Tuesday, 2 May 2017

A FACEBOOK STORY: WHAT’S TO LIKE; WHAT’S NOT TO LIKE?


Yup, here I am again, typing in my blog. Hari ke-6 menghindari facebook dan to be honest, I feel FREE! HIDDEN AND FREE, actually!
Hi there, sorry ya lupa nyapa. Ini karena postingan ini lebih kepada sambungan postingan lalu tentang betapa saya berusaha menghindari facebook dan public yg cenderung ungrateful hehe. Kenapa saya bilang ungrateful? Well, think about it. Intinya anybody who is posting in facebook itu kita gak pernah tahu motifnya. Ada yg memang suka nge share printilan hidup even if you think it is not important (to you) but maybe it is important (for her), ada yg emang suka show off. So, in my opinion public itu harusnya bisa liat mana yg emang genuinely sharing mana yg senangnya showing off. But that is them. Ungrateful. Kalau saya sih senang senang aja ada yg posting foto pemandangan indah dari negara lain, kan enak gak usah terbang jauh-jauh eh kita liat pemandangan yg oke. Atau ada yg posting pengalamnnya umroh misalnya, juga enak kan kita gak usah tanya tanya eh ada yg share. But public is public. Ada saja yg ungrateful dan mean. Dan itu yg saya rasakan. Until finally I choose to leave facebook.
As I said before, facebook dan Instagram itu hiburan rakyatnya mahasiswa yg sedang kuliah di luar negeri seperti saya ini. Bayangkan, you are away in another country, keluarga gak ada, terasing sendiri di negara lain. Saya termasuk beruntung karena saya punya kawan kerja plus tunangan dan supervisor yg sangat sangat supportif dengan saya. Gak kebayang dengan mahasiswa lain yg harus struggle sendiran, terus pas ia posting di facebook akun nya yah hanya sekedar having a bit fun, yah, dicap show off. Asem kan?
And I feel that. For your information, hidup saya “sedikit berubah” sejak saya hijrah ke NZ. Dulu saya juga hijrah sih tapi saat itu saya ke India dan bukan di kota besarnya seperti Mumbay or Delhi, sehingga meski dulu saya juga suka posting di facebook ,tapi mungkin menurut public itu tak terlalu signifikan. I am still pathetic woman yang gak punya akses ke anak, yg hampir bangkrut karena perceraian dengan hidup yg porak poranda. Dan saat itu public happy, yay, one woman down, satu saingan terjungkal dalam kerasnya persaingan hidup ini hehe, seems familiar? Yup, itulah public, senang saat kau sakit dan sakit saat kau senang.
Namun sejak saya pindah ke NZ, yup, hidup saya berubah. Sebenarnya awalnya Cuma karena saya dibawa supervisor saya kesini. Jujur saya bukan si ambisius yg mengkoleksi LOA dari berbagai perguruan tinggi di dunia lalu menunggu hingga Harvard kirim LOA nya ke saya. Nope, saya benar-benar hanya wanita sederhana dan bermimpi sederhana. Saya selalu view myself as anak kos yang gak punya dapur lalu luntang lantung makan di warung-warung. Just that, as simple as it is.
Daaan, hidup saya berubah hampir 180 derajat saat saya DILAMAR a kiwi yg memanjakan saya bak putri disini. Tiba-tiba saya dihadiahi pakaian (sebenarnya karena pakaian yg saya bawa dari Indonesia itu terlalu tipis untuk cuaca NZ); perhiasan; berbagai liburan; tidak termasuk keberuntungan yg menghampiri saya seperti mampu tinggal di apartemen ok di tengah kota Auckland, dapat pekerjaan dan digaji dollar; plus supervisor yg begitu baik hati menerima saya meski saya Cuma pindahan dari sains. And, public mulai sakit hati. Awalnya semua pada bilang happy to see you are happy, tapi tambah kesini aura jealousy nya mulai terlihat jelas. Padahal menurut saya postingan saya mah sama aja jenisnya saat saya di India. Bedanya mungkin jenis makanan yg saya posting kalau dulu saya postingnya dosa, rotti, indomie, pani puri, sekarang saya postingnya cereal, roast, taco, spaghetti carbonara, goulash, ya menyesuaikan lah namanya juga di negara barat. Tapi kalau seandainya mata public itu bisa melihat dengan hati yg bersih, postingan saya sebenarnya sama saja dg saat di India dulu, tentang daily life, tentang kuliah saya, tentang hidup dan apa yg saya rasakan. But nope, mereka lebih senang melihatnya dengan mata jealousy.
Di medsos itu sebenarnya serbah salah. Anda posting sedih Anda di judge CURCOL. Anda share happiness dianggap show off capek deeh hahaha. Saat saya masih di Indonesia, ada seorang kawan yg saya putuskan hubungan karena ia tak tahan dengan happy posting saya. Dan well, karena ia laki-laki, (saya agak sexist untuk hal ini), saya unfriend saja. Buat apa juga saya berteman jika hanya untuk dibaca postingan saya lalu disindir di statusnya hehe. So, saat itu langkah saya dengan para haters yg benci dengan my happy posting hanya UNFRIEND. Begitu pula saat saya di NZ, ada lagi satu teman wanita yg sebenarnya sering saya dengarkan curhatannya eh malah unfriend saya karena juga tak tahan dnegan happy posting ala saya. Well, I just let her go then karena saya juga tak pernah begitu attach dengan siapapun juga.
Until finally, saya melihat itu dari my own Mum. Awalnya beliau masih happy, senang liat saya engaged, senang liat hidup saya happy. Lalu mulailah gak komen lagi jika saya posting dibelikan apa apa oleh my fiancé, lalu juga mulai gak mau lagi texting, bahkan tiap texting selalu curhat betapa beratnya hidup di tanah air, dan betapa hidup adik saya sekarang susah (which I don’t understand sebenarnya salah saya dimana, so kalau adik saya agak unhappy, saya juga harus unhappy gitu?). Saya masih tahan saja dengan bilang terserah deh mau anggap saya apa. Dan masih berusaha posting happy ala saya. Belum lagi beliau suka menyamakan saya dengan sepupu sombong yg asli sukanya show off. I really hate that, because I am not that low hellow, postingan saya jauh lebih dalam dibanding my cocky cousin yg sukanya posting perhiasan berliannya. Tepok jidat dah, malas dealing with these people lagi.
Then, as you read before, saya tiba tiba insyaf sendiri dan mikir “who am I to post” emang saya siapa sih berani-beraninya posting di sosmed. So, I choose to be silent, sejak hari itu hingga hari ini. Yeah, saya masih liat postingan orang-orang lain, tapi really, perasaan hidden dan free itu benar-benar menyenangkan. Saya gak sok alim dengan posting ayat-ayat, saya gak sok ibu-ibu dengan posting resep-resep yg gak pernah dicoba juga sebenarnya, saya gak sok bijak dengan share nasehat yang katanya self reminder padahal sebenarnya juga pingin nyindir orang lain; saya gak lagi terlihat di facebook. Saya menutupi hidup saya, meski awalnya susah, saya memilih hening di New Zealand dengan hidup saya dan perjuangan saya menyelesaikan Phd saya. Jika pun akan posting mungkin hanya untuk mile stones yg penting semisal wisuda, berangkat konferens, atau hal-hal signifikan lainnya. Itu pun jika saya masih mood buat posting hehe.
Dan awalnya susah, saya kira saya Cuma insyaf dari facebook karena belum ada happy thing yg bisa di share, dan saat ada hal yg happy, saya bisa tergoda lagi untuk posting. Namun ternyata tidak. Seperti kemarin saya buka puasa, lelaki baik itu menawari membelikan sushi. Tau gak air mata saya menetes karena ingat saya pernah Cuma bisa buka puasa ma bakso 5 ribuan. Itu pun makannya di kelas, karena biasanya saya ngajar lagi jam setengah 8 malam. Saat itu, apakah ada keluarga saya yg saya komplen terus bilang “nih liat hidup saya susah, kalian kok gak ikut susah juga” nggak tuh, karena menurut saya, setiap orang punya takdir masing-masing. Bahkan ada saja kejadian saya hanya makan bakso 5 ribu terus liat adik saya posting makan dimana gitu, yo wis, gak papa, rejekinya dan saya juga gak akan tertukar. Tapi kemarin, saya ditawari sushi, halal pie oleh laki-laki itu yg berjalan kaki membelikan unuk saya buka puasa. Saya buka puasanya di apartemen keren, di lantai 15 di kota terbesar di New Zealand. Lalu view yg saya liat laut dengan rangitoto mountain nya. Gimana gak menetes air mata coba. Anak kos lho yg makanannya Cuma bakso 5 ribu an tiba-tiba punya hidup se wah ini.Apakah saya posting? NOPE, saya memilih mengaji, bersyukur akan rahmat berbuka puasa saya kemarin. Tanpa perlu hit tombol POST di hape saya.
Lalu supervisor saya juga bertemu saya kemarin. Salah seorang diantaranya begitu dekat dengan saya lalu mengamati berbagai jewellery yg melekat di badan saya (ehem saya kemarin pakai kalung mutiara, plus diamond engagement ring saya). Beliau berkata “he must really spoils you a lot, dear Nurul, look at those jewellery on you”. Saya Cuma nyengir sambil bilang “thank you, yeah, a little”. Lalu beliau memuji betapa pekerja kerasnya saya, mencek apakah saya happy, lalu bilang saya pretty. See, biasanya saya akan share perasaan happy ini dengan nge klik tombol POST. Lalu akan ada respon orang lain entah haters entah liker yg jelas akan ada reaksi karena ada aksi dari saya (based on Hukum Newton III) hehe.
But nope, I did not post. Sekarang what’s to like and what’s not to like? Saya masih ngeliat orang lain posting dengan berbagai gayanya. Ada yg jualan, ada yg share nasihat, ada yg share resep, ada yg posting kegiatannya, acara weekend nya, foto foto anaknya, masakan yang dibuatnya, banyak lah, dan me? NOTHING! Saya gak posting APAPUN. Saya juga gak balas message SIAPAPUN. Saya benar-benar detach dengn facebook dan segala manusia yg tergabung di dalamnya. So, sekarang, What’s to like, what’s not to like, wong saya gak ada posting ANYTHING hehe. Saya happy with him, saya enjoy sendiri. Dan benar-benar SENDIRI. Dan saya happy, saya liat sunrise pagi ini, took a pic, terus liat dan bilang ke diri sendiri “this is just for me, just for me”. Lalu saya dimarahi di tempat kerjaan, nangis sendiri, dan instead of hit tombol post, saya Cuma bilang “this is my battle, my battle”, tanpa berusaha minta simpati ke siapapun, not even to my mum, and here I am, alone dengan hidup saya.
Dan tadi malam saya bercerita dengan lelaki itu, saya ungkapkan betapa saya sekarang merasa jauh lebih baik tanpa facebook. Dan meski ia tahu setiap kali saya bilang I WILL NOT POST ANYMORE, tapi akhirnya saya end up posting lagi, tapi kali ini ia benar-benar melihat saya detach dari facebook, seperti halnya saya detach dengan berbagai hal lain dalam hidup saya.
Daaan, saya melihat sedikit perubahan. My mum tiba-tiba menjadi simpatik karena berpikir saya sedang menghadapi kesulitan hidup di NZ sini. Yeah, siapa bilang hidup saya easy piecy di sini? Saya juga bekerja, tiap malam belajar, gak Cuma haha hihi kok. The difference is, I DON’T COMPLAIN, saya tak suka mengeluh. Sangat tak suka hingga saya lebih senang menelan kesedihan saya sendiri. Dan itu yg membuat orang lain berpikir saya SELALU bahagia! Haha.
Dan di persembunyian saya hingga hari ini, saya merasa DAMAI. Saya gak perlu nunjukin ke dunia baju apa yg saya pakai, atau liburan apa yg saya rasakan, orang gak tahu apa yg saya makan, dengan siapa saya makan, dimana saya saat ini, apa yg saya dapat hari ini, gak perlu lagi orang lain tahu. Malah bagus, para stalker dan spy itu gak lagi punya bahan untuk diomongin tentang saya. Juga gak ada alagi yg perlu di like dari saya. Saya persilahkan FACEBOOK untuk Anda semua, but not me. Silahkan posting apapun, say amah sembunyi aja. Lebih damai, gak ada lagi yg iri (meski juga gak ada lagi yg kontak), gak ada lagi yg kasak kusuk dtg minta tolong, gak ada lagi pokoknya saya putus hubungan dengan dunia luar selain yg saya hadapi di hadapan saya. Malah bagus kayaknya jika mile stones saja yg saya posting, itu pun jika saya masih mood hehe. Jika tidak, bukankah lebih nyaman hidden saja?
So, mungkin itu yg diinginkan public. You better silent kalau gak tahan di bully. Dan sekarang, see, semuanya tetap posting dan saya SILENT. Sekarang public mau nge like atau nge hate apa dari saya? I give you NOTHING! No aksi dari saya, so no reaksi dari Anda! Peace buat seluruh makhluk hidup di dunia!

Auckland, 2 Mei 2017,


-NK-


Friday, 28 April 2017

Who am I to post?: A Facebook story

Hey there.

Saya lagi nih dengan tulisan iseng ala saya. Ammm...kali ini temanya agak berbeda, pun sharing system tulisan kali ini berbeda. Jika biasanya tema saya tentang semangat yang berapi-api, menyemangati siapapun yg sedang galau entah yang sedang putus cinta, yang sedang berhajat melamar beasiswa, yang sedang ambruk luar biasa dalam hidupnya, selalu saya berusaha tularkan A POSITIVE VIBE ala saya. Tapi kali ini berbeda, mungkin tidak mellow, tapi hanya sekedar tulisan refleksi ala saya. Tidak ada semangat yang menggebu-gebu seperti biasanya, tidak ada positivisme yang biasa saya tularkan, hanya saya dan sebuah refleksi.

Sistem sharing tulisan ini pun kali ini berbeda. Saya hanya akan upload tulisan ini di blog saya, dan tidak men sharenya di media lain contoh nih di facebook hehe. But if you found this writing to be interesting and would like to share it in your facebook wall, monggo, I have no objection lho ya.

Here we go. Saya mulai ya tulisannya.

Saya itu sebenarnya penggila facebook and instagram. Di dua media inilah biasanya saya menghabiskan hari-hari saya. Apapun saya posting, tentang masakan, tentang jalan-jalan, tentang rasa syukur saya akan hidup, tentang kebaikan hati lelaki yang menemani saya saat ini, intinya EVERYTHING that I think worth sharing. Hal ini karena saya suka bercerita sehingga kisah tisyu di dapur saja bisa jadi kisah menarik luar biasa dengan kelincahan jari-jari di keyboard saya. Saya tidak suka share hal-hal berikut:
POLITIK, NO NO I HATE POLITICS
HOAX, apalagi hehe
SHARE RESEP MASAKAN, buat apa juga kalau gak pernah dicoba, cuma share doang
SHARE STATUS ORANG LAIN, menurut saya itu tidak original, ngapain nge share kalimat orang lain untuk kondisi kita, belum tentu relevan.
SHARE MEME kocak, saya pikir itu buang buang waktu meskipun lucu sih.
JUALAN, nope, saya gak minat jadi pedagang.
NYINYIR, terus terang saya happy dg hidup saya dan tak suka juga kepoin akun orang lain so ngapain nyindir?

Intinya, saya lebih suka nulis tentang SAYA di akun SAYA dan dengan gaya SAYA. Narsis? Iyaaa, saya pikir lebih baik narsis dibanding sinis ma hidup orang lain ya nggak? Peace!

Oya, saya juga NO COMMENT dengan postingan orang lain. Dulu, duluuuu banget, saya suka komen di status status mahasiswa yg dekat dengan saya. Yah, biar rame aja FB nya begitu menurut saya. Namun I found ada juga orang-orang yg dengan kejamnya menyalahgunakan komen saya untuk menyerang saya balik. Saya pernah dimusuhin orang sekantor hanya karena saya ikutan komen di status jujur seorang mahasiswa. Saya pikir komennya jujur dan patut dihargai meski medianya di media sosial yg mungkin kurang tepat. Dan yak, karena saya komen akhirnya saya kena bully juga hehe. Since then, HARAM hukumnya saya komen di status orang lain. Akhirnya saya lebih banyak melenggang di media sosial di akun saya. Ada yg komen saya sahutin, ada yg nge tag saya like, ada yang nge inbox saya balas, intinya saya main di kandang sendiri hehe. Amaaannn menurut saya.

Tentu gaya saya ini juga banyak haternya. Ada beberapa yang menganggap postingan realita ala saya ini sebagai ajang SHOW OFF suka pamer meski intinya saya hanya ingin menunjukkan betapa kita bisa bangkit dari keterpurukan dan tetap bahagia dengan pilihan hidup kita plus selalu bersyukur akan apapun yg diberikan Allah ke kita. Tapi yah itulah manusia, tak pernah ada benarnya, selalu komentar.

Anyway, barusan saya insyaf dari facebook. Bukan karena apa apa sih, tapi tiba-tiba saja ada some voice tapped on my shoulder and said "WHO AM I TO POST?". Yah, emang siapa sih saya ini sehingga saya pantas untuk nge post di facebook?

Saya bukan:
PRESIDEN
ORANG SUKSES
IBU TELADAN
PEKERJA TELADAN

Saya hanya:
A BIG FAILED PERSON baik sebagai ibu, wanita, istri, anak, saudara perempuan, bahkan sebagai kawan pun saya tak cukup baik. Sejak perpisahan yg menjungkir balikkan hidup saya di tahun 2012 itu, saya lebih memilih SENDIRI. Saya tak suka dihakimi dan hidup saya sudah terlalu berat tanpa penghakiman-penghakiman itu. So, here I am, memilih sendiri.

Yeah, saya sekarang kuliah PhD di universitas top 100 dunia di jurusan top 20 pula. But again, WHO AM I TO POST? Jika orang lain bisa posting tentang:
1. Keberhasilan anak-anaknya, saya tak punya itu.
2. Keindahan rumah tempat tinggal atau kecanggihan mobilnya, saya tak punya itu.
3. Hubungan baiknya dengan rekan kerjanya, saya tak punya itu.
4. Keharmonisannya dengan suami atau keluarganya, do I have that? No.
5. Prestasinya menerbitkan tulisan di jurnal internasional, tulisan saya baru sebatas blog mau posting apa coba?
6. Kuliahnya yang sukses, kuliah saya biasa biasa saja tak ada yg luar biasa dari apa yg saya capai dalam hidup.

Yeah di usia hampir 37 ini, here I am, masih luntang lantung sebagai mahasiswa dengan beasiswa, tidak punya rumah kecuali pindah dari kost ke apartemen di Auckland sini, tak punya mobil, motor pun dijual saat saya pindah ke Auckland, tak punya akses ke anak, tak punya rumah tangga yg oke, atau prestasi kerja yg mumpuni, so kembali lagi WHO AM I TO POST?

Meskipun tulisan ini terkesan begitu negatif dan merendahkan diri saya sendiri (which is unhealthy for my mental), tapi tetap saya bersyukur, di negara jauh ini saya masih bisa makan, masih bisa tidur nyaman, masih bisa disayangi, diperhatikan, betapa Allah Maha Memelihara saya, meski saya sendiri. Dan seperti hari ini, Auckland hujan seharian, dan saya dengan nyaman tidur di sofa sambil nonton TV, berselimut sambil minum coklat hangat. Tidak terbayang betapa dinginnya di luar sana dan berapa banyak gelandangan yg tidur tanpa atap di Queen street sana. Jika bisanya saya menulis ini di facebook saya sebagai status, kali ini, saya cukup menikmati rasa syukur itu sendirian. Again, who am I to post? Saya bukan siapa siapa, tanpa pencapaian apa apa, di usia 37 ini pun saya masih belum mencapai apa apa :-(. Cuma minum coklat panas di sofa sambil nonton TV di kota besar seperti Auckland, masa sudah berani beraninya posting? Hehe,

So, finally saya mencapai titik dimana saya tak berani lagi psoting di facebook. I don't have any pride to show seperti orang-orang lain itu dengan berbagai pencapaiannya. Bukan, bukan saya iri dengan mereka. Saya hanya malu tak punya apa apa tapi sudah petantang petenteng dengan status facebook saya. Padahal seberapa sih saya ini? Setinggi rumput saja belum.

Dan inilah saya dengan diamnya saya di media sosial. Saya pikir mungkin baiknya saya minggir saja. Toh saya tak punya dagangan yg dipajang di laman facebook saya. Tak punya prestasi yg bisa dibanggakan, tak punya harta yg bisa di show off, tak punya akses ke anak hingga bisa posting kebersamaan saya dengan anak, so, apa sih saya ini? Who am I to post?

Am I sad? Yep, a bit. Karena hidup di negara orang lain ini, facebook itu adalah hiburan rakyat murah meriah plus masih bisa terhubung ke tanah air, so itu entertainment saya sebenranya. Tapi ya itu lagi, emang saya ini siapa jadi berani-beraninya posting? Sudah sehebat apa sih saya? Sudah punya apa sih dalam hidup? No, I am just NOTHING, NOBODY. So lebih baik saya silent.

Dengan silence nya saya ini, saya lebih banyak waktu merenung. Berpikir tentang hidup dan bagaimana bisa survive. Kadang saya mengaji dan mendoakan Najwa, anak saya nun jauh disana. Kadang pula saya membaca buku, menulis di blog seperti saat ini atau memikirkan proposal saya. Saya lebih banyak diam. Bahkan di kehidupan nyata.

Entah sampai kapan silence ini akan berlangsung karena intinya saya ini orang yg ceria dan suka bercerita. Entahlah. Tapi saya pikir silence ini akan berlangsung cukup lama. Setidaknya hingga saya bisa menghilangkan kalimat WHO AM I TO POST di pikiran saya.

Itu saja.

Auckland, 29 April 2017,

-NK-



Friday, 7 April 2017

>^%$#@&*()!+: Password for A Life Changing

Hi there. How are you?

Kalau saya disini sih seperti biasaaa baik baik saja (pencitraan sebenarnya) heheh. Mumpung ini lagi weekend dan proposal saya sudah siap submit, saya ingin sedikit menulis. Tapi tentang apa ya, hehe tentang apa saja deh. You know me, I am weird.

Ammm, mungkin Anda bingung liat judul tulisan ini. Itu kok kayak kode error hehe. Yak ini memang tulisan aneh dari orang yang juga aneh so judulnya juga mesti aneh.

Okay. Have you ever felt that your life is JUST never changing? Yaa istilah Indonesia nya tu "saya kok begini begini aja ya". Sementara orang lain hidupnya meningkat entah tiba-tiba dapat pekerjaan yg memberi banyak rejeki, menikah dengan orang kaya, menang undian, lulus beasiswa, punya anak yg lucu, beli rumah mewah atau mobil, intinya hidup orang lain itu BERUBAH KE ARAH YANG LEBIH BAIK sedangkan hidup kita seolah-olah "jalan di tempat".

Terus mungkin ada saatnya kita berpikir "dia itu rahasianya apa ya kok bisa hidupnya berubah, apa saya harus melakukan apa yg ia lakukan ya, siapa tahu hidup saya juga berubah". Lalu kita mengikuti jejak orang lain itu, entah daftar beasiswa, atau ikutan bisnis yg ia geluti, atau ikut gabung dengan teman-temannya, intinya kita MENIRU apa yang orang itu lakukan dengan harapan hidup kita juga bisa membaik seperti mereka.

Tapi ternyata TIDAK. Hidup kita tetap jalan di tempat sedangkan hidup mereka melaju bak anak panah yg dilepas dari busurnya dan kena TEPAT DI SASARAN! Pokoknya mereka LUAR BIASA sedang kita BIASA BIASA saja.

Terus terang saya dulu punya pikiran seperti itu, terutama setelah saya menikah. Saat itu, meski saya telah berusaha sekuat tenaga, bekerja, beribadah, memohon pada Allah agar terjadi perubahan hidup tapi tetap saja, saat itu adalah saat tersuram dalam hidup saya. Saya tinggal di sebuah bangsal asrama putra, memasak di sebuah dapur kecil yang lantainya bolong dan kadang ada tikus yang mengintip di sela-sela dindingnya, sakit perut berkepanjangan akibat salah jahit, bergaji minimal dan harus menanggung biaya pengobatan karena mahalnya obat perut saya dulu, dengan anak (yg masih bayi saat itu) yg merengek di sebelah saya saat saya terkapar beralaskan plastik saat diare berkepanjangan itu menyerang saya. Saat itu saya meneteskan air mata lalu hanya berbisik pada diri sendiri "Ya Tuhan, apa passwordnya? Apa yg dilakukan orang lain itu sehingga hidup mereka membaik sementara saya yg hampir tak punya apa apa ini malah terkapar sakit dan tak mampu menghasilkan uang, padahal saya perlu uang untuk obat saya. Tak bisakah Kau Menyehatkan saya agar saya bisa bekerja keras dan membeli rumah yg sedikit lebih baik dari bangsalan ini? Apa yg dilakukan manusia lain itu (yg tidak saya lakukan) sehingga Kau begitu baik pada mereka namun begitu kejam pada saya?".

Pernah saya berpikir seperti itu? PERNAH! Saya sampai berpikir there must be some kind of password yg bisa membuat Tuhan approve pada life changing seseorang. Hehehe biasa lah pemikiran aneh.

Lalu entah bagaimana BAM! Hidup saya berubah! Saya kehilangan banyak hal, termasuk akses ke anak saya. Dengan penyakit perut yg masih menyerang saya saat itu, saya berangkat ke India meski khawatir dengan bagaimana masakan India akan membuat perut saya bertambah parah penyakitnya. Tapi well, saya tak punya piihan lain selain MENJALANI apapun itu yg ada di hadapan mata saya.

Dan !@#$%^^&*()_+~?><"}{%$#@!!. Bukan salah ketik ituuu memang sengajaaa ceritanya password life changing nya saya SUBMIT. Dan yak! Hidup saya BERUBAH! Dari yg awalnya seorang istri, jam 4 sudah bangun mengurus rumah tangga, lalu ke pasar, menyiapkan sayur, berangkat ke kampus mengajar, pulang memandikan anak, melipat pakaian, lalu tidur paling akhir, tiba-tiba saya jadi SINGLE WOMAN. Wanita tanpa siapa-siapa. Dan saya harus tanggung SEMUANYA. Hidup saya JUNGKIR BALIK tak karuan. Ada ancaman finansial, kesedihan tak bisa bertemu anak, kesedihan dihakimi dan terpinggirkan dari pergaulan, belum lagi segala sesuatu saya tanggung SENDIRI. Makanya itu password TAK JELAS begitu bentuknya karena memang itu yg terjadi dari sebuah LIFE CHANGING ala saya hehe. Hidup jugkir balik tak karuan hingga bentuk hidup itu saja tak lagi bisa terdefinisikan.

Namun kali ini saya tak lagi mengeluh. Meski perut kadang masih saja dangdutan hingga saya pernah mengerjakan ujian Kimia Fisika di India di samping WC professor saya disana akibat perut yg kadang masih dangdut an ini, tapi semua saya JALANI. Masalah tak lagi saya BICARAKAN tapi saya SELESAIKAN! Dan entah bagaimana bentuk hidup hingga hari ini, tapi itu yg saya lakukan, I SOLVE MY PROBLEMS.

Dan tiba-tiba, semua berubah (sedikit) membaik. Saat saya di India, saya tidak menyangka akan didandani oleh seorang wanita India bernama Arthi yg dengan telaten menjahitkan saree untuk saya lalu aunty sebelah rumahnya yg dengan sigap menjahitkan kain dalaman untuk saya. Dan for once in my life, saya merasa CANTIK! Sesuatu yang tak pernah saya rasakan dulu. Dulu saya terbiasa menerima bahwa saya tak secantik atau sekaya orang lain, sehingga saya harus menerima saja apa yang ditawarkan hidup untuk saya. Seminimal apapun itu.


Tiba-tiba yang dulu saya tak diizinkan pakai jeans, saya mencobanya dan saya merasa satu hal: saya BERBEDA. Yang dulu saya (sedikit) diurusi, tiba-tiba saya mengurus diri saya sendiri. Booking tket, urus visa, booking hotel, lobby pejabat sana sini, mengurus beasiswa, memikirkan keuangan belum termasuk MENGHALAU ORANG_ORANG YG KEJAM PADA SAYA. Ya, belum termasuk mereka. Wajah saya tak lagi bersedih, setiap ada halangan yg saya pikirkan adalah bagaimana MENYELESAIKANNYA! I stop talking to people tantang masalah saya dan mulai MENGGENGGANM TANGAN SAYA SENDIRI untuk menyelesaikannya satu demi satu.

Dan yak hidup saya BERUBAH! Saya BERUBAH! Setelah India mendidik saya menjadi siap dengan apapun (motto mereka: EXPECT THE UNEXPECTED), hidup membawa saya ke episode baru di New Zealand. Dan disini perubahan hidup saya semakin massive saja. Dari yang dulu saya tinggal di kost dengan matras tanpa ranjang, dengan kecoa yg kadang seliweran, saya dibawa ke sebuah kamar apartemen di negara modern seperti New Zealand. Saya bekerja di University of Auckland, menerima gaji dalam bentuk dollar, dihargai, diberi kesempatan. Dari yang dulu saya berpikir saya hanyalah seorang ITIK BURUK RUPA tiba tiba saya dikagetkan bahwa wajah minimalis seperti saya ini sukses membuat seorang kiwi berlutut di hadapan saya di puncak tower tertinggi di negara ini, SKY TOWER. Wajah minimalis saya ini bisa membawa seorang lelaki kiwi menawarkan banyak hal di masa depan untuk saya. Dan hidup saya benar-benar BERUBAH!

Dari yg dulu tidak boleh pakai jeans, tiba-tiba saya explore banyak fashion. Lalu dari yg masih lugu dengan pakaian India tiba-tiba saya disulap menjadi wanita modern yang harus sigap dan siap mandiri namun tetap dihargai sebagai wanita. Dan itu yg terjadi tadi malam pada saya. Saya didandani bak Julia Roberts dalam PRETTY WOMAN. Entah berapa pakaian yg saya coba tadi malam, lalu MC Walter dan RC menunggu di luar tirai lalu saya membuka tirai dan menunjukkan dress cantik itu satu demi satu. Dan setelah pengalaman pakai saree, tentu saja mengenakan dress ala westerner itu adalah sebuah PERUBAHAN lagi untuk saya.


Dan pagi ini saya berbaring di ranjang luas saya di apartemen lantai 15 ini. My life change. Saya tidur di ranjang luas di kamar dengan lantai berkarpet, jendela saya penuh dengan view yg cantik banget, Gaji saya masuk dari universitas besar dunia plus dari beasiswa, laki-laki itu begitu menyayangi dan memanjakan saya, perut saya yg dangdutan kini sdh jauh membaik, saya nge gym, mengalami perbaikan gizi hehe, punya oven, punya weekend yg biasanya dulu saya nge weekend dengan nge les in privat sekarang saya punya weekend kadang liburan, kadang shopping, kadang nonton film, intinya saya sekarang berada di hidup yang TAK PERNAH SAYA BAYANGKAN.

Siapa coba yg bisa membayangkan wanita yg dulu tinggal di bangsalan asrama putra itu, yg terkapar pakai plastik di ranjang, yg bahkan tak tahu rasanya pakai jeans, tiba tiba berangkat ke luar negeri, dilamar bule di menara tertinggi di New Zealand, kuliah di universitas top dunia, bekerja juga, dibayar dengan dollar dan berpakaian dan juga (berpikir) mandiri seperti wanita western yg dulu hanya ia lihat di TV. Tiap pagi ia berdiri di persimpangan jalan Symonds street, menunggu lampu merah lalu kaki-kaki mungilnya berlari mengikuti kaki panjang para bule yg juga menyeberang jalan. Lalu ia menunggu bis 274 atau 277, naik ke bis sambil senyum dengan supirnya, kadang disapa balik dengan ramah, lalu ia duduk dekat jendela, melihat city campus, clock tower, lalu melihat mount eden, turun di bus stop sambil berteriak riang "THANK YOU, DRIVER". Lalu berjalan kaki menuju meja staffnya, bilang GOOD MORNING ke semua orang, Hi John, Hi Rani, Hi Rebecca. Lalu disapa teman sekerja, dihormati meski berjilbab, mulai melayani student hingga sore tiba. Pulang, ia belajar untuk PhDnya. Tidur, esok ia bangun semangat lagi menyongsong hari.

Dan jika Anda bertanya apa passwordnya untuk life changing se drastis yg saya alami? Atau agar se beruntung ini? Apa harus apply beasiswa juga? Apa harus pisah dengan anak juga (not recommended lho ya)?

Jawaban saya password for the life changing is: @!@#$#%$^&*_":?~><.

Which means, there is NO specific password. Your life is your life, your story. Mau digencet gimana pun kalau kata Allah belum sampai waktuNya ya belum sampai. Mau nikah se ngebet apa kalau Allah belum sampaikan ya belum juga. Mau ke luar negeri segila apapun, kalau Allah belum Sampaikan ya belum aja.

So gimana dong biar hidup berubah? DOA. USAHA. Dan yang pasti satu password.

KUN FAYAKUN dari Allah untuk bikin semua nya JADI! Dan satu yang pasti, Allah berfirman: Tidak akan berubah keadaan suatu kaum hingga kaum itu merubah dengan tangan mereka sendiri. So, kun fayakun pasti dari Allah, tapi usaha dan doa itu yang dari kita sebagai manusia.

So, usaha, doa, baik sangka semoga KUN FAYKUN untuk hajat kita disegerakan olehNya.

Auckland, 08 April 2017,

-NK-




Tuesday, 28 March 2017

The Lasagna Story

Hi hi, saya lagi nih dengan tulisan iseng saya hehe.

Kali ini saya ingin cerita tentang masakan yg baru saya berhasil kuasai plus filosofis di baliknya. Namanya... LASAGNA. Iyaaa itu makanan Itali yg bisa dengan mudah dipesan di restoran Itali cepat saji. Tapi kali ini, saya ingin bikin sendiri hehe.

Awalnya karena RC membelikan saya oven. Apartmen yg say tinggali di lantai 15 ini tidak punya oven sehinga kalau mau nge baking harus turun ke lantai 1 dan itu pun harus rebutan dengan anak-anak lain. Repot, ribet and you know me, saya tidak suka keramaian.

Tapi karena nge baking juga bukan makanann wajib orang Indonesia ya saya santai santai saja. Namun ya tetap penasaran gimana sih rasanya nge baking hehe.



Dan the lasagna story ini jadi bagian dari my life celebration dalam mengatasi kesulitan hidup. Setelah tahun lalu saya didera depresi, lalu kuliah PhD saya yg akhirnya harus kolaps, maka tahun ini saya bersyukur ada banyak rejeki ada banyak hal baik yg terjadi justru setelah saya keluar dari sains.

Salah satunya adalah saya dibelikan oven oleh RC. Siapa yg tdk senang coba, dapurnya dihiasi dengan macam macam pernak pernik. Padahal dulu dapur saya tu jelek banget, kadang ada tikus ngintip plus alat-alatnya, jangankan oven kompor aja cuma kompor minyak hehe.

Dan sekarang yay, saya punya dapur plus OVEN! Plus APRON! Plus disubsidi suruh masak yg saya mau. Siapa yg gak happy coba?Dan memiliki skill baru dalam hidup itu pasti menyenangkan dan itu yg saya rencanakan dengan oven baru saya. I am lucky saya itu diberkahi Allah dengan sifat yg mudah bahagia meski tak punya banyak jadi punay oven saja sudah bikin saya bersyukur luar biasa hehehe. Yg iri terus bilang cuma gitu aja pamer, silahkan minggir ya. I have my own way to celebrate my life :-).
                                                           
And, kemarin saat saya off tak punya proposal yg digarap dan juga lagi libur kerja, saya memilih memasak lasagna.

Bahannya:
- Lasagna sheet, kalau disini bisa pilih yg harus direbus dulu atau yg bisa langsung pakai, saya pilih yg langsung bisa dimasak.
- Daging sapi cincang
- Bawang putih, bawang bombay
- Paprika, bisa juga diganti dengan terong kalau suka.
- Parsley
- Oregano bubuk
- Mozarella dan parmesan cheese.
- Saos lasagna botol kalau mau bisa buat sendiri dari saos tomat.

Caranya:
- Pre heat dulu oven di suhu 180 selama 30 menit
- Sambil nge pre heat, tumis daging sapi cincang dengan bawang bombay plus bawang putih. Taburi garam, merica, oregano secukupnya.
- Susun lapisan lasagna. Untuk saya kemarin:
Lapis 1: saos tomat
Lapis 2 daging cincang
Lapis 3: paprika dengan parsley.
- Ulangi lagi dengan lapis 1, lapis 2 hingga lapis 3.
- Bagian atas taburi dengan mozarella dengan parmesan hingga ketutup semua
-Tutup dengan aluminium foil lalu panggang hingga 30 menit
- Keluarkan buka alumunium foil nya lalu panggang lagi hingga 10 menit.

Jadi deh! Tunggu 10 menit yaa kalau nggak pas dipotong bisa gak teratur bentuknya.


Now filosofisnya:
Life itu seperti lasagna. Harus berlapis lapis dan beraneka rasa. Harus ada rasa asin dari air mata dan keringat. Harus ada rasa manis dari cinta. Harus ada rasa asem saat diibulin atau dimanfaatkan. So kalau sdh jadi satu seperti lasagna bisa bikin semuanya jadi terasa enak karena gabungan dari berbagai macam rasa. Hehehe, gak jelas ini ya.

Oya saya juga buat garlic bread kemarin, mudah aja mah kalau ini. Cuma roti bagel panjang itu dipotong potong terus diolesi butter yg dicairkan bersama parsley dan garlic bubuk plus oregano.



Panggang 5 menit hingga coklat di suhu 180, lalu keluarkan taburi mozarella lalu panggang lagi sampai kejunya meleleh. Udah, gitu doang.

Selamat mencoba yaaa.

Happy baking!

Auckland, 29 Maret 2017.

-NK-

Friday, 24 March 2017

The Story of A Kitchen Glory

Hi there.

Sudah lama saya tidak menulis dan malam ini kayaknya lagi pingin menulis hehe.

Temanya apa ya? Kitchen glory aja deh meski pun ntar kaitannya dengan kitchen.

Anyway, ini sih terkait dengan "mainan baru" di dapur hehe. I have a new oven! Udik? Biariin. Emang saya gak pernah punya oven seumur hidup. Satu gak bisa baking, dua di Indo oven listrik ya mahal jatuhnya karena listrik gak murah men hehe.

Saya memang suka masak. Dari dulu zaman saya Diberi Allah kompor dengan sumbu dan minyak tanah, lalu beralih ke gas dan hingga akhirnya sekarang punya kompor listrik di Auckland. Mungkin ada yang berpikir "kok segitunya ya di zaman modern ini kompor kok masih sumbu plus minyak tanah?"

Hehe cerita dikit ya. Itu karena orang yg bersama saya dulu menganggap kompor gas berbahaya karena gas nya bisa meledak. Iya sih, semua alat mah pasti bahaya. Tapi bukan berarti harus dihindari kan. Namun seperti biasa meski bagaimana pun saya memohon tetap saja "his decision is absolute" gak ada tawar tawaran. Kalau gak bisa nerima masak pakai kompor minyak tanah ya gak usah masak tapi juga gak ada makanan. Akhirnya dengan muka sedih saya tetap memasak. Di rumah mama saya dulu saat saya gadis kompornya kompor gas, lalu tiba-tiba saya harus berkompromi masak dengan kompor minyak tanah yg lamaaaaa banget baru masak. Suka sedih liat ikan layang yg dimasak sering over oiled. Tapi mau gimana lagi, HE IS ALWAYS RIGHT!

Alhamdulillah pemerintah akhirnya menetapkan harus pakai gas untuk menghindari keborosan minyak tanah. Saya bersyukur sekali saat itu, saat akhirnya kompor gas mengisi dapur saya. Meski lantai dapur saya dulu banyak yg bolong papannya dan kadang ada saja tikus ngintip, tapi saya tetap betah berlama-lama di dapur itu.

Kitchen is my kingdom, tempat dimana saya adalah ratu dan tak bisa diganggu gugat apa yg saya putuskan untuk dimasak. And I like that authority. Dan meski resiko pakai kompor gas adalah SAYA HARUS BERJUANG MENGGANTI GAS SAAT TABUNG GAS KOSONG, saya tetap bahagia. Masakan saya tidak lagi over oiled dan yg lebih penting, bisa masak lebih cepat sehingga lebih efisien. Perkara tidak dibantu saat ganti tabung, biarin, toh saya punya cara mengatasinya. Tinggal pergi ke warung lalu minta tolong dengan anak remaja penjaga tokonya agar mengantar dan mengganti tabung gas di rumah saya. Beres! Gitu aja kok repot?

Kadang dari jendela dapur itu, saya juga suka melihat langit dari jendela kecil itu. Lalu membayangkan kapan saya bisa sekolah ke luar negeri. Tapi mengingat penyakit yg mendera saya pasca melahirkan, wah sudahlah lupakan saja. Apalagi akhirnya saya menyadari bahwa cinta saja dalam rumah tangga itu tidak cukup. Kita juga perlu laki-laki pekerja keras yg siap mewujudkan mimpi pasangannya. Well, akhirnya saat itu saya memilih mengalah, mengabdi dan mengubur mimpi meski tak pernah dihargai.

Aaannndd, tiba tiba saya Ditakdirkan tak punya rumah lagi apalagi dapur hehehe. Saya terhempas dengan badai perpisahan. Lalu jadilah saya seorang anak kost yg tak punya dapur. Ada sih kost an yg punya dapur bersama, tapi saya kurang suka berkumpul dengan orang banyak. Saya suka sendirian. Tak suka beramai ramai. Akhirnya saya berakhir di kamar kost dengan private kamar mandi (yg menurut saya jauh lebih perlu ketimbang dapur). Jadilah saya melanglang buana makan dari warung satu ke warung lain (yg terjangkau kantog tipis saya hehehe). Kadang bakso kadang mie ayam, kadang nasi goreng apapun intinya kenyang. Namun satu yg hilang, saya kehilangan dapur hik. Dan hoby memasak saya jadi susah sekali tersalurkan.

Dan yak, episode India datang. Saya akhirnya punya dapur lagi meski awalnya share dengan dua orang vietnam. Namun akhirnya saya memilih menyewa rumah sendiri. Rumah sementara saya di India itu mungil, hanya hall plus kitchen dengan bathroom. Tapi wuih bahagianyaaaaa punya dapur lagiii heheheh.

Here is my small kitchen in India plus tempat tidur dimana saya biasanya istirahat meski kerasnya naudzubillah hehehe.



Di rumah ini cooking skill saya bertambah lagi. Saya biasa masak masakan India disini. Meski rumah ini tak lebar, tapi saya senang sekali mendiaminya. Kitchen, itu ternyata give me a significant happiness.

Lalu tibalah saya ke Indonesia lagi. Lagi lagi saya kehilangan kitchen dan harus puas dengan nasi kotak, bungkusan atau bakso dan mie ayam dekat kost. Kangen rindu dengan kitchen, tapi tetap dijalani dengan semangat. Hingga akhirnya datanglah episode kitchen selanjutnya.

Wuusss saya Dibawa Allah ke Auckland. Saya pertama kali mendarat di dapur Rocklands, Dapur komunal yg lumayan banyak langkah kaki dari kamar hehe. Dan it is such a hassle lho bawa seua bumbu dapur, bahan masakan dan alat-alat masak itu ALL THE WAY ke dapur komunal itu. Belum kalau lupa satu hal, harus ALL THE WAY balik lagi ke kamar. Belum saat dingin, mengkeret lewat hall yg tanpa dinding itu hehehe.

Tapi disinilah cerita turning over itu bermula.

"Hi, are you new here?" sapa lelaki Pakeha itu sambil terus memasak. Dan sejak saat itu kami berkenalan dan menjadi dekat hingga sekarang.

Enough love story karena cerita ini tentang kitchen glory hehe.

Setelah 3 bulan di Rocklands, saya pun pindah ke unilodge. Wuih senangnya pas masuk kamar. Ada dapur lengkap dengan suction system, microwave dan semuanya LISTRIK! Ajaib banget dari cerita sebuah kompor sumbu minyak tanah lalu kompor gas dan sekarang semuanya serba LISTRIK! Senangnyaaaa. Here is my first kitchen di unilodge.



Jauh lebih modern dibanding yg di India tentu saja dan saya seperti nyawa ketemu raganya hehe. Saya senaaaaannngg sekali memasak disini dan meski ini bukan dapur super mewah dengan perlatan lengkap serba ada, saya masih bersyukur Dipinjami Allah untuk sementara.

Dan akhirnya saya dibawa kembali ke lantai 15. Dapur saya meluas dengan spesifikasi kurang lebih saja dengan dapur sebelumnya. Namun disini saya dimanjakan dengan banyak alat oleh RC. Ada frying pan electric, dan yg baru saja tiba, the oven. Wuihhhh senang banget punya oven. Seumur hidup saya tidak pernah membayangkan saya akan punya OVEN! Karena satu saya gak punya dapur (dulu) dan dua saya dibesarkan di keluarga yg kenalnya hanya kompor dan lebih banyak memasak daripada baking.

Sejak disini saya jdi kenal bahwa cooking terutama frying itu banyak efek negatifnya. Akhirnya saya belajar banyak ttg baking agar bisa menghasilkan makanan enak tapi minim minyak. Yay, akhirnya saya malah ditawari oven!

Dan hari ini, kami shopping di toko alat rumah tangga di Auckland, Saya disuruh memilih alat dapur buat teman masak. Dan yayyyyy, saya dibelikan lagi apron! Yg tulisannya keren banget:

COOKING WITH LOVE PROVIDES FOOD FOR THE SOUL.

Filosofis banget ya, cocok ma saya hehe. So, you know, hari ini saya merasa seperti balik jadi THE QUEEN yg kembali ke kingdomnya. Apron itu membuat saya kembali merasa dapat mahkota dan seperti Maleficent yg kembali dapat sayapnya (lebay) hehe. Saya punya dapur lagi, kali ini PLUS OVEN! Wah, sdh gak sabar ingin coba resep masakan western yg penuh dengan baking, minim oil dan dengan spesifikasi sehat.

Here is penampakan the new toy di dapur unilodge saya.



Wess mantap. Ni oven spesifikasi bandel. Baru dari baca aja sih belum tahu pas sdh di test. Hari ini saya rencana akan masak menu baking pertama, chicken roast dengan baked vegetable. Yay yay yay alhamdulillah sekarang tambah betah ber experimen di dapur. Seperti saya bilang, memasak itu adalah hobi yg gak bikin rugi. Karena se salah-salahnya pun, unlike chemistry di lab, kitchen itu akan selalu memberikan hasil yg MINIMAL bisa dimakan. Heheheh. That is why I LOVE KITCHEN!

Dan malam ini saya mengenakan ni apron lalu nge lihat city view dari lantai 15 Auckland, sambil mengucap: "kitchen glory. Dari kitchen sempit di Samarinda, lalu kitchen sederhana di India, kitchen Rocklands yg mempertemukan saya dengannya hingga akhirnya saya punya kitchen dengan apron plus oven segala yay! Alhamdulillah. Maleficent is BACK! Hehehehe.


Daaannn taraaaa, inilah the pride of the kitchen! Mulai besok saya akan lebih banyak berkutat dengan oven, mencoba berbagai resep western yg sdh tidak sabar ingin saya coba. Bikin lasagna, muffin, bikin cup cake, anything!

Ya Allah, terima kasih. Dari kompor sumbu minyak tanah, kompor gas, kompor listrik, microwave, frying pan elektrik, hingga hari ini, sebuah oven menghiasi my kitchen kingdom. Dari yg dulu komplen dikit disuruh diam, atau suruh beli pakai uang sendiri, hingga kini semuanya di subsidi.

Dan perjalanan kitchen story ini berawal dari sebuah jendela mini di Samarinda, saat menatap langit dan bergumam hendak sekolah ke luar negeri. From that day, the queen has finally got back her glory. The kitchen glory!

Auckland, 24 Maret 2017,

-ME-


Tuesday, 11 October 2016

A sweet revenge...

Hi everyone.
Masih pagi di Auckland dan saya lagi ingin menulis. Hmm kali ini tulisan tentang sweet revenge. Balas dendam yg manis. Yup, balas dendam yg manis hehe.

Saat ini saya sedang santai. Proposal tesis saya sudah submit 30 menit yang lalu ke supervisor. Meski PhD saya di sains tidak berjalan baik beberapa waktu lalu, namun kali ini saya sudah back on feet. Senang sekali sekarang saya sudah bisa mengimbangi workload dengan have a life. Ah, saya jadi ingat saat saya terkena depresi, sendiri di Auckland. Berat sekali hari-hari yang saya lalui saat itu. Saya terbaring, sendirian di kamar, bahkan tidak mampu membuka tirai kamar untuk sekedar melihat matahari. Namun saat ini saya sudah berhasil memindahkan PhD saya ke education, sudah berhasil menemukan riset topik yang membuat saya sangat sangat bersemangat dan sedang bersemangat dengan kisah asmara saya dengan seorang kiwi New Zealand yang super manis hehe.

Tiba-tiba saya teringat dengan suatu hari di tahun 2012. Saya duduk di hadapan pimpinan tempat saya bekerja, terisak menangis pasca porak porandanya rumah tangga saya. Beliau tidak mampu menolong saat itu, kecuali mendoakan saya saat saya pamit hendak berangkat sekolah ke India. Beliau hanya berulangkali menyebut “berlian tidak akan kehilangan sinarnya hanya karena dilempari lumpur, suatu saat ia akan berkilau kembali”.

Beliau bahkan mungkin tidak tahu bahwa kalimat beliau itu begitu menguatkan saya. Ada seseorang yang masih percaya bahwa saya orang baik yang ditakdirkan memiliki hidup agak rumit, dan saat ia dihujat dan disalahkan banyak orang, itu penting sekali. Dan berangkatlah saya mengembara, sendiri, ke India. Jauh dari banyak pihak, membawa kepedihan saya, kehilangan hampir segalanya dalam hidup. Harta, anak, nama baik, semua hancur, luluh lantak di tahun itu. 2012, tahun kiamat sugra buat saya. Saat itu juga beliau menguatkan saya dengan berkata “bersabarlah, saat ini pesawatmu sedang mengalami turbulensi, banyak goncangan hebat yang akan terjadi, tapi apapun yang terjadi, jangan biarkan peswatamu jatuh, mendaratlah meski dengan hentakan super keras, tapi jangan jatuh. Bersabarlah. Masa transisi ini akan terlewati”.
Dan memang benar. Masa transisi dari seorang yang menikah hingga akhirnya menjadi janda mandiri itu tidak mudah. Ada banyak hentakan, goncangan, dentuman hidup yang pesawat saya lalui. Meski begitu, saya selalu ingat, pesawat saya tidak boleh jatuh. Saya harus mampu mendaratkan pesawat ini dengan selamat. Harus.
2013, 2014, saya lalui dengan keheningan, sendirian di India. Saya belajar, paling sesekali posting tentang kuliah atau apa yang saya pelajari di India. Lalu saya posting saya lulus. Setidaknya satu hal kembali pada saya, kepercayaan bahwa saya masih bisa sekolah dengan baik. Bahwameski saya tidak cukup baik untuk berumah tangga, saya masih punya kompetensi lain yang masih bisa diusahakan. Education, sekolah.
Pulanglah saya ke Indonesia Juli 2014. Saya berusaha beradaptasi lagi dengan semua hal yang pernah saya tinggalkan. Di kampus, bertemu lagi dengan sistem yang dulu akrab dengan saya. meski kocar kacir dengan pemotongan gaji, akhirnya saya berhasil menemukan penghasilan tambahan dengan menjadi guru Bahasa Inggris di sebuah kursus besar di Samarinda. Saya cukup mendapat tempat di sana, karena Bahasa Inggris saya dan pengalaman mengajar yang mumpuni. Pendapatan saya mulai membaik dan saya pun bertemu orang-orang menarik. Hingga akhirnya saya mendengar tentang LPDP. Agak kecut hati saya mengingat status diri saya yang tidak se normal orang lain. Apakah mau mereka membiayai saya ke luar negeri? Perempuan, sendirian, tidak punya apa apa kecuali dirinya dan Allah SWT, dengan status yang tidak sebaik orang-orang lain. Dan alhamdulillah, ada seorang profesor di Auckland sini yang menerima saya. Berkat kuasa Allah dan tangan beliau, akhirnya saya dapat surat tanda diterima di University of Auckland, universitas rangking 82 seluruh dunia. Berbekal surat itu, akhirnya saya lulus beasiswa. Dan berangkatlah saya. kembali mengembara dengan kesendirian saya.

Tiba di Auckland, di hostel sederhana dengan sewa 200$ per minggu. Saya masih kocar kacir lagi dengan suhu yang dingin, suasana PhD yang jauh berbeda dengan master saya di India. Lalu saya bertemu dengannya, Russell Church yang tergila gila dengan saya. Ia mengejar saya tanpa henti, berjuang untuk saya meski ia tahu status saya dan betapa rumitnya latar belakang hidup saya. Saat saya depresi pun, ia yang merawat saya di rumah sakit hingga saya begitu tersentuh dengan kebaikan dan kemanisannya. Ia begitu rendah hati, gentle man an memperlakukan saya bak seorang putri, meski saya bukan perawan lagi. Ia yang muslim, dan karena kemuslimannya, saya menerimanya. Kami pun merencanakan pernikahan.

Dan hari ini saya berdiri di depan cermin. Saya ingat mereka yang meninggalkan saya. Ada ia, laki-laki yang selalu berusaha mempersulit hidup saya, ada kawan kawan yang akhirnya meninggalkan saya hanya karena status hidup saya tidak senormal yang lain. Namun hari ini say a berdiri di depan cermin, di kamar saya yang nyaman di unilodge, melihat betapa Allah telah begitu Mengangkat derajat saya, alhamdulillah. Dari wanita yang di tahun 2012 menangis, pingsan, hampir tak kuat melanjutkan hidup, hingga kini saya, mahasiswa PhD dengan project yg akan happening banget di Kalimantan nantinya. Penampilan saya sudah jauh berubah. Saya juga sudah menguasai beberapa teknik kickboxing yang bisa melindungi saya jika diperlukan. Saya diantar jemput naik mobil oleh seorang kiwi yang siap sedia menemani saya.
Dan tiba-tiba, saya teringat kata-kata pimpinan saya  4 tahun yang lalu itu. Beliau yang kini sudah tak lagi menjabat pimpinan, tapi akan selalu saya ingat jasanya. Beliau yang bertemu saya di akhir tahun 2015 dan kaget mendengar saya akan berangkat lagi ke New Zealand untuk doktoral. Beliau saat itu bertemu saya kembali di tahun 2015, dan beliau takjub melihat perubahan saya. Beliau bahkan mengantarkan saya hingga ke pintu ruangan dan berkata “kilau berlian itu telah kembali. Mau bagaimanapun lumpur dilemparkan, kilau berlian tak akan tertukar”.

Kadang dalam hidup Anda bisa saja bertemu dengan orang-orang jahat yang meninggalkan Anda atau menjerumuskan Anda dan kenaifan Anda sebagai manusia. Tapi percayalah, akan ada saatnya dimana kesuksesan Anda kembali bangkit setelah dihancurkan oleh mereka akan menjadi balas dendam yang  sangat manis. atau bahkan Anda tak perlu balas dendam. Suatu saat Allah akan Menunjukkan Kuasa Nya. Percayalah.

And you, masa lalu. Ingat saat itu keluargamu mengucilkan saya, mereka yang berkata bahwa mereka tak sudi lagi melihat wajah saya. ingat saat itu kau berkata saya tidak akan berhasil dimanapun. Ingat saat kau berkata saya tidak akan mampu meraih gelar master. Ingat saat itu saya bersimpuh di kakimu memohon agar bisa bertemu Najwa. Saat ini, jika pun kita bertemu lagi, saya mungkin akan berterima kasih atas kekejaman mu waktu itu. Terima kasih karena berkat penolakanmu, saat ini saya menemukan diri saya. Saya menemukan laki-laki yang bisa menghargai saya. Saya sekolah di universitas besar dan ditempa untuk menjadi tangguh. Tapi mungkin kau tak kan lagi mengenali saya. Saya sudah jauh berbeda. Saya tidak cengeng lagi, saya tidak penakut lagi, saya bukan saya yang dulu lagi. Saya telah berubah. Saya bangkit. Bukan patah. Terima kasih masa lalu, mungkin kau tak kan lagi mengenali saya yang dulu begitu kau dan keluargamu hina. Saya telah berubah. Mungkin jika kita bertemu kembali, saya hanya akan menjabat tanganmu dengan manis lalu berkata “excuse me, who are you?”. Sekali lagi, terima kasih. Kau, telah menjadikan saya siapa saya hari ini

Auckland, 12 Oktober 2016.
Perempuan yang berbahagia dengan dirinya


-NK-


Saturday, 8 October 2016

Empowering Janda Through Education

Hi there. Hari ini saya ingin menulis sesuatu yg lumayan menggelitik. Biasanya postingan saya lumayan alay, namun hari ini otak saya sdg waras sehingga saya ingin menuiskan hal ini. Kali ini saya ingin berbicara tentang wanita. Ya, wanita, makhluk indah yg sering dipuja tapi juga sering disakiti. Lebih khusus lagi, saya ingin berbicara tentang wanita yg gagal berumah tangga, ya janda. Itu kasarnya.

Mendengar kata janda pasti ada saja beberapa dari Anda yg mengernyitkan hidung, seolah itu adalah kata yang tak pantas didengar. Mendengar kata itu mungkin mereka yg saat ini menikah akan mengucapkan kalimat naudzubillah min zalik untuk menunjukkan betapa mereka tak ingin menjadi salah seorang dari penyandang kata tersebut di dunia. Sebagian yg lain, yg single tapi sdh lumayan matang usia, mengernyitkan hidung dan berkata “alhamdulillah, meski saya belum juga laku, minimum saya tidak jadi janda”. Sementara untuk para lelaki, kata itu seolah jadi sasaran empuk, entah dengan niat hendak melindungi, atau hendak iseng saja, kata janda membuat lelaki ingin mendekati, merasakan sensasi, memberikan kebahagiaan sesaat, janji janji semu, di modus, lalu akhirnya ditinggalkan. Seolah-olah janda adalah makhluk kuat yang tak akan tersakiti meski diiming imingi janji manis lalu ditinggal pergi. Kalimat kasarnya “sudah janda ini”. Bagi wanita-wanita lain, bertemu janda membuat mereka mengencangkan ikatan ke suami suaminya. Seolah olah janda adalah makhluk binal yang siap menerkam siapapun makhluk yg bernama laki-laki. Seolah olah kuda pun diberi topeng mirip laki laki akan dikejar oleh seorang janda. Kata-kata “gatal”, “murahan” selalu dialamatkan pada wanita wanita yang berpredikat janda. Sedih sekali.

Bagi si janda sendiri, kepedihan hidup kadang membuat mereka oleng. Mereka bisa berubah menjadi pahit, kasar, tak percaya lagi dengan cinta. Beberapa dari mereka menyalahkan Tuhan atas takdir yang menimpa mereka, beberapa yang lain frustasi hingga lari ke hal yang salah. Pergi ke suatu bar, pesan minuman yang tak pernah disentuh sebelumnya, memberikan excuse ke diri sendiri bahwa ia perlu sesuatu yang membuatnya nyaman, bertemu orang yang salah, entah berakhir dengan dimanfaatkan atau akhirnya terjerumus ke narkoba. Miris. Bagi yang lain, mungkin akhirnya si janda berakhir jadi istri simpanan hanya demi materi. Atau akhirnya terjerumus ke prostitusi hanya demi ekonomi. Sebegitu dahsyatnya hantaman hidup yang bernama pecahnya sebuah rumah tangga. Belum lagi cap sosial yang dialamatkan masyarakat pada mereka. Who is janda? Mereka adalah wanita-wanita yang kehilangan pernikahannya (karena satu dan lain hal) lalu berakhir dengan perpisahan. Dalam bahasa Inggris, janda yg berpisah hidup dengan suaminya disebut sebagai DIVORCED sedangkan yang janda karena suaminya meninggal disebut sebagai WIDOWED {{428 Allen, Douglas W 1992}}. Biasanya tatanan sosial kita di Indonesia masih menaruh hormat pada WIDOWED tapi memandang sebelah mata pada mereka yg DIVORCED. Padahal hendak diapakan pun, si janda ini juga tak ingin takdir hidupnya pahit seperti itu. Siapa yg hendak menikah lalu berpisah, buang buang waktu saja. Belum lagi, jika ia menjanda karena korban perselingkuhan. Atau karena ia menolak untuk dipoligami. Rasanya tidak adil jika social judgement membuat mereka terkucil, tersisih, hingga akhirnya berkumpul dengan orang-orang salah yang akan menggiring mereka lebih jauh ke arah yang salah. Bisa kita lihat dari  mereka yang berpisah dan akhirnya buka jilbab, gonta ganti laki laki, jadi istri simpanan, berakhir dengan narkoba, minum atau hal buruk lainnya. Menyedihkan.

Perlu kita ketahui, social judgement itu sangat sangat powerful dalam menggiring pola berpikir manusia {{429 Innes-Ker, Åse 2002}}. Jika ada orang yang masih belum yakin akan integritasnya lalu Anda berkata “kamu maling” terus menerus, suatu saat ia akan menerima persepsi itu lalu akhirnya berakhir menjadi maling. So, adalah sangat penting saat rumah tangga seseorang porak poranda, ia harus terus menanamkan persepsi dalam dirinya “I am not a bad person, this is just a bad luck”. Ia harus terus menanamkan pikiran itu dalam dirnya, semata mata agar ia tidak terjerumus ke hal yang salah lalu menjadi orang yg salah. Meskipun social judgement terus menggempur dan berkata bahwa ia janda, wanita gagal, wanita yang berpotensi merusak rumah tangga orang lain, si janda harus terus menerus meyakinkan dirinya bahwa ia bukan orang jahat. Ia akan terus berusaha jadi orang baik meskipun lingkungan terus mendeskripsikan dirinya sebagai orang gagal. Berat, tentu saja, apalagi jika terus terusan dianggap demikian. Tapi bukan tidak mungkin.

Satu hal yang saya propose disini saat seseorang ditakdirkan menjadi janda adalah, DO NOT GO TO A BAR. Jangan pergi ke tempat tempat salah. Pergilah menuju ilmu, pendidikan. Menjadi janda justru sebuah kesempatan untuk menerbangkan mimpi setinggi langit, merubah kesulitan hidup menjadi keberhasilan. Ber transformasilah. Jangan jadi janda powerless yang hanya mengandalkan laki-laki dengan janji-janji kosongnya untuk meningkatkan eknomi. Iya, saya paham, menjadi janda itu tidak mudah. Bagi Anda yang awalnya sangat tergantung pada pendapatan suami, tiba-tiba Anda harus mengandalkan diri sendiri. Tapi bukan berarti harus mengemis pada laki-laki lalu berakhir dengan kepasrahan saat dijadikan istri simpanan dengan kalimat “yah, saya sudah janda ini”. SALAH! Bangkit. Menjadi janda adalah awal kebangkitan dari mimpi rumah tangga yang runtuh. Ini cita-cita saya sepulangnya saya ke Indonesia. Saya ingin mendirikan wadah yang empower janda melalui education. Bagi yang sebelum menikah belum sarjana, ini adalah kesempatan untuk sekolah lagi. Atau jika pun Anda tak punya uang, ini adalah awal berusaha membuka usaha, mandiri dengan pendapatan sendiri. Bagi yang dulunya saat menikah tak bisa sekolah ke luar negeri, ini adalah kesempatan. Para janda harus merubah image mereka. Mereka bukan wanita gatal yang kerjaannya menggoda suami orang. Mereka adalah wanita terhormat, berpendidikan, bermartabat, kuat secara finansial. Mereka mungkin tidak kaya, tapi juga tak akan mengemis di kaki laki-laki. Bagi para janda yang setelah berpisah terus disakiti oleh mantan suami, tunjukkan bahwa Anda bukan Anda yang dulu lagi. Anda telah tumbuh jadi wanita berpendidikan, tahu cara menghargai diri sendiri. Dan jika pun Anda harus berakhir sendiri dalam hidup ini, Anda tak takut lagi.

Tentu tak mudah tetap berpikir waras saat badai perpisahan melanda para janda. Karena itulah, para janda harus memiliki wadah yang memberikan support saat mereka didera kepedihan hidup. Para janda harus diberdayakan melalui pendidikan. Mereka yang oleng, harus menemukan support pada saat tergelap dalam hidup mereka. Mereka harus menemukan wadah yang menaungi mereka untuk sementara, sebelum sayap mereka kuat untuk terbang tinggi. Wadah yang melindungi mereka dari orang-orang jahat yang berusaha memanfaatkan mereka. Wadah yang akan menghindarkan mereka dari bar, narkoba, seks bebas dan laki laki hidung belang. Wadah ini yang saya cita-citakan. Saya ingin meraih para janda di luar sana lalu memberdayakan mereka melalui pendidikan. Yang tidak tahu bahwa ada beasiswa, harus diberi jalan agar bisa melamar. Yang tidak tahu cara berbisinis, harus diberi jalan agar mereka punya kegiatan dan kemandirian finansial. Yang hendak mendekatkan diri pada agama, harus dinaungi dan dikuatkan bahwa ini adalah bagian dari takdir Allah. Yang tak tahu strategi hukum apa yang harus mereka ambil dalam menghadapi mantan suami dan perseteruan yang akan terjadi, harus disiapkan mental dan psikologinya, plus bantuan hukum yang diperlukannya. Yang sudah selesai perceraiannya harus di edukasi bahwa akan ada banyak lelaki hidung belang yg mulai mendekati dan mereka harus tahu bagaimana mengidentifikasi dan menghindari mereka. Saya ingin para janda di luar sana tidak lagi jadi warga kelas dua, terkucil, tersisih dengan berbagai predikat sosial, lalu akhirnya memilih berkumpul dengan orang yang salah yang bersedia menerima mereka namun akhirnya menjermuskan. Mereka harus diberdayakan. Mereka harus diberi kesempatan. Mereka sama saja dengan wanita lain, bahkan jauh lebih rapuh. Mereka harus di edukasi bahwa mereka bukan hanya janda, tapi mereka adalah calon wanita tangguh yang mandiri secara finansial, intelektual dan mental. Sudah saatnya para janda memiliki wadah agar mereka tak merasa sendirian. Agar mereka paham bahwa ada banyak orang lain yang bernasib sama dengan mereka dan selalu ada jalan untuk merubah takdir ini menjadi lebih manis. Menjadi janda tidak harus menjadi THE END OF THE WORLD. Tapi menjadi janda bisa jadi awal kisah manis selanjutnya.

Untuk mewujudkan ini, tentu tidak mudah. Saya perlu dukungan banyak pihak. Saya perlu ahli hukum, saya perlu edukator, saya perlu psikolog, saya perlu ustadzah yang siap bergabung dan mendedikasikan dirinya untuk menolong para wanita yang dikucilkan ini. Saya juga berencana melaksanakan riset seberapa menderitanya para janda, tantangan psikologi yang mereka alami, kesulitan hukum yang mereka alami (karena saya menemukan banyak janda yang ditinggalkan begitu saja tanpa surat-surat yang jelas), dan bagaimana mereka bertransformasi. Saya bersyukur, kecanduan saya pada ilmu menghindarkan saya dari hal-hal yang salah. Kejandaan saya berakhir manis dengan meraih gelar dan berangkat ke luar negeri. Dan meski kepedihan itu masih ada, dan ia hampir membuat saya mati konyol tanpa akses ke anak dan hampir tak punya apa apa pasca perpisahan kami, saya telah bertransformasi dari wanita ini:


·         Menjadi saya saat ini.ve


Saya telah bertransformasi. Kejandaan saya menghasilkan dua gelar master, dan saat ini saya sedang di New Zealand, di University of Auckland, mengejar mimpi PhD saya. Berpendidikan, bermartabat, mandiri secara finansial, intelektual dan mental. Tapi tentu tak semua orang bisa kuat seperti saya. Dan saya juga tidak menjadi seperti ini hanya dengan membalik telapak tangan. Ada banyak masa dimana saya dijauhi dan dikucilkan hanya karena kejandaan saya. Beruntunglah kecanduan saya pada ilmu menghindarkan saya dari tempat dan orang yang salah. Karena itulah saya ingin menguatkan para wanita di luar sana agar saat mereka oleng mereka tak bertemu orang yang salah, tidak pergi ke tempat salah, tidak berakhir dengan menjadi orang yang salah. Saat ini saya baru bisa melaksanakan ide ini melalui tulisan-tulisan saya. Namun, suatu saat, tinggal menunggu takdir Allah, saya ingin berdiri di luar sana, menguatkan mereka, para janda bahwa masih ada happy ending dari kejandaannya. Itu cita-cita saya. Empowering janda through education. Insya Allah.

Apakah dengan tulisan ini Anda pikir saya mendukung per janda an. Hoho, tidak. Tentu saya mendukung pernikahan dan bahkan berencana menikah lagi. 

Namun apakah kita bisa merencanakan takdir. Dan kasihan sekali mereka yang sudah janda, dikucilkan, disalahkan, tak punya uang, tak berpendidikan dan akhirnya bertemu mereka yang salah lalu menjermuskan. Saya hanya ingin mereka yang ditakdirkan kurang beruntung dalam pernikahan, tak merasa sendiri dan berakhir menjadi orang yang salah atau berbuat salah. Tak perlu lagi ada Reza Artamevia di dunia ini. Para janda harus diberdayakan. Dan caranya adalah dengan pendidikan. Pendidikan agama, hukum, psikologi, finansial.

Menjadi janda bukan akhir dari segalanya. Itu adalah awal dari kisah baru yang manis. Kisah percintaan Anda dengan diri Anda sendiri. Untuk lebih mengenal siapa Anda dan apa yang Anda inginkan dalam hidup. Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dalam pernikahan palsu hanya demi status. Jangan buka jilbab Anda, jika saat ini ada berjilbab. Jangan minum, jangan ke bar. Masih banyak hal positif lain yang bisa dilakukan seorang janda. Sekolah lah, tuntutlah ilmu, ber bisinis, melakukan pekerjaan sosial, jauhi orang orang yang salah. Anda masih bisa bertransformasi. Percayalah, just because you are a janda, you are not a bad person. I can say that, because I am one of them. 

Auckland, 9 Oktober 2016,

-NK-


References

Allen, D. W. (1992). Marriage and divorce: Comment. The American Economic Review, 82(3), 679-685.


Innes-Ker, Å., & Niedenthal, P. M. (2002). Emotion concepts and emotional states in social judgment and categorization. Journal of Personality and Social Psychology, 83(4), 804.