Sunday, 15 May 2016

KISAH KULKAS DAN LEMARI AJAIB: A "BAROKAH" STORY (QS: At-Thalaq:3)

Hello everyone.

Hari ini saya tiba tiba ingin menulis. Menulis memang hal yang disarankan dokter untuk memahami apa yang sedang ada di kepala saya. Terapi menulis sangat baik untuk orang depresi karena selain itu memberikan mereka "something to do", menulis juga membuat mereka memahami apa yang sedang ada di kepala mereka. Terus terang saat ini saya sedang beristirahat total, karena selain saya sedang mengurus kepindahan PhD ke school of education, saya juga sedang menjalani terapi depresi. Sehingga, sehari-hari jika tidak sedang menemui dokter atau menjalani sesi terapi dengan konselor, saya ya di kamar. I don't really like going out. Selain karena dingin, saya juga bukan orang yang senang berkumpul. Kadang saya takut mengganggu orang lain, atau juga karena saya merasa lelah dan ingin sendiri saja, dengan musik dan diri saya di kamar. Sahabat saya, ya laptop. Karena melalui media ini, internet saya dapatkan, unlimited, tanpa putus. So, here I am, writing something I like.

Well, edisi kali ini saya ingin berbagi kisah. Alkisah, di negeri far far away, hehe, ada seorang wanita yang hidup sendirian di kamarnya. Ia memiliki kulkas dan lemari ajaib, yang terisi dengan sendirinya. Ok lah, nggak cocok, ganti aja mah. Yah, hari ini saya ingin bercerita tentang kulkas dan lemari ajaib saya. Kulkas ini disediakan oleh unilodge begitu pun lemarinya, yang compact dengan dapur. Terus terang dapur adalah hal yang paling saya sukai dari suatu hunian karena saya suka memasak. Dan saat saya di Samarinda, saya sedih banget karena kamar kos yang kecil mungil milik saya itu tidak ada dapurnya. Yah, memang di sekitar tempat tinggal saya selalu ada sayur dan lauk yang dijual di warung warung. Namun, ya tetap saja, saya kehilangan dapur. I miss being in kitchen.

Saat di hostel, dapurnya sharing dengan orang banyak dan kadang kadang tutup jika saya ingin masak saat tengah malam. Seperti Anda tahu, saya tidak begitu suka berpapasan dengan orang saat saya melakukan kegiatan saya. Aneh memang, tapi itulah saya, penyendiri. Selain itu, jarak dapur ini jauh dari kamar sehingga kadang suka sebel saat ada bumbu yang ketinggalan di kamar. Tapi sejak saya masuk di unilodge, yay, I got my own kitchen. Dan karena ini studio apartment lengkap dengan dapur dan shower sendiri, jadilah saya bahagia dengan kesendirian saya.

Ok, lets get back tentang kulkas. Seperti saya bilang, kulkas saya ini selalu terisi, lengkap. Ada susu putih, susu coklat, keju, kentang goreng, bumbu dapur, es krim di freezer, ayam, beef, sosis buah, buah kaleng, sarden, wis pokoknya komplit. Coklat juga yang cair ada yang batangan ada. Pokoknya saya tinggal milih mau makan yang mana. Di sela sela kulkas ini pun, ada croissant atau muffin yang selalu tersedia untuk sarapan saya.
Soda, mayones, margarin, semua wis ada tinggal pilih. Dan alhamdulillah, ini selalu terisi tanpa se dollar pun keluar dari tabungan saya. Murni saya hanya bayar sewa kamar disini dan saat saya perlu beli yang saya inginkan dan itu pun sedikit sekali.
Selain itu, lemari yang ada di atas cooktop saya juga selalu terisi penuh. Bahkan tissue toilet saja itu dibelikan yang pakai aloe vera supaya tidak iritasi kulit. Minuman, makanan, spaghetti, mi dengan bermacam macam rasa, teh, kopi, gula, tepung dengan berbagai bumbu masak kering selalu tersedia. Subhanallah, betapa besar nikmat Allah untuk saya.
Dan setiap weekend, lemari dan kulkas ini akan terisi penuh, hadiah darinya untuk bahan makanan saya seminggu ke depan. Jika pun saya terlalu lelah untuk keluar karena dingin atau saat di awal awal saya kena depresi berat itu, biasanya paket sembako ini akan datang ke reception unilodge setiap Senin pagi. Mereka bahkan sudah hafal si pengirimnya sehingga cukup menelpon saya dan bilang "your RC pack is here" singkatan mereka untuk Russell Church hehe. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, hanya itu yang bisa saya ucapkan. Banyak bersyukur atas rahmat Allah SWT untuk saya.

Ok, lalu apa hubungannya dengan barokah? Barokah adalah manfaat dari suatu rizki. Sehingga disarankan kita untuk meminta RIZKI YANG BAROKAH. Karena rizki yang tidak barokah akan membawa kita pada kemudaratan. Kita bisa saja mendapatkan uang 10 juta sehari, namun uang itu sia-sia. Tidak bermanfaat baik bagi kita ataupun orang orang di sekeliling kita. Mungkin kita akan sakit atau hal lainnya yang membuat kita tidak menikmati uang tersebut. Sementara, rizki yang barokah akan memberikan manfaat bagi kita dan orang orang di sekeliling kita. Barokah, itulah value dari suatu rizki. Nilai, itu yang kuta cari dalam hidup ini. Karena angka itu hanya sekedar angka, namun nilai, barokah, itulah yang membedakannya. Uang beasiswa boleh 2,000 NZD sebulan, tapi barokahnya bisa berlipat lipat. Seperti tempat tinggal yang nyaman, makanan yang tersedia cukup, kesehatan, jaminan keamanan. Itu yang membedakan.

Jadi mintalah rizki yang barokah. Jangan pernah buruk sangka dengan takdir Allah. Itu pasti yang terbaik untuk masing masing kita. Jangan lepas untuk tetap bertakwa, karena hanya orang yang bertakwa yang akan diberikan jalan keluar dan rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka. It is true.

Alhamdulillah.

Auckland, 16 Mei 2016

-NK-




Saturday, 14 May 2016

My Top Five of The Week (second Week of May)

Hi all, happy weekend from New Zealand!

Well, saat ini seperti biasa, saya akan posting tentang 5 hal yang saya syukuri minggu ini. Mungkin ada diantara Anda yang bertanya kenapa cuma 5 hal. Yeah, sebenarnya banyak abnget yangs aya syukuri setiap harinya, cuma untuk lebih nge hitss ya dipilih 5 saja selama seminggu. Selain karena hari kerja itu 5  hari dimana lebih banyak dinamika yang terjadi selain saat weekend, dan juga kelihatan lebih keren ah kalau disebut TOP FIVE OF THE WEEK, iya kan hehehe. Itulah alasannya kenapa postingan saya tentang hal yg saya syukuri selalu saya sebut sebagai TOP FIVE OF THE WEEK.

Ok, minggu ini masih seperti biasa, hidup saya masih menunggu. Menunggu kabar saya diterima atau tidak di fakultas yang baru yaitu School of Education and Social Work. Setelah dihantam depresi, lalu mengumpulkan dukungan dari dokter, konselor dan supervisor, dan disetujui oleh LPDP, saat ini saya sedang menunggu tanda diterima di fakultas yang baru untuk segera memulai PhD saya di bidang yang baru. Menegangkan? Pastinya. Tapi saya yakin, usaha saya sudah maksimal, sehingga saat ini saya menyerahkan segalanya pada Allah SWT, apa keputusan terbaik untuk saya. Well, here are my top five of this second week of May.

One, my HOW TO DEFEAT DEPRESSION program
Sebenarnya saya hampir putus asa menghadapi depresi ini. Ini seperti penyakit aneh. Saya tidak ada keluhan fisik apa apa tapi selalu merasa pusing, mual, muntah tanpa sebab. Bahkan hingga minggu kedua April, saya susah sekali bangun dari tempat tidur. Ada saat dimana saya bahkan ditolong oleh mekanik unilodge hanya untuk sekedar mengambil obat depresi saya di lemari. Bayangkan, saya sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur. Setelah itu, saat saya pergi ke luar ruangan, saya merasa bangunan bakal menimpa saya. Saya benar-benar merasa saya sepertinya sudah gila. Namun, alhamdulillah sejak awal Mei, saya merasa membaik. Sakit kepala saya sudah mulai menghilang dan badan saya terasa segar.
Saat inilah saya mulai meneruskan membaca buku 15 steps to overcome anxiety and depression, buku yang saya pinjam dari Uni of Auckland Library. Disini ada 15 langkah setiap minggunya untuk mengatasi depresi. Kelihatannya aneh saya harus berlatih supaya tenang dan tidak stress, tapi memang depresi itu sungguh mengerikan, saudara saudara. Saya bisa berkata begini karena saya merasakan hal itu.
Program pertama di buku ini adalah RELAX. Saya berlatih teknik relax setiap hari selama 5 menit tiga kali sehari. Dan program minggu keduanya yang saat ini saya jalankan adalah OLAHRAGA MINIMAL 30 MENIT SEHARI. Ini benar-benar OK. Awalnya tentu saya merasa lelah apalagi sudah sebulan setengah saya hanya berbaring di tempat tidur tanpa beraktifitas yang berat. Namun setelah saya jalani, treadmill, rowing, yoga, cycling, alhamdulillah saya merasa jauh lebih sehat. Akhirnya saya bertekat akan menjadikan ini kebiasaan saya. Yah, tentu tidak mudah, namun kebiasaan baik harus dilestarikan. Dan saya pikir it is time to do sport again.
Program di buku ini benar-benar saya syukuri karena buku ini seperti berbicara dengan saya tentang depresi. Jadi saya benar-benar merasa dituntun. The book talks to me hehehe. Dan setiap hari akhirnya saya habiskan dengan membaca langkah demi langkah dari buku ini yang saya aplikasikan satu demi satu. Dan semoga dengan ini, depresi saya benar-benar akan terlewati. Amin!

Two, my GREAT UNILODGE
Saya tidak pernah berhenti bersyukur tinggal di Unilodge. Yeah, sewanya memang mahal, 300 dollar seminggu dan itu saya bayar sendiri artinya saya tidak berbagi dengan orang lain atau menyewa satu tempat lalu sharing sewa. Ini studio apartment. Namun yang saya syukuri adalah, despite sewanya yang tinggi, tempat ini nyaman banget. Saya punya dapur sendiri, punya shower yg ok, punya gym, swimming pool meskipun saya gak bisa berenang hehehe, punya meja billyard kalau lagi bosen meskipun saya nggak pernah main hehehe dan INTERNET UNLIMITED yang super cepat karena jaringannya terkoneksi dengan uni of auckland. Coba bayangkan, saat saya di hostel, iya sih, sewanya cuma 200 dollar seminggu, tapi itu cuma kamar. Toilet sharing yang kadang bikin saya nggak nyaman karena harus berpapasan dengan bule lain. Shower sharing, bahkan dapur yg buat masak masak juga sharing, dan tutup jam 11 malam, padahal kadang tengah malam saya masih lapar hehehe. Lalu jarak dengan bus stop yang jauh banget dan yang sering bikin gak puas adalah internetnya cuma 2GB seminggu dan harus beli lagi kalau pas lagi habis. Sementara di unilodge youtube saya nggak pernah putus karena internet yang super cepat dan unlimited. Selain itu, fasilitas yang lengkap dan manajemen yang profesional karena mereka attach dengan uni of auckland, jadi gak akan macam macam hehehe. Belum lagi fasilitas gym yang bikin saya nggak perlu jauh jauh berolahraga. Itulah sebabnya unilodge adalah kediaman yang pantas saya syukuri.

Three, my WONDERFUL INSURANCE
Yup, asuransi. Ini adalah hal yang paling menyenangkan saya pikir dari keberadaan saya di Auckland. Kalau biasanya jika ingin berobat, yang pertama kita tengok adalah isi dompet, namun disini saya benar-benar dijamin bebas biaya untuk ketemu dokter, bahkan dapat obat-obat paten yang oke banget. Semuanya karena kami di cover asuransi yang terkait dengan SPP uni of auckland. Asuransinya sih namanya student safe yang berada di bawah allianz. Namun servicenya ok banget. Sejak awal Januari saat saya masuk rumah sakit, mereka benar-benar profesional menangani saya. Saat itu terus terang saya agak keder melihat tagihan rumah sakit yang hampir 2,000 Dollar atau 20 juta rupiah. Busyet, dapat uang darimana segitu. Namun dengan tawakkal, saya kirim formulir dan mengklaim penggantian biaya. Dan cuma perlu seminggu, mereka telah melunasi tagihan rumah sakit itu, Benar-benar mudah dan gak berbelit belit.
Dan minggu depan saya akan menjalani mammogram. Itu adalah x ray untuk payudara karena saya menemukan benjolan di dada kanan saya. Awalnya saya juga khawatir mereka tidak approve karena saya merasa banget sudah banyak tagihan yang saya kirim ke asuransi ini hehehe. Saya sepertinya satu satunya mahasiswa internasional yang sering sakit. Sejak Maret hingga April, saya benar-benar ditangani dokter dan konselor dan semua tagihan kosnultasi, obat semua ditagihkan ke asuransi. Jadi saya ya agak keder untuk tagihan mammogram ini sehingga saya minta pre approval terlebih dahulu. Dan alhamdulillah, pre approval saya disetujui sehingga minggu depan ini saya bisa menjalani mammogram dan ultrasound untuk memastikan benjolan tersebut. Lengkap dengan konsultasi ke dokter bedah untuk membicarakan hasil pemeriksaan. Saya akan ditangai ahli kanker payudara di New Zealand. Dan semuanya ditanggung asuransi. Isnt it wonderful?

Four, my love story
Yes, ini adalah hal yang juga saya syukuri. Meski tidak muda lagi, namun perubahan di bidang asmara dalam hidup saya ini tentu membawa kebahagiaan hehehe. Apalagi, saat ini yang kami jalani adalah hubungan antar orang dewasa yang sudah jauh dari kesan cemburu buta, jauh dari kesan menggebu gebu, kami saling dukung, saling support, menikmati kebersamaan masing masing. Dan ia benar-benar partner yang oke, despite umurnya yang terpaut jauh dari saya. Ia adalah seorang sahabat baik yang bisa diajak berbagi dari cerita hidup hingga program TV. Ia bukan hanya seorang kekasih romantis, yes, ia romantis, banget romantisnya, tapi ia juga sahabat baik. Jadi hubungan ini terasa begitu tenang, menyenangkan, tanpa ada drama atau roller coaster feeling. Tidak ada tuh namanya menunggu nunggu sms nya, ia selalu sms sebelum saya gusar menunggu. Ia selalu bercanda, meski kadang kadang silly, tapi itu bikin saya kangen hehe. Belum lagi dukungannya pada saya yang begitu massive. Ia tidak pernah berhenti percaya bahwa saya mampu melakukan sesuatu yang besar bahkan saat saya tidak percaya lagi dengan diri saya. Selain itu, ia juga kekasih yang romantis, penyayang, seorang lelaki yang begitu menghormati saya dan membanggakan saya. Saya benar-benar merasa tersanjung saat bersamanya. Jujur, bahkan ia membuat saya merasa seperti gadis perawan yang masih muda dan belum pernah gagal dalam pernikahan. Anda tahu, kadang laki-laki memandang rendah pada wanita seperti saya ini dan cenderung merendahkan. Intinya sih, banyak aja yang menikahi janda namun dengan banyak catatan SUDAH UNTUNG SAYA MAU SAMA KAMU, sehingga si wanita cenderung hopeless dan akhirnya menikah dengan opini daripada nggak ada. Namun, Russell Church adalah laki-laki yang begitu menghormati saya, meskipun ia tahu seluruh masa lalu saya. Ia masih berkenan menerima dan menghormati saya. Bahkan lebih dari saat dulu saya masih perawan dan dipinang untuk pertama kalinya hehehe. Itu yang bikin saya bahagia banget dimuliakan sebegitu rupa olehnya.



Five, me, still ME!
Yah, meskipun mungkin banyak yang tidak paham dengan gaya saya, namun saya benar-benar mencintai diri saya ini. Karena meskipun saya sendiri, saya tidak pernah merasa kesepian. Saya selalu bisa menciptakan kebahagiaan meskipun saya sendiri. Dan dengan gaya sendiri, saya menemukan jalan untuk survive. Saya memang penyendiri, terutama sejak jalan hidup saya berubah, saya lebih suka hidup dengan diri saya. Namun saya tahu, justru dengan itu, saya terhindar dari ghibah, dari iri dengan hidup orang lain, dari tindakan menghakimi orang lain. Karena saya merasa hidup saya aja belum benar, gimana saya bisa menghakimi orang lain hehehe. Selain itu, fokus dengan diri saya sendiri membuat saya bisa fokus dengan kekuatan saya dan akhirnya menghasilkan pencapaian. Saya tidak bergantung pada orang lain. Saya posting apa yang saya suka di fb saya, ada yang komen syukur, gak komen juga gak apa apa. Ada yang kirim pesan di inbox ya dibalas, kalau pun sepi yo wis, berarti saya bisa fokus dengan hal lain. Saya tidak punya teman akrab, tapi saya akrab dengan banyak orang. Saya tidak pilah pilih dalam bersahabat, niat saya hanya satu bagaimana saya bisa memudahkan hidup orang lain. Dan saya bersyukur, meski saya tidak punya banayk dalam hidup, hati saya benar-benar penuh dengan syukur hingga kadang malam hari saat saya tidur, saya bisa tidur dengan senyum mengingat betapa ajaibnya hidup saya dan tidak semua orang dipercaya untuk menjalani takdir seperti yang saya jalani. Meski sehari hari saya sendirian di kamar saya di unilodge ini, saya selalu bisa menciptakan kebahagiaan. Saat sampai waktu shalat, saya shalat, kadang saya mengaji, kadang saya mendengarkan musik, atau memasak, selalu ada hal yang bisa dilakukan. Dan itu menarik untuk saya. Dan demi kualitas diri yang begitu solid ini, saya bersyukur menjadi diri saya. Yes, me, still me!

Well, itulah lima hal yang saya syukuri minggu ini. Bagaimana dengan Anda? Think of your top five of the week, dan berbahagialah. Karena tidak semua manusia, dikaruniai hati yang mampu bersyukur.

Auckland, 15 Mei 2016

-NK-

Saturday, 7 May 2016

My top five of the week (First week of May)

Dear Everyone.

Alhamdulillah, hari ini saya merasa positif. Sepertinya diri saya yang positif telah 80% kembali. Sejak seminggu yang lalu, saya merasa progress kesembuhan saya berjalan sangat baik. Kabar baik dari LPDP yang menyetujui perpindahan PhD saya benar-benar mengangkat beban berat yang saya tanggung selama ini. Selain itu, obat escitalopram yang diberikan dokter juga di dobel dosisnya sehingga mempercepat pergerakan kesembuhan saya. So, here I am, jam 8 pagi waktu Auckland, menulis hal yang saya syukuri seminggu ini.

One, my health
Alhamdulillah, kondisi saya mulai membaik. Saya tidak lagi merasa mual, pingin muntah, atau melayang layang. Kondisi saya benar-benar 80% telah kembali. Ya, kadang kadang masih berat untuk bangun pagi, tapi setidaknya hati saya sudah bisa mensyukuri hal-hal kecil, kualitas diri saya yang sempat hilang akibat depresi. Penyakit ini sangat mengerikan ternyata. Saya pikir ini hanya penyakit mental yang tidak akan menyerang fisik, namun ternyata saya salah. Depresi bisa berakibat fatal pada kesehatan. Dan itu sudah saya rasakan. Saya seperti tenggelam dalam samudera kesedihan dan susah untuk berenang ke permukaan. Namun, alhamdulillah, hal itu telah 80% terlewati. Meski masih dengan dukungan obat dengan dosis dobel, namun pelan pelan dokter dan konselor akan menyesuaikan dosis ini hingga akhirnya saya bisa lepas dari obat. Setidaknya saat ini saya bisa senyum dengan hembusan angin, atau melihat langit, sesuatu yang sejak saya depresi tidak saya rasakan lagi di hati saya. Itu sebenarnya yang saya sedihkan dari depresi saya. Saya tidak sedih karena tidak bisa bangun pagi atau kepala yang berputar-putar. Saya sedih karena kehilangan kemampuan bersyukur. Itu adalah kualitas diri saya yang paling utama dalam menghadapi berbagai kesulitan dalam hidup sendiri saya. Namun, alhamdulillah, hal itu telah kembali. Kesehatan saya mulai membaik dan semoga saya siap bekerja lagi.

Two, LPDP
Ini hal kedua yang saya syukuri. Sejak minggu lalu sebenarnya, LPDP telah resmi menerima surat perpindahan jurusan yang saya ajukan. Ini sebenarnya saya lakukan di tengah kepala saya yang pusing, saya berjuang agar kehadiran saya di Auckland tidak sia sia. Saat itu saya hanya berpikir bagaimana bernegosiasi dengan sponsor yaitu LPDP agar mau membiayai saya di jurusan yang baru yaitu di education. INI JUGA UNTUNGNYA MEMILIKI DUA GELAR MASTER. Saya sengaja tebalkan dan caps lock kalimat itu, karena benar-benar saya ditolong oleh dua gelar master saya. Sekali lagi, saya melihat bahwa jika kita berilmu, maka ilmu yang akan menjaga kita. Ijazah, meski hanya selembar kertas, itu besar nilainya. Dan di Auckland sini, saya menemukan lagi the power of ilmu. Saat PhD saya tidak sesuai harapan di Kimia, saya bisa membelokkan jurusan karena saya punya gelar master pendidikan. Namun, tentu tidak cukup dengan itu saja. Saya harus punya supervisor yang baru, dan saya tidak kenal siapa siapa selain Jon. Dan dengan kepala yang pusing, mulailah saya bergerilya dengan email dari kamar saya. Mengirimkan beberapa email ke supervisor yang potensial menerima saya. Dan berkat bantuan Jon, saya menemukan seorang supervisor lagi yang ahli di bidang pendidikan kimia.
Setekah itu, apa perjuangan saya selesai? NOOO. Saya berjuang lagi menemui tiga supervisor yang berniat mewawancarai saya. Akhirnya saya memilih dua diantara tiga supervisor yang berkenan menerima saya. Hehe, bayangkan, dengan kepala depresi, saya yang memilih supervisor saya yang baru. Benar-benar pengalaman ajaib.
Apakah masalah selesai? Hoho, beluuumm. Tentu LPDP tidak akan berkenan menerima permohonan saya jika tidak ada bukti yang menyatakan bahwa kesehatan saya memang terganggu. Perlu ada alasan kuat kenapa saya memilih pindah. Lalu saya menemui dokter, konselor, Jon dan dua supervisor di education untuk menulis surat rekomendasi untuk saya. Perlu ada alasan kuat bahwa Jon selaku supervisor saya yang lama mengetahui keinginan saya untuk pindah dan menyetujui itu. Perlu ada dua supervisor baru yang siap menerima saya di education dan perlu ada bukti surat dokter dan konselor yang memperkuat alasan kepindahan saya. Dan, yes, setelah semua terkumpul, mulailah saya menulis email permohonan dengan banyak memohon maaf pada LPDP atas masalah yang terjadi di luar kontrol saya. Terus terang saya belajar ber negosiasi saat di India. Disitulah saya belajar bahwa saat ber negosiasi penting sekali untuk menyatakan semuanya dengan tertulis. Dan jika harus mundur beberapa langkah untuk maju lebih cepat dalam bernegosiasi, lakukanlah. Dan itu yang saya lakukan. Saya tidak gegabah menulis email dengan bukti kosong ke LPDP, tapi saya menulis email terstruktur, dengan alasan kuat dan bukti cukup untuk pindah.
1. Saya direkomendasi oleh Jon.
2. Saya direkomendasi oleh dokter dan konselor.
3. Saya didukung oleh dua supervisor yang baru di education.
Setelah semua siap, lalu saya upload semua dokumen itu dan menulis kalimat di akhir email saya bahwa jika memang ada rejeki saya untuk PhD maka LPDP akan menyetujui ini. Karena jujur saya benar-benar sudah pasrah akan semua hal yang telah terjadi di Auckland ini. Saya benar-benar tidak menyangka akan terkena depresi dan semua tidak berjalan sesuai yang saya harapkan. But anyway, alhamdulillah, tepat tanggal 25 April, saya menerima balasan LPDP MENYETUJUI perpindahan program studi saya. Sejak saat itu, meski beban masih banyak di pundak saya, setidaknya satu beban telah terangkat. Hari itu, Russell menelpon saya sesaat mendengar kabar itu dan kami sangat bahagia karena tahu saya tidak akan pulang lebih cepat, seperti yang kami kira sebelumnya. Alhamdulillah, meski dengan resiko tahun terakhir harus saya tanggung sendiri, setidaknya saya masih ada sponsor hingga tiga tahun ke depan.

Three, Materai
Heheh, iya materai. Siapa yang menyangka saya akan memerlukan materai untuk adendum kontrak. Murah sih, cuma dua lembar materai 6000. Tapi siapa yang punya materai di Auckland sini. Itu pertanyaaannya. Hehehe, alhamdulillah, hari Rabu pagi, saya berdoa saat shalat Dhuha dan benar-benar bersujud minta pada Allah, please kirimkan saya materai. Dan saya selalu berdoa seperti orang yang meminta langsung, tanpai pakai embel-embel bahasa Arab, malah biasanya saya campur dengan bahasa Inggris, yang penting yang nyaman buat saya saja. Hehehehe. Dan akhirnya, yay, Allah Mengirimkan materai untuk saya dari Wellington. Ada staf kedutaan yang akan bertugas ke Auckland. Alhandulillah, bahkan saya tidak perlu membayar dan hanya perlu mengganti materai itu dengan materai lagi saat kiriman dari Samarinda datang untuk saya. BEnar-benar Allah itu the true provider. Allah itu Maha Menyediakan, tepat saat kita membutuhkan.

Four, Russell Church
Ia adalah orang yang begitu mendukung saya saat depresi ini melanda. Ia rela membersihkan kamar saya, wc, dapur, saat saya benar-benar tidak bisa bergerak. Ia membawakan makanan, membesarkan hati saya, menunggui saat saya ke dokter, mengantarkan kemana pun saya perlu. Ia tidak hanya seorang yang begitu mencintai saya. Ia adalah seorang sahabat baik. Ia benar-benar menemani saya dengan kasih sayangnya. Ia, adalah orang yang harus saya syukuri keberadaannya selama saya di Auckland ini. Saya benar-benar beruntung bertemu dan ditemani seseorang yang begitu setia, begitu berkomitmen, begitu berdedikasi, begitu menyayangi tanpa syarat. Apakah saya seorang mahasiswa PhD yang sukses atau seorang yang terkena depresi, baginya yang penting adalah saya tetap saya. Nurul Kasyfita.

Five, ME, yes, ME!
Ya, diri saya ini adalah my top five of the week. Anda bisa bilang saya narsis, or whatever, yang jelas tidak mudah untuk tetap survive dan waras dengan segala hal yang telah saya alami dalam hidup. Sehingga, keberadaan diri saya yang tetap menolak untuk menyerah, tetap bisa berpikir bahkan saat keadaan benar-benar tidak mendukung, masih bisa menemukan solusi di tengah kesendirian, itu adalah anugerah yang tidak terkira. Dan meski sempat kehilangan keceriaan dan rasa syukur yang biasanya tetap ada di hati saya sejak saya terkena depresi, namun setidaknya hal itu tekah kembali saat ini dan itu yang sangat saya syukuri, alhamdulillah. Semoga Allah tetap memberkahi saya dengan otak yang tetap bisa berpikir dengan hati yang penuh syukur, dan dengan semangat juang yang tak pernah putus, amiin ya rabb.

Well, those are my top five of the week. Hanya sekedar berbagi hal kecil yang saya syukuri dalam hidup. Bukan bermaksud pamer, karena walah saya tidak punya apa apa untuk dipamerkan hehehe. Hanya sekedar berbagi tips untuk tetap bersyukur. Karena Anda yang punya jauh lebih banyak dari saya, mestinya juga bisa lebih bersyukur! Amin!

Auckland, 8 Mei 2016

-NK-

Saturday, 9 April 2016

WHAT'S MEANT TO BE: THE ENGAGEMENT STORY

Hello everyone. Good morning.

Hari ini hari minggu, meski saya masih juga belum sehat sepenuhnya, saya mencoba menulis. Kali ini tulisannya tentang WHAT'S MEANT TO BE. Alias takdir.

Seperti yang Anda tahu, saat ini saya sedang di Auckland, NZ untuk mengikuti program doktoral di bidang kimia organik sintesis. Luar biasa perjuangan dan perjalanan yg telah saya lewati untuk tiba disini. Dengan kesulitan keuangan tahun lalu itu, saya berjuang bekerja di dua tempat sambil merangkai rencana demi rencana untuk berangkat sekolah. Saya bekerja tanpa kenal lelah mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk biaya hidup saya, sedikit untuk orang tua saya, Najwa dan beberapa tiket pesawat dan akomodasi untuk mengikuti berbagai seleksi beasiswa dan visa. Dan yah, saya lulus 2 beasiswa sekaligus, LPDP dan NZAS. Namun saya berangkat dengan beasiswa LPDP kesini.

Saat itu, sepertinya takdir sudah jelas. Saya akan menghabiskan 4 tahun hidup saya di NZ untuk mengikuti program doktoral. Namun, benar-benar tidak disangka begitu terjalnya jalan yg harus saya lewati disini. Awal saya datang, semua masih ramah, semua masih mengajari, meski dengan kecepatan mereka dan kadang saya pun masih tidak menangkap apa yg mereka ajarkan. Dengan tekanan pekerjaan dari Jon, supervisor saya, seorang yg sangat perfeksionis dan ingin kami bekerca cepat tapi juga tepat. Dan hari demi hari saya semakin merasakan siksaan di lab itu. Awalnya hanya dari Jon, karena ia ingin saya bekerja lebih cepat, lalu dari teman teman satu lab. Itu benar-benar menekan dan menyakiti saya. Sejak januari saya pulang dengan menangis sendirian di kamar. Entah karena dimarahi Jon, reaksi yg kacau, NMR reading yg buruk, atau dibentak dan ditertawakan teman satu lab, atau bahkan kombiansi semuanya. Saya merindukan hidup saya yg dulu. Bekerja di EF, bertemu mahasiswa dan siswa, diterima dan tdk dianggap lamban, bodoh atau menjengkelkan.

Dan ternyata takdir lain menunggu saya. Takdir yang sebenarnya seringkali saya hindari. Entah mengapa, sejak saya memilih sendiri, saya selalu didekati laki laki. Namun umumnya mereka akan lari tunggang langgang saat tahu masa lalu saya yang kelam. Jarang sekali ada diantara mereka yg memilih bertahan dengan saya. Entah karena pribadi saya yg rumit, atau karena masa lalu saya yg memang sulit untuk diterima. Beberapa ada yg melamar, bahkan saat saya di India, namun kesungguhan mereka biasanya saya ragukan. Umumnya mereka tidak mampu bertahan dengan saya dan akhirnya berlalu begitu saja.

It takes a strong man to handle a broken woman. Itu benar sekali. Perlu seorang pejantan tangguh untuk bisa terus mengejar saya dan meyakinkan saya bahwa ia serius dengan saya. Dan itu yg tidk saya sangka terjadi di NZ. Terus terang saya tidak pernah berniat menarik perhatian laki laki. Ya, saya berdandan, pakai baju yg sopan dan rapi, tapi tidak ada niat sedikitpun untuk menarik perhatian. Saya cenderung cuek, tidak akan menegur jika tidak ditegur, tapi jika mereka menegur saya akan membalas dengan sopan. Dan datanglah ia, si bule yg bernama Russell yg sedari awal sdh begitu menunjukkan ketertarikannya pada saya. Namun saya tidak percaya dan masih terus menghindar. Satu, saya malas melibatkan orang lain dalam hidup saya yg rumit, dua, karena saya paham betapa beratnya keluarga Banjar saya menerima bule western seperti dia untuk masuk dalam keluarga kami. Apa coba kata tetangga, apa kata sepupu, ah, sudahlah, saya bingung kalau sudah memikirkan ini.

But you know,  what's meant to be. Takdir itu tidak akan bisa dihindari. Dan here I am, tinggal seminggu lagi menuju ke pertunangan saya dg si bule. Hari ini cincin saya rencananya akan diambil dan disiapkan. Ia juga sedang mempersiapkan lamaran romantis antara kami berdua sebelum bertemu keluarganya minggu depan. Bukankah ini sesuatu yg sangat tdk saya sangka tapi akhirnya terjadi juga. Saya sudah mengabarkan ini pada keluarga saya, namun saya masih bingung dengan penerimaan Abah saya. Saya paham apa yg beliau pikirkan. Siapa yg akan pindah. Bagimana kami mengkompromikan perbedaan dua negara ini. Jika saya yg pindah bagiaman dengan tanggung jawab saya di Indonesia. Jika ia yg pindah, akan sampai berapa lama di Samarinda. Saat ini rencana kami berdasarkan negosiasi alot adalah, ia akan mengikuti saya hingga lima tahun, lalu kembali ke Auckland dan menetap disini hingga tua. Saya juga sudah sepakat untuk berpindah kewarganegaraan menjadi a kiwi. Tapi mungkin itu akan terjadi saat saya sudah tinggal dan menetap di Auckland. Tapi lihatlah, bagaimana semua cerita yg tdk disangka bisa terjadi. Awal datang hendak S tiga eh malah dilamar jadi istri. Awal datang hendak bertahan 4 tahun, eh mungkin harus pulang lebih cepat dan kemudian kembali lagi dan menetap lebih lama. Heh, benar-benar tidak disangka.

Tapi itulah takdir. Kita semua hanya bisa berusaha terbaik yg kita bisa. Mengenai hasil dari usaha kita itu Allah yg menentukan melalui takdirNya. Proses pertunangan dan pernikahan ini pun masih tanda tanya apakah kami bisa bersatu dan akhirnya bersama. Karena kita tidak akan pernah tahu apa yg akan terjadi di depan sana. Mungkin kenjutan lain telah menunggu saya, atau bahkan hal lain yg akan terjadi. Allah lah penentuNya.

So, jika sesuatu bukan takdir kita, bagaimana pun dikejar, sekuat apapun kita berusaha, itu tidak akan jadi takdir kita. Namun jika itu memang sdh menjadi takdir kita, sekuat apapun kita menghindar, menjauh maka akhirnya akan terjadi juga.

Saya telah belajar banyak tentang hal ini. Kegagalan sekolah saya saat di farmasi, lalu perceraian saya, lalu kehilangan Najwa, lalu berangkat ke Auckland, kena depresi dan akhirnya berencana menikah lagi, hanyalah gambaran betapa up and down hidup yg saya jalani. Namun sekali lagi, what's meant to be. Apa yg telah ditakdirkan untuk kita, pasti terjadi. Dan apa yg tidak, pasti tidak akan terjadi.

Selamat hari minggu. Stay happy and healthy.

Auckland, 10 April 2016

-NK-


Sunday, 3 April 2016

Auckland, aku mengizinkanmu menemaniku... (the proposals story from Auckland)

Auckland, April 2016

Dear you.

Ini adalah postingan dari orang yang tidak bisa tidur lalu akhirnya memutuskan menulis di blognya. Mungkin karena segelas cola yg kita share tadi sore, mungkin karena kerumitan yg kini mengeliling hidup, mungkin karena rencana masa depan kita begitu exciting dan membuat aku tak bisa tidur karenanya. Entahlah, yang jelas, here I am typing in front of my laptop, almost midnight in Auckland time.

Aku ingin menulis bahwa aku bahagia bersamamu. Terlepas dari kerumitan yg mengelilingi hidupku, kau memberikan rumah untuk jiwaku yg tak pernah beristirahat sejak aku kehilangan kapal rumah tanggaku. Kau menerima masa laluku, berusaha membuatku bahagia, kau melamarku berkali-kali, hingga akhirnya aku menerima mu.

Saat ini sebenarnya aku bingung apa rahasia Allah mengirimku kesini. My PhD kelihatannya tidak berjalan baik, meski bagaimanapun aku berusaha. Dan entah mengapa aku memulai semua perjalanan PhD ku itu tahun lalu. Lalu tiba tiba merubah rencana keberangkatanku dari Februari 2016 menjadi Oktober 2015 yang akhirnya membuat aku transit di Rockland. Seandainya aku berangkat Februari 2016, aku pasti akan langsung masuk unilodge dan tidak akan pernah transit di Rockland. Dan entah mengapa juga, di minggu ketiga aku disana, aku memasak untuk buka puasaku dan kau menemukanku disana. Di dapur, saat kau juga sedang memasak.

Sejak saat itu, kau mengejarku, dan perlu ku akui kau adalah pemburu ulung. Kau begitu fokus dengan buruanmu dan aku hampir hampir tidak mampu menolak berbagai tawaranmu. Entah hanya sekedar berbagi kue, belanja bersama ke supermarket, atau pun hal lain seperti mengunjungi tempat tempat di Auckland atau menjemputku dari kampus. Kupikir saat itu kau mesti berpikir sedang memburu seorang perawan, karena aku tak pernah membuka sisi gelap hidupku pada orang lain, terutama laki laki. Tidak, aku tidak malu atas status sendiriku, namun aku tidak mau lelaki iseng memanfaatkanku dan menganggapku wanita jablay yg murahan dan bisa diajak apa saja. Well, sebagai wanita sendirian, aku harus bisa menjaga diriku.

Tiga minggu setelah kita berkenalan di dapur itu, kau sudah melamarku melalui guru mengajimu. Aku marah saat itu. Aku pikir kau pasti lelaki tua yg kesepian dan mengira bisa mendapatkan seorang wanita Indonesia dengan lamaran murahan. Aku bahkan mem blok guru mengajimu dari facebookku, namun akhirnya aku sadar bahwa kau benar-benar ingin menghabiskan sisa hidupmu, menemaniku.

Lalu tibalah malam saat Jon habis habisan memarahiku di lab.Aku menangis di mobil saat kau menjemputku. Aku ingat Najwa dan rindu sekali padanya malam itu. Saat itu aku berterus terang padamu tentang masa laluku. Kau terkejut dan kupikir kau pasti lari dari perburuanmu. Kau akan menyesal telah menghabiskan waktumu mengejar seorang perempuan yg ternyata punya masa lalu kelam. Namun, aku salah. Kau memilih tetap bersamaku, melamarku lagi malam itu, dan memohon aku untuk menerimamu.

Lalu kau membawaku naik helikopter di sekitar Sky Tower. Kau juga melamarku di helikopter itu. Tapi masih dengan rikuh, aku menolaknu dan mengatakan bahwa aku masih nyaman sendiri dan aku tidak ingin melibatkan siapa pun dalam kerumitan hidupku. Hidupku rumit, itu benar sekali. Dan perlu seseorang yg berhati besar dan mulia untuk menerimaku lengkap dengan paket rumit di belakangku. Ah, betapa aku begitu besar hati menerimaku.

Kau melamarku lagi di Hobbiton, lalu setiap saat kita bersama, kau pasti menyelipkan betapa indahnya jika aku mengizinkanmu menemaniku. Aku masih terus menolak meskipun kau selalu berhasil membuatku tersipu malu saat kau mengatakan betapa menawannya aku di matamu.

Hingga aku masuk rumah sakit. Disitu pula, kau masih berusaha melamarku. Aku masih tak mau mengizinkanmu, aku masih berusaha kuat, meskipun aku akui perjuanganku di Auckland mulai menanjak dan aku mulai lelah dengan segala hal yang menekanku di lab. Yang aku takjub adalah keyakinanmu bahwa aku, adalah takdir Allah untuk mu. Atas keislaman mu, aku adalah kado Allah untukmu. How can you be so sure?

Hingga akhirnya aku jatuh dalam depresi ini. Dengan segala kekuatanmu, kau melamarku lagi. Dan akhirnya aku mengiyakanmu. Aku menerima mu dan kau begitu bahagia saat itu. Dan mulailah rencana masa depan itu kita rancang, meski dengan segala kerumitan yang mengelilingiku.

Yang membuatku terharu adalah, kau begitu memuliakanku seolah olah aku adalah perawan suci yang turun dari surga. Hari ini kau membawaku mencari cincin indah untuk jari manisku. Sepotong berlian bertahta disana, lengkap dengan berlian mungil di sekelilingnya. Kau habiskan hampir 20 juta rupiah untuk cincin itu. Ah, bahkan si pramuniaga pun begitu terharu saat mengetahui betapa kau menabung untuk membelikanku cincin yg sesuai dengan kehendakku. Itu pun saat aku memilih yang murah, kau menyuruhku memilih yg lebih mahal, karena anggaranmu belum melewati apa yg kupilih. Setelah itu kau masih memikirkan bagaimana suasana yg sesuai untukmu berlutut untukku di hadapan orang banyak agar aku tahu itulah cara seorang westerner memuliakan wanitanya. Aku masih belum tahu kejutan apa yg menantiku beberapa minggu ke depan, namun kau berjanji akan memberikanku lamaran yg jauh lebih romantis dari yg sudah kau lakukan untukku. Ah, Barokah Allah untukmu, my lovely old man, terima kasih telah begitu memuliakanku, membanggakanku meskipun aku gagal dalam sekolahku, membahagiakan wanita yg telah berjuang begitu lama sendiri.

Dan malam ini, aku tak bisa tidur lagi memikirkan betapa hebatnya kisah hidupku dirancang Allah SWT. Bertemu Jon melalui email, dibawa ke Auckland untuk PhD, dan malah bertemu denganmu, dan kita sedang merencanakan masa depan hebat bersama. Aku bahkan sudah mulai terbuka untuk memiliki bayi lagi bersamamu. Kau, begitu membahagiakanku. Terima kasih.

Dan dengan ini, Auckland, aku mengizinkanmu menemaniku. Aku ingin hidup bersamamu. Kau adalah lelaki romantis hebat yg pernah kutemui dalam hidup. Dalam sehari, jarang sekali kau memanggilku dengan namaku. Kau selalu memanggilku dengan SWEETHEART, DARLING, BABY, atau MY LOVE. Dan aku begitu kagum dengan cara bercanda khas western yg kau punya, yg membuatku bisa melupakan keteganganku. Dan hampir setiap malam, kau menelponku, sebelum kau tidur disana dan minta aku mendoakanmu. Kau berterima kasih padaku hampir setiap detik, karena aku mencintaimu, kau minta maaf malam ini jika cicnin yg kau belikan belum memenuhi seleraku dan kau masih berharap kau bisa membelikan yg lebih besar. Ah, bagaimana aku tak mencintaimu?

Malam ini, Auckland, aku nyatakan aku mencintaimu. Aku mengizinkanmu menemaniku. Dengan segala kerumitanku, maka mari kita bersama mengarungi hidup ini. Tua bersama, berlibur di tempat-tempat yg sudah kita rencanakan. Dan jika PhD ini tidak berhasil juga, maka ku tunggu kau menjemputku disana. Di sebuah tempat ribuan km jauhnya dari asalmu. Saat kita akan bertemu kembali dan merencanakan seremoni indah untuk kita berdua dihadapan keluargaku.

Auckland, I love you. Aku, mencintaimu.

With love,

-NK-

Friday, 1 April 2016

Reasons to stay grateful

Dear Everyone.

Well, hidup memang sedang tidak mudah untuk saya saat ini. Di tengah perjuangan saya melawan sakit kepala, mual, muntah di negara orang ini, saya juga dihadapkan dengan kegagalan PhD saya di kimia dan kemungkinan transfer ke Pendidikan Kimia yang masih belum jelas arahnya. Intinya saya sekarang sedang dalam kepusingan dan kebingungan. Jon, selaku supervisor saya, telah nyata-nyata mengontak supervisor di bidang pendidikan dan mereka telah bertemu saya dan bersedia menerima saya. Namun jalan untuk kesana juga masih belum jelas karena menunggu izin LPDP selaku penyandang dana. Jadilah saya dalam kebingungan, di tengah pengobatan depresi saya yang masih membuat kepala saya sakit dan mual atau muntah kadang kadang. Plus, no energy. Hanya bekerja sedikit saja, saya telah begitu kelelahan. Dan, saya jauh dari keluarga, jauh dari orang-orang yg mengenal saya, dan saya sakit saat ini.

Tapi tetap selalu ada alasan untuk bersyukur. Itu yg selalu saya tumbuhkan dalam hati saya. Seberat apapun masalah saya, saya harus menemukan cara bahwa masih ada alasan untuk tetap bersyukur. Here are some of the reasons:

1. Life
Saya masih bersyukur saya masih hidup, masih ingat dengan diri saya, dan meskipun otak saya sedang kelelahan saat ini, saya masih ingat dimana saya, siapa saya. Karena mungkin saja ada pagi dimana saya bisa bangun tanpa ingat apa apa lagi, itu menurut dokter yang merawat saya, jika saya terus memaksa otak saya untuk berpikir dan melawan penyakit ini. Jadi hidup dan bangun dengan tetao waras, itu adalah hal yg harus saya syukuri hingga hari ini.

2. Him
Orang yg masih merawat saya disini. Ia adalah orang yg begitu setia merawat dan mendorong kesembuhan saya meski dalam keadaan terburuk sekalipun. Ia selalu optimis, saya akan kembali ke saya yang dulu meskipun saya sudah tidak yakin lagi akan kembali seperti dulu. Ia terus menenangkan saya, membawa saya jalan untuk mencari tempat makan yang bisa membuat saya sedikit bernafsu makan, atau memenuhi kulkas saya dengan bahan makanan agar saya tidak kelaparan. Meskipun saya tidak bernafsu makan. Ia mengantarkan saya ke dokter, membei saya semangat meskipun saya sudah benar-benar loyo dengan hidup ini.

Ia benar-benar membuktikan janjinya. Ia tidak meninggalkan saya, ia bersama saya melewati ini. Ia yang memanggil saya dengan panggilan sayang Darling, Sweetheart, Honey, Gorgeous, ah, ia benar-benar seseorang yg memberikan saya semangat dan alasan untuk tetap melanjutkan hidup. Meski saya tidak se sukses kemarin lagi.

Ia yang menjadikan kebahagiaan saya sebagai misinya. Saya seringkali tersentuh dengan perhatiannya. Misalnya saat ia melihat sesuatu yg akan membuat saya senang di TV, ia akan mencarikan barang tersebut agar saya bisa happy. Atau saat ia rela berkeliling Auckland untuk mencarikan saya makanan yg saya suka. Atau saat menelpon saya, ia akan bertanya makanan apa lagi yg saya inginkan selain yg sudah saya pesan. Selalu, ia akan melebihkan apapun yg saya minta padanya. Saya merasa begitu berharga di matanya. Tidak termasuk caranya dengan bangga memperkenalkan saya pada keluarganya dan membuat saya merasa diterima.

Orang ini, yang berjanji akan membawa saya kembali ke Auckland, jika saya pulang lebih cepat.

3. Unilodge
Saya sangat bersyukur dengan tempat ini. Meskipun sewanya lumayan tinggi, namun dengan fasilitas yg mereka sediakan, saya sungguh merasa tertolong saat sakit seperti ini. Saya tidak bisa membayangkan, harus antri ke wc saat saya muntah, atau harus keluar kamar seperti saat saya di hostel. Alhamdulillah, saya punya kamar ini untuk sementara waktu, sehingga saya tidak harus keluar kamar saat muntah. Saya bisa tetap nyaman di dalam kamar dan toilet selalu tersedia untuk saya, kapanpun saya muntah. Unilodge dan segala fasilitasnya adalah hal yg benar-benar harus saya syukuri dalam hidup ini.

4. You
Ya, Anda semua yg mendoakan saya. Doa Anda adalah energi buat saya. Saya mungkin tidak akan bangun dengan waras jika Anda semua tidak mendoakan saya. Saya masih hidup dan masih bisa bergerak ini salah satunya adalah karena doa Anda, doa keluarga saya dan orang-orang yg begitu perduli dengan perjuangan dan kegigihan saya dalam hidup. Saya bukan orang kaya, semua orang tahu hal itu. Namun, memiliki banyak orang dari berbagai belahan dunia mendoakan saya yg sedang sakit ini, itu adalah anugerah yg sangat besar. Saya tidak akan bisa tetap tegar tanpa dorongan semangat dari Anda semua dari berbagai kalangan usia dan dari berbagai belahan dunia untuk saya. Untuk itu, Anda dan doa yang Anda panjatkan untuk saya, adalah hal yg harus saya syukuri. Terima kasih untuk seluruh doa itu, untuk seluruh kepedulian itu. Saya, adalah berkah kemurahan hati Anda, mendoakan saya.

Well, those are my reasons to stay grateful. Alasan untuk tetap bersyukur. Semoga hari ini barokah untuk kita semuanya, dan tulisan ini membawa manfaat bagi siapapun yang membacanya. Dari pembaringan saya di Unilodge, saya mendoakan kita semua, agar selalu menjadi hambaNya yang mampu bersyukur...

Auckland, 2 April 2016,

-NK-

Thursday, 18 February 2016

THE GRATEFUL NURUL

Hi all. Here I am typing to all of you, from my new nest, THE UNILODGE. 

Kali ini saya ingin bercerita tentang 3 hal yg saya syukuri dalam hidup saya saat ini. Yah, perlu diakui bahwa hidup saat ini sudah jauh lebih membaik ketimbang saat saya berangkat ke India. Saya sekarang sedang menempuh S3, di negara maju, di universitas terbaik di New Zealand, University of Auckland. Sempat dihantamb badai keuangan, sampai hendak bayar kos yang cuma 700 ribu rupiah per bulan aja saya harus memutar otak, berhemat sana sini, siapa sangka, hari ini, saya baru saja melunasi uang sewa apartemen saya seharga 36 juta untuk 3 bulan. Bayangkan, betapa plot hidup bisa berbalik kapan saja. Just wait, turning over point itu ada dimana mana. 

Sesuai dengan judulnya, THE GRATEFUL NURUL, saya ingin bercerita tentang 3 hal yg sedang sangat saya syukuri dalam hidup ini. Here are those 3 things: 

One, MY UNILODGE
Ini adalah hal pertama yang sangat saya syukuri saat ini. Bayangkan, saya berada di tengah kota, di jalan utama kota terbesar di New Zealand, Auckland. Saya punya studio apartemen yg keren banget. Saya punya dapur yang super keren, super modern, lengkap dengan kulkas, microwave, kettle air, toaster dan kompor elektrik. Sudah gitu tempat ini terletak dekat banget dengan kampus, dengan internet unlimited dan super cepat, gym membership, kolam renang, meja bilyard, mini teatre, dan banyak lagi fasilitas lain yg hanya dimiliki oleh Unilodge Resident. 
Bagaimana saya tidak bersyukur, saya ikut seleksi utuk apply akomodasi ini sejak Agustus tahun lalu. Saat itu posisi saya sudah lulus beasiswa LPDP dan lulus seleksi S3 di Uni of Auckland sehingga mulailah saya bergerilya mencari tempat akomodasi. Saya melihat link tentang unilodge di student akun saya. Saat itu saya klik APPLY dengan mengandalkan wifi di hotel di Jakarta, tempat saya menginap saat mengurus visa. Saya mendapat banyak pertanyaan saat itu, seperti kenapa Uni of Auckland harus memilih saya, etc. Mulailah saya jual diri lagi hehehe. Dan jualan saya sepertinya berhasil tuh, karena terbukti, saat ini saya salah satu penyewa disini. Dan memang tenpat ini eksklusif banget karena terletak di tengah Symonds street, jalan utama di Auckland. Dan dengan berbagai fasilitas yg kami miliki, sepertinya 300NZD per minggu itu, REALLY A GOOD DEAL.
Saya harus syukuri hal ini, karena tidak semua orang bisa lulus disini, meskipun mereka punya banyak uang untuk bayar sewa. Berada di Unilodge, seperti halnya mendapat keistimewaan dari kampus, karena ini akomodasi resmi kampus. Dan tentu saja untuk terpilih, juga memerlukan kualitas yg bisa dilihat pihak kampus. Entah apa itu, tapi yang jelas, saya memenuhi syarat yg mereka ajukan. 

Two, MY REACTION
Setelah sempat berbulan-bulan berusaha melakukan reaksi MICHAEL ADDITION dan setelah melewati 50 Experimen yg terus menerus gagal, akhirnya reaksi saya mulai jalan. Saat ini saya sedang melakukan 5 tahap reaksi dan akhir minggu ini saya sudah memasuki tahap yg keempat. Sempat terganjal dengan kualitas skill lab saya yg masih kurang, saya terus menerus berusaha melakukan yg terbaik. Yah, saya tahu, saya sangat kurang dibanding teman-teman yg lain, baik dari segi teori maupun praktek di lab, namun saya yakin dengan usaha keras saya yg kontinyu dan terus menerus, saya akan mencapai tujuan saya. Saya sudah pernah dihantam badai penyakit, badai perpisahan, badai kehilangan, badai keuangan, sehingga berada di posisi dimana saya harus berjuang lebih keras dari orang lain, itu hal yg sudah sering saya lakukan, meskipun saya tidak berharap untuk terus berusaha lebih keras. I wish my life was easier. Tapi karena kita tidak bisa memilih hidup, ya saat hidup kurang ramah dengan kita, ya diterima saja. 
Kadang saya menangis, karena kadang prof menganggap saya masih kurang, meskipun saya sdh berusaha sebaik-baiknya. Atau kadang saya berbuat kesalahan di lab, yg mebuat saya begitu sedih saat pulang ke rumah. Namun saya adalah manusia yg down by the end of the day, lalu bangkit lagi esok hari. Bagi saya, no matter how hardI fall, what matters is the fact that I will rise again tomorrow. Sekeras apapun saya jatuh hari ini, esok, saat matahari bersinar, saya akan kembali bangkit dan mengerjakan apa yg seharusnya saya lakukan. 
Saat ini, mungkin karena reaksi yg kemarin memang WILL NEVER WORK, dan saat ini saya mengerjakan reaksi baru yg ternyata jauh lebih DO ABLE, saya mulai melihat kinerja saya menemui hasilnya di lab. Meskipun belum di langkah akhir, namun saya hanya tinggal 2 langkah lagi menuju akhir. Semoga benzylic oxidation yg akan saya kerjakan senin minggu depan dan nucleophilic substitution yg saya  rencanakan diridhoi Allah SWT, sehingga saya bisa segera menuntaskan project pertama saya ini. Amiin. 
Prosedur untuk benzylic oxidation itu sudah ada, namun karena saya masih belum bisa menghasilkan produk yg lumayan cukup dari reaksi sebelumnya, maka saya masih mundur ke langkah kedua untuk bisa menghasilkan produk yg lebih banyak untuk masuk ke reaksi berikutnya. 
Alhamdulillah, setidaknya saya sudah mulai berproses di lab. 

Three, MY LOVE STORY
Russell, adalah orang yg harus saya syukuri keberadaannya dalam hidup saya saat ini. Ia adalah orang yg mendengarkan cerita tentang reaksi saya. Ia yg mengendurkan ketegangan urant syaraf saya, each and everyday. Ia adalah orang yg paling perduli dengan nafsu makan saya. Ia selalu berusaha membahagiakan saya, dan cara ia mencintai saya, benar-benar massive. Russell adalah gabungan romantisme seorang westerner dengan kesopanan seorang muslim. Cara ia mencintai saya seolah-olah saya adala seorang putri yg layak dihormati, disanjung dan dimanjakan, benar-benar membuat hidup saya berwarna. 
Saat pertama kali bertemu dengannya, saya tidak menyangka ia akan berhasil merebut hati saya. Karena terus terang saya sudah tidak ingin siapapun lagi dalam hidup, kecuali diri saya sendiri. Saya sudah terlalu solid dengan kesendirian saya dan berpikir bahwa tidak ada orang yg dengan sejatinya memberikan cintanya untuk saya yg penuh dengan cerita masa lalu ini. Kalau pun lelaki itu bisa menerima saya, biasanya keluarganya akan nyinyir dengan masa lalu saya. Namun Russell berbeda. Ia tahu semua masa lalu saya, dari yg paling kelam sekalipun, dan berniat menghabiskan seluruh hidupnya bersama saya. Dan cara ia menemani saya benar-benar LUAR BIASA. Ia berusaha sekeras yg ia bisa untuk bisa membersamai saya. Entah dengan jalan kaki, menyetir mobilnya dengan keceppatan tinggi, atau ganti ganti bis, semua dilakukan, demi satu hal, SPENDING HIS MINUTE WITH ME. 
Dan 14 Februari kemarin, benar-benar membahagiakan saya. Yah, ia telah banyak memberi kebahagiaan untuk saya. Tidak hanya hari itu. Namun kemarin ia bertubi tubi menghujani saya dengan kasih sayang, yg membuat saya tidak bisa berkata apa apa lagi selain terima kasih. Bunga, perhiasan, tulisan di pasir pantai, hingga makan malam romantis di bawah sinar bintang dan pertunjukan bintang di planetarium. Benar-benar massive. Saya yang tidak pernah dapat bunga seumur hidup saya, tidak mampu menahan air mata saat ia membawa buket bunga besar itu dan mengucapkan I LOVE YOU. Begitu pun saat ia begitu bersemangat menuliskan nama saya di pasir pantai lalu berlalri untuk memotretnya dari atas pohon. Lalu malamnya saat ia menghabiskan berjuta juta rupiah untuk memboking tempat di planetarium valentine show. Saya benar-benar merasa dicintai olehnya. Dengan sepenuh hati dan romantisme seorang westerner.
Karena itu Russell adalah hal yg harus saya syukuri keberadaannya. Ia yg selalu memikirkan kemana akan mengajak saya jalan saat weekend. Ia yg memikirkan nafsu makan saya dan selalu mendengarkan keluh kesah saya sepulang di lab. Ia, yg dengan cintanya, berhasil meruntuhkan pertahanan saya. Ia, yg mungkin akan jadi masa depan saya, meskipun saya masih belun tahu kemana takdir membawa saya dengan kisah ini. Namun melihat keseriusannya menemani saya, mungkin saja saya akan memutuskan menghabiskan sisa hidup saya bersama seorang Kiwi dari negara yg jauh sekali dari Indonesia ini. Negara yg perlu 3 kali naik pesawat untuk mencapainya. Negara yg tidak pernah terpikirkan dalam hidup, akan saya diami, akan saya tempati selama bertahun tahun.

Itulah 3 hal baik yg saya alami akhir-akhir ini. Dan seperti saya bilang di judul saya, I am THE GRATEFUL NURUL, sehingga meskipun saya tidak punya apa-apa, saya dengan kemampuan saya, akan selalu bersyukur. Bagaimana pun hidup memperlakukan saya, saya akan selalu berusaha mencarai alasan untuk bersyukur, tetap semangat esok hari.

Jika saya bisa sangat bersyukur dengan hidup saya yg hampir tidak punya apa-apa ini, maka seharusnya Anda yg punya jauh lebih banyak, bisa tersenyum lebih lebar dan lebih damai dari saya di Unilodge saat ini. Hayo, carilah 3 alasan kenapa Anda harus bersyukur malam ini. Dan finally, jadilah THE GRATEFUL YOU. Pribadi, yg selalu mampu, bersyukur.

Auckland, 18 Februari 2016

-NK-