Qada berkeluarga, berpisah, sendiri, itu ada qadarnya. Saat qadar berkeluarga habis, maka akan ada qada berpisah dengan qadarnya sendiri. Dunia tidak kekal, kita hanya sekedar melewati qada dan menghabiskan qadar dengan ikhtiar terbaik. Dan saat ini, ini ikhtiar terbaik saya".

Saya menangis bukan karena sedih, saya menangis karena itulah pemahaman awam saya tentang takdir. Bagaimana otak saya mencerna jalan hidup yg diberikan Allah untuk saya saat ini. Dan meskipun saya terlihat koboy, saya selalu menangis dan bergetar sast bicara tentang iman. Dan mereka pun terdiam dengan jawaban saya. Salah seorang interviewer memberi saya tissue dan si ibu psikolog menggenggam tangan saya. Saya pun dipersilahkan pergi.

Saat di hotel, saya melihat email prof yg menanyakan jalannya interview. Namun tidak sanggup saya balas. Saya sungguh tidak tahu apa hasil interview tadi karena saya cengeng sekali menangis. Bodoh, pikir saya. Tapi memang saya pribadi unik dan tidak mudah menentukan apakah saya akan mendapatkan beasiswa ini.

Setelah interview itu, hanya kesedihan yg menggantung di hati saya. Ada banyak hal yg tidak sempat terucap saat itu, dan saya bersedih memikirkannya. Dan perlu 10 hari untuk tahu hasilnya.

10 Juni, itulah hari bersejarah saya...

--to be continued--

Wednesday, 12 August 2015

My PhD journey: IT HAPPENS FOR A REASON, part 5, THE INTERVIEW

Hello Readers.

Hari ini agak santai nih saya karena dua kelas yg saya ajar di kursus lagi tes, jadi lah saya nganggur sambil menunggu mereka mengerjakan soal hehe. Episode ini adalah episode yg agak mengharu biru readers karena berisi tentang pengalaman saya menghadiri interview. Mungkin bagi sebagian yg selalu mengikuti status saya di fb, tentu paham bahwa saya sedang mengikuti interview saat itu. Dan tentu saja, saat itu live reportnya lebih LIVE hehe.

Seperti halnya sebuah posisi di pekerjaan, Anda harus menghadiri interview sebelum dinyatakan diterima bergabung dalam sebuah organisasi. Begitu pula dengan sponsor beasiswa, mereka halnya para CEO atau bos di perusahaan yg akan memberi Anda uang saku selama Anda study, atau bisa dikatakan sebagai GAJI. So, Anda harus memantaskan diri untuk mereka. Anda harus mampu menunjukkan pada pihak sponsor bahwa Anda pantas untuk dipilih. Jual diri dalam konotasi baik, adalah halal di ajang ini, menurut saya. Tentu jual diri dengan percaya diri lho, bukan AROGAN. Saat Anda percaya diri, menurut saya, Anda aware dengan kekuatan dan kelemahan diri Anda namun Anda juga tidak meremehkan kekuatan orang lain. Namum pada saat Anda arogan, maka biasanya Anda akan terlalu jumawa dan cenderung tidak waspada dengan kelemahan Anda dan tidak aware dengan kekuatan orang lain. Percaya diri akan mengangkat diri Anda, sedangkan arogan akan menjatuhkan Anda. Trust me!

Ok, lets continue the story, then.

Masih Mei 2015. Sambil mempersiapkan interview, saya terus bekerja siang malam mempersiapkan uang tiket, hotel dan seluruh keperluan lainnya untuk ke Surabaya. Untul riset, saya membuatnya dalam papan gabus yang ringan dimana saya menggambarkan rute sintesis yg biasa dilakukan dan saya membuat lubang kecil tempat saya sisipkan IDE BARU SAYA untuk membuat jalur sintesis lebih singkat, murah, ramah lingkungan dan berkesinambungan. Penelitian saya adalah organik sintesis, prof dan saya telah berhasil menggabungkan ide kami sebelum panggilan interview datang dn basically, the research is ready. Saya tahu bahwa di interview kita jarang diperbolehkan membawa alat elektronik semacam laptop, jadi saya membuat papan gabus warna warni untuk menjual ide saya pada sponsor, LPDP. Prinsip saya, saya harus tampil beda, saya harus membuat mereka ingat pada saya, dan mereka harus menerima saya.

Saya bekerja jauh lebih keras untuk membayar semua keperluan tiket, hotel dan tetap membiayai hidup saya dan memberi orang tua saya. Saya dapat tawaran mengajar privat di restoran dan di shipping company. Meskipun kelasnya jauh dan saya harus mengurangi jam tidur saya, bangun pagi pagi naik motor ke Samarinda seberang sebelum jam 8 pagi, saya tetao laksanakan dengan penuh semangat. Malam setelah jam 9, saya berlatih interview di kamar, berusaha menjawab the possible questions.

Seperti saya bilang, interview adalah saatnya untuk jual diri dengan percaya diri, bukan dengan arogansi. Sebagai seorang dewasa saya sangat mengenal kekuatan dan kelemahan diri saya. Secara akademik, saya sangat bisa menjual diri. Penelitian saya sangat MENJUAL, status uni of Auckland yg masuk ranking 100 besar dunia, pekerjaan kedosenan saya, asal provinsi, nilai TOEFL yang cukup, usia saya yg matang, serta my survival skill untuk hidup di negara seperti India, adalah beberapa hal yg cukup menjual di mata sponsor. Namun, saya juga punya latar belakamg hidup yg tdk seperti orang kebanyakan. Saya sendirian, dengan metode dan kisah yg cukup tidak biasa. Terus terang, saya sangat gentar dengan pertanyaan yg menyentuh ranah pribadi ini, meskipun tentu banyak yg bisa memisahkan antara ranah akademik saya dan ranah pribadi saya, namun, yah, u will never know what those interviewer gonna ask you.

Setelah saya dinyatakan dipanggil, saya pun mengabari si prof. Jika sebelumnya kami hanya berkomunikasi sekitar dua minggu sekali pada saat saya interview, beliau selalu stand by untuk email saya. Saat saya mengabarkan panggilan interview, beliau menyahut email saya dengan kalimat yg sangat menyenangkan
"congratulation, it is excellent news. Tell me if i could do any help".
Sementara saya juga minta doa dari prof saya yg di India, terutama beliau beliau yg merekomendasi saya ke Auckland. Umumnya semua mengucapkan hal yang sama, ALL THE BEST WISHES.

Saya tidak langsung membalas email si prof, karena masih terus mempersiapkan diri dan tanggal interview juga masih jauh yaitu tanggal 30 Mei. Sementara itu, Allah yg. Maha Mencukupi, memberikan rejeki yg tidak disangka sangka. Manajer restoran yg saya ajar memberikan bantun, pun owner shipping company, jadi lumayan uang tiket saya jadi tertolong :-). Selain itu, di EF saya bertemu pak Robert, owner dua perusahaan batubara yang memberikan saya tips dan trik bagaimana memenangkan suatu interview hehehe. Seperti spons, saya serap ilmu beliau.

Tibalah saat saya terbang ke Surabaya. Saat itu, saya sudah niatkan saya akan intens berkomunikasi melalui email dengan si prof karena saya tidak punya pekerjaa  lagi kecuali mempersiapkan diri untuk LPDP. Saat inilah komunikasi kami sangat intens sehingga saya seolah olah sedang berbicara langsung dengan beliau. Tidak sampai lima menit, balasan beliau selalu datang. Kami berdiskusi tentanb kelemahan riset, kemungkinan keterlambatan dana beasiswa, keunggulan uni of auckland. Yang membahagiakan, beliau menawarkan posisi sebagai asisten beliau untuk saya, membawahi 1200 mahasiswa S satu di lab. Selain itu, beliau juga menawarkan magang untuk mahasiswa yg saya rekomendasikan untuk belajar di Auckland di bawah bimbingan beliau. Posisi asisten beliau tawarkan untuk mengantisipasi kemungkinan kekurangan dana.

Hingga saat saya menulis ini, saya masih sering merinding mengingat betapa ajaibnya kisah perkenalan saya dengan prof yg baik hati ini. Hingga akhirnya saya meminta izin pada beliau agar semua komunikasi email ini saya print sebagai bukti intensitas komunikasi dengan supervisor kepada pihak sponsor.

Saat itulah beliau mengirimkan sebuah dokumen yg membuat air mata saya meleleh. Saya menerimanya saat saya landing di. Surabaya. Saat mobil taksi membawa saya menuju hotel, saya melihat email beliau beserta attachment. Singkat, padat, tapi me,buat saya berkaca kaca. Saya mengirim email sesaat sebelum take off dan saat saya landing, email beliau berbunyi
"i hope u had a safe flight. Please find the attachment for your letter of support from me, it might be useful for the interview".

Saya selalu merinding saat membaca dokumen dua halaman tersebut. Beliau berkomentar tentang bagaimana beliau mengenal saya, lalu apa yg membuat beliau menerima saya, dan paragraf terakhir yang saya attach di gambar tulisan ini, saking historikal nya hal itu untuk saya.

"it would be an honour to have a student of Nurul's calibre in my research group and she will complement of more than 20 nasionalities..." Anda bisa baca sendiri paragraf terakhir dua halaman surat dukungan untuk saya ini di foto yg saya selipkan di blog ini. Hingga saat ini pun, momen membaca tulisan beliau ini masih mampu membuat saya berkaca kaca. Bagi wanita dengan jalan hidup seperti saya, KESEMPATAN tanpa DIHAKIMI adalah hal langka dan selalu membuat saya berkaca kaca jika ada orang yg mampu melihat kualitas akademik saya tanpa mengaitkan dengan apa yg telah terjadi dalam hidup saya. Dan saya tahu saya bukanlah si super genius atau si istri yg memiliki suami dg jabatan tinggi, atau si anak dengan orang tua kaya. Saya hanya seorang wanita yg rajin dan gigih dari sebuah kota kecil di Indonesia. Intinya, saya bukan siapa siapa. Dan seorang prof di Auckland yang ringan hati menuliskan dua lembar surat dukungan untuk interview seorang Nurul Kasyfita, agar bisa lulus, ah, saya merasa sangat terhormat. Bagi saya saat itu, beliau seperti seorang mentor yg memberikan saya dukungan dari jauh. Saya dilatih beliau untuk menjawab apa yg harus saya jawab untuk tetap menonjolkan kelebihan saya. Bahkan saat itu saya baru ngeh nama lengkap beliau. Sebelumnya saya selalu mengingat beliau dengan nama JON seperti cara beliau mengakhiri emailnya.

Dan pagi tanggal 30 Mei, saya pun berdiri di teras hotel menatap langit. Saya hanya berbisik "ya Rabb, bersamai saya. Mudahkan jalan saya, bukakan urusan saya. La haw la wa la quwwata illa billah. Rabbi yassir wa la tuassir. Bismillah".

Dan saya melangkah menuju tempat interview gedung keuangan Surabaya lantai tujuh...

---to be continued---

Tuesday, 11 August 2015

My PhD journey: IT HAPPENS FOR A REASON, part 4, THE SCHOLARSHIP

Hey hey readers, sebenarnya ini tulisan versi kedua karena versi sebelumnya hilang gara gara sinyal yg on off. Maklum, tabnya sudah tua, sinyal providernya paket yang paling murah, jadi deh bersatu dalam kelemahan hihihi. Saya akan menciba untuk menulis seperti versi yg telah hilang, namun sbg penulis, greget tulisan kedua dengan topik yg sama biasanya agak garing. Yah, semoga lah yg ini tetap crunchy yaaa.

Ok, part yg ini mungkin yg agak ditunggu oleh Anda yg sedang berniat apply beasiswa. Bagi yg master, mungkin tidak terlalu ribet karena selain master durasi sekolahnya pendek, juga kadang hanya by course bukan by research. Sementara untuk yg akan melamar doktoral spt saya, perlu sedikit berjuang karena Anda perlu prof yg bersedia menjadi supervisor, selain memenuhi syarat uni tentunya. Ok, well, lets continue the story.

Maret 2015. Karena sudah punya LOA, meskipun masih conditional, saya tahu saya akan mampu mendapatkan yg unconditional, alias diterima full. Nilai toefl yg telah melebihi persyaratan dan legalisir dokumen yg tinggal dikirim ke Auckland, membuat saya yakin, saya akan diterima. Saya mengabarkan pada miss Gretchen tentang hasil toefl ibt saya. Dan hanya dengan mengkonfirmasi nomer peserta, sistem uni of Auckland telah mampu mengakses data saya di ETS, pusat TOEFL di USA sana.
Tantangan berikutnya? Naaah, ini dia! Miss Gretchen meminta saya mengirimkan seluruh legalisir ijazah dan transkrip untuk memastikan data saya dan melengkapi proses registrasi. Alamak! Anda tahu, saya tidak punya selembar kertas pun di tangan saya. Semua transkrip masih di India dan bahkan ijazah saya belum terbit. Tapi apakah saya menyerah? Hohoho, tidak! Disinilah peran teman Yamani saya, Mohammad. Abdullah Bageri sangat besar. Saya mengontak dia dan memintanya pergi ke department dan melegalisir seluruh dokumen saya. Lalu saya memintanya pula mengirimkan ke Samarinda via fedex. Saya membayar ongkos kirimnya via western union. Saat itu juga ijazah TOEFL IBT saya sedang dikirim dari USA menuju Samarinda. Lucu rasanya membayangkan ada dua amplop dari dua negara sedang menuju Indonesia untuk dimasukkan ke amplop berikutnya yang akan menuju Auckland.

Meanwhile, saya mulai fokus pada beasiswa. Awal pencarian ini sebenarnya karena email dari scholarship position yg memasang beasiswa kedutaan NZ pada link teratas saat itu, sehingga fokus utama saya adalah NZAS dari kedutaan. Beasiswa ini tutup pasa tgl 30 April 2015. Lalu, tentunya sebagai dosen saya juga melirik DIKTI meskipun sempat ragu karena status kepulangan saya dari tugas belajar sebelumnya yg belum setahun.

Untuk DIKTI, tidak terlalu ada kendala karena proposal riset saya telah siap dan DIKTI memiliki database lengkap ttg saya. Sehingga murni hanya melengkapi syarat TOEFL dan uni yg dituju. Apalagi Auckland ternyata termasuk kategori satu di DIKTI yaitu memiliki MOU langsung dengan DIKTI, wah, lancar jaya lah proses pendaftaran online saya.

Untuk beasiswa kedutaan, ada dua essay yg harus disiapkan. Dan sebagai insan yg suka menulis, dan sering menulis dalam bahasa Inggris, menulis essay dalam bahasa Inggris sebanyak 500 kata bukan hal yg terlalu susah. Saya menyelesaikannya dalam semalam. Namun, ada hal yg membuat saya ragu. Di poin satu, tertera bahwa peserta beasiswa adalah WNI yang telah menetap di Indonesia minimal dua thn terakhir. Alamak, saya kan baru pulang Juli thn lalu? Namun dengan sintingnya, saya tetap menyiapkan dokumen dan memasukkan ke amplop dan mengirimnya. Saya pikir, lebih baik mencoba mengetuk pintu dan menunggu itu terbuka ketimbang tidak mengetuk sama sekali. Dan yes, amplop itu saya kirim.

Saya juga sempat melirik beasiswa aminef dari amerika dan sempat berkomunikasi dengan prof dari Kentucky University, namun, hmm, masa sih saya walk away setelah begitu matangnya pembicaraan saya dg auckland? Selain US, bulan ini juga saya sempat mencoba beasiswa dikti ke Jepang, namun, yah, I decide to stick to New Zealand. Seperti kata pepatah, DONT LOSE THE MOON WHILE YOU ARE COUNTING THE STARS.

April 2015. Hingga awal April, belum ada terbersit untuk ikut LPDP. Saya sempat mendengar ttg betapa mapannya lembaga ini membiayai mahasiswa baik dalam maupun luar negeri. Namun, saya sempat ragu apakah umur saya yg hampir menyentuh angka 35 masih eligible to apply. Selain itu, sempat ada kabar bahwa dosen tidak disarankan apply ke LPDP kaena dianggap sudah punya payung sendiri, yaitu DIKTI.

Anyway, PhD journey ini seperti yg saya tulis di judul IT HAPPENS FOR A REASON. Tiba tiba saja saya dikontak mahasiswa saya yg hendak ke Thailand untuk diajari conversation. Saat saya mengajar, ia me mention LPDP. Saat saya lontarkan mengenai umur, ia berkata umur maksimal untuk doktoral adalah 40 thn. Saat itu saya ingat, sambil melayani mahasiswa saya conversation, saya membuat akun di LPDP. Melengkapi data pribadi dan mulai mencermati syarat syaratnya. Ada dua essay yg harus dibuat dan satu proposal riset. Selain harus memenuhi syarat TOEFL dan LOA. Meskipun LOA saya masih conditional, saya yakin ini cukup berharga untuk diupload. Setelah membuat essay dan seluruh dokumen lengkap, saya pun submit form aplikasi saya. Yang saya tahu, saya submit itu hanya 8 hari dari tanggal penutupan gelombang kedua. Dengan berbekal wifi gratis di kampus, tombol submit saya klik meski gagal submit berkali kali karena sinyal. Akhirnya saya dapat email notifikasi. Saya bahkan tidak memikirkan tgl berapa pengumuman seleksi administrasi hehe. Saya kembali sibuk mencari nafkah. Pagi mengajar di kampus, siang mengajar di kursus.

Sekitar tiga hari sblm pengumuman seleksi berkas, ada teman saya yg mengontak via wa. Disitu saya baru ingat LPDP adalah yg tercepat memberi pengumuman. Saat teman itu memposting tanggal penting, baru saya ingat 4 mei adalah harinya. Meskipun saya ragu bisa lulus, namun tetap saja hati saya dag dig dug saat itu. Tanggal 4 Mei hari itu saya mengajar di kursus. Siswa siswa pun, ikut ikutan membuka hp canggihnya masing masing untuk melihat pengumuman saya. Perlu diketahui, saya selalu melibatkan siswa dan mahasiswa saya saat saya berhajat. Saya memohon doa mereka, saya kabarkan pada mereka apa yg sedang saya usahakan. Sehingga saat hari pengumuman, hampir seluruh siswa di kursus ikut mencek website LPDP hehe. Dan dengan gontai, hingga malam tiba, saya tdk melihat email atau pun pengumuman di website LPDP terkait pengumuman hasil seleksi administrasi. Apalagi saya ingat, nomer peserta saya jauuuhhh bgt 2956, berapa ribu pelamar hebat lain selain saya? Yah, sudahlah saya pikir lebih baik saya tidur.

Esok paginya saat menunggu adzan subuh, iseng saya kembali membuka website LPDP. Intinya sih saya hanya ingin melihat siapa saja yg lolos seleksi. Mata saya masih setengah mengantuk saat saya men scroll down nama nama yg tertera. Saat masuk huruf N, saya melihat mereka mereka yg tertera. Seketika mata saya terbuka, dan bibir saya berdesis "that looks like my name", lalu saya kucek mata saya "thats my name", tidak puas, saya duduk, "THATS MY NAME". Thats my name, ucap saya. Lalu air mata pun meleleh, saya hanya sendirian di kamar kos saya membaca pengumuman subuh itu, seperti halnya event event penting dalam hidup yg saya lalui sendiri. Saya memeluk ransel sahabat saya kemana pun, dan membayangkan Najwa, sambil berbisik "I PASS, I PASS".

Setelah moment of glory yg berurai air mata itu terlewati, saya pun sadar saya akan dipanggil interview ke Surabaya, dan itu berarti uang tiket harus disiapkan lagi. Dengan 1,7 juta dari kampus per bulan, dan pekerjaan sampingan di kursus, kewajiban memberi orang tua yg tdk akan saya tinggalkan, saat itu yg ada di pikiran saya hanya satu, SAYA HARUS BEKERJA LEBIH KERAS LAGI....

---to be continued---