Saturday, 27 January 2018

Hi Najwa, how are you there?

Hi Najwa, how are you there? 

Mama baik aja disini. Perutnya masih kadang dangdutan hehe awa tau kelo kalau Mama sering sakit perut heheh. Tapi Mama sudah ke dokter, terus disuruh ke lab juga, periksa, dan seperti Mama bilang di Samarinda, semuanya GRATIS! Padahal biaya labnya itu wa hampir 2 juta kalau uang kita Indonesia, terus dokternya juga, tapi semuanya dibayarkan asuransi, alhamdulillah! Makanya Mama bilang kan, Mama harus segera kembali ke New Zealand karena disini semua biaya obat Mama dibayarkan asuransi.

Other than that, ya Mama kerja. Tiga hari seminggu. Sehari itu gajinya guede Wa hehe. Mama kerja Rabu Kamis Jumat aja dapatnya 5 juta uang kita Wa hehehe. Makanya disini hidup Mama jauh lebih baik lah alhamdulillah. Selain itu ya Mama belajar kalau malam, terus hari Sabtu Minggu Mama full belajar sambil pacaran dengan si botak hehe. Kemarin kami makan di restoran Turki baru shopping. Si botak mau nonton konser tapi Mama ndak ikut jadi dia pergi dengan keluarganya yang lain hari ini, jadi Mama belajar aja hari ini. Masih banyak yang harus Mama ketik, nanti Mama dimarahi supervisor hehe. Jadi kerjaan Mama tu ya kerja kalau siang, malam belajar, Sabtu Minggu belajar sambil jalan jalan kalau si botak ada waktu.

Di Auckland lagi summer Wa. Puanasss, tapi karena perut Mama masih belum stabil, Mama masih ai kedinginan hahaha. Jadi mama pakai baju belapis lapis padahal buat orang sini sdh ndak dingin lagi, tapi buat Mama masih belum panas. Jadi kalau Mama pakai sweater suka dilihatin bule bule terus dibilangin “are you serious, Nurul?” Hehehe tapi Mama bilang aja kalau badan Mama terbiasa dengan suhu Indonesia makanya masih perlu waktu beradaptasi dengan suhu di NZ.

Awa apa kabar? Sudah sibuk try out dan persiapan UAN kah ya? Awa harus terus rajin belajar ya Wa dan juga harus terus berusaha belajar Bahasa Inggris. Awa pasti bisa. Mama ndak pernah disekolahkan Nenek sekolah Bahasa Inggris tapi Mama belajar sendiri. Kadang Mama sering ngomong sendiri dulu tu waktu kecil karena Kai Nenek dengan Bu Ati ndak ada yang bisa ngomong Bahasa Inggris dengan Mama hehe. Bahkan waktu Awa di dalam perut Mama, kita sering ngomong Bahasa Inggris. Awa itu teman Mama mulai dari dalam perut kita sudah sama sama. Kita tes dosen sama sama, kita kecelakaan pas Mama ke rumah sakit sama sama, bahkan kita jatuh dari plafon rumah Kai dulu jua sama sama. Dan Awa itu anak kuat. Biar Mama jatuh dari plafon itu Awa tetap ndak begerak di perut Mama. Awa Insya Allah jadi orang sukses. Awa harus pintar Bahasa Inggris lalu sekolah ke New Zealand juga. Mama ada disini dan Mama insya Allah buka jalan buat Awa supaya Awa bisa dapat pendidikan dan kenyamanan di negara ini. Tenang aja Wa. Mama Awa ini bukan orang bego, with Allah, I will find a way! Insya Allah. 

Teman teman masih jahat kah Wa? Kalau ada yang jahat biarkan aja. Biar Allah yang Balas. Awa diam aja. Tetap aja belajar, beribadah sama Allah, orang jahat ke kita itu biar Allah yang Balas. Bilang Nenek dulu dengan Mama, kita ndak usah berusaha menang dengan manusia, nanti malah Dikalahkan Allah. Kita merunduk aja, fokus dengan hidup kita, ibadah kita, ndak usah bersaing dengan siapa siapa. Nanti Allah yang Angkat derajat kita. Dan kita harus percaya dengan kuasa Allah, Wa. Allah itu mudah aja hendak Menjadikan sesuatu. Dan Awa harus tetap sangka baik dengan Allah SWT ya Wa. Percaya Allah itu ndak Tidur. Allah Maha Melhat, Allah Maha Tahu. Jadi kalau teman Awa jahat, diam aja. Awa bawa berdoa aja, jangan nangis di depan teman, tapi nangis nya di shalat aja, dengan Allah yang Maha Kuat.

Semua  kado Awa Mama bawa ke Auckland. Ini ada di meja belajar Mama. Kalau Mama lagi kangen Awa pasti Mama usap kadonya, terus baca surat tulisan tangan Awa itu. Terima kasih ya Wa sudah jadi anak baik, anak yang ikhlas dan hati Awa seluas samudera. Semoga Awa selalu sehat, bahagia, terus sekolah Awa Dimudahkan Allah. Hehe, kalau Awa mau SMP ke NZ, bisa aja. Visa S3 Mama bisa bikin sekolah Awa murah disini. Tapi asal Awa berani bilang ke Bapak, Mama tinggal booking tiket dari sini. Awa pasti bisa masuk SMP di NZ sini dan Mama pasti bantu Awa belajar. Tapi kalau Awa ndak berani, ndak papa. I understand. Kadang kita harus mengalah Wa, supaya semuanya damai. Mama yakin dimana pun Awa sekolah pasti tetap berhasil.

Ini Mama fotokan kado Awa dengan pemandangan Auckland siang ini. Puanas hari ini Wa, 29 derajat Auckland hari ini. Mama tapi tetap pakai piyama hahaha. Ok Wa, sampai sini dulu ya cerita Mama. Awa ndak perlu balas. Dan saat Awa bisa google Mama, you will find this. I know you will. Awa itu anak cerdas, kuat, dan tabah. Karakter penting dalam hidup ini.




Rajin belajar, terus jaga shalat, terus percaya dengan Kebaikan Allah ya nak. Mama terus doakan Awa di setiap shalat. You will always in my prayer. Dan kekuatan orang mukmin itu adalah DOA anakku. Itu adalah kekuatan yang tak akan pernah putus! Karena saat kita berpegang pada tali Allah sesunnguhnya kita tengah berpegang pada buhul yang amat kuat. Buhul yang amat kuat. 






I miss you here. A lot!

Auckland, 28 Januari 2018,

-ME-

Saturday, 28 October 2017

To Define Where Home Is

This is just a writing because you are just too bored waiting for a flight. I just would like to write about home. Rumah. To be honest, sejak lima tahun lalu, saya tak tahu lagi definisi rumah itu dimana. Dulu saya di India, saat pulang ke Samarinda, I cried too, karena sudah kadung akrab dengan suasana di India, dua tahun saya tinggal disana. Padahal masih ingat awal saya data
ng ke negara itu, saya menangis di mobil yang membawa saya ke Mysore saat itu dan melihat betapa berbedanya makanan yang ada. Saya sempat bilang ke supir taksinya bahwa saya ingin pulang saja. That what happened in the beginning. Lalu saat saya meninggalkan kota itu di Juli 2014, saya juga menangis dan merasa mungkin itu rumah saya. But nope, Allah Takdirkan kembali dulu ke kamar kost yang saya diami di 2012.
Daaan episode selanjutnya berlangsung. I was there di kamar kos itu hingga September 2015. Cukup 14 bulan, Allah Takdirkan lagi saya pindah rumah. Tiba-tiba saya Dibawa lagi ke kota bernama Auckland, yang jauuuuhhh banget rasanya menurut saya. Just take a look, Auckland itu di North Island, negara New Zealand, yang bentuk negaranya kalau dilihat di peta cuma seuprit mirip pulau Jawa. Itu adalah negara terakhir yang berpenghuni sebelum Kutub Selatan, Antartika. Bayangkan, Allah Menjalankan saya dari negara nehi nehi ke negara Barat.
Awal saya datang, saya disambut udara dingin di bandara dan bertemu supir kiwi yang tinggi besar bertuliskan University of Auckland. Beliau membawa kertas bertuliskan nama saya saat itu hingga saya mengenali beliau sebagai yang ditugaskan universitas untuk menjemput saya. Waktu masih di dalam bangunan bandara, masih aman, lha pas keluar, alamak, itu dingin serasa nusuk ke tulang. Saya masuk lagi ke bangunan bandara sambil menangis lalu bilang “NOOOOO, I WANT TO GO HOME”. Lalu si supir itu tertawa terkekeh melihat saya. Mungkin karena sudah biasa melihat orang yang baru datang ke New Zealand, lalu kedinginan seperti biasa. Lalu dingin itu bikin perut saya dangdutan lalu saya pamit lagi ke beliau minta ke WC. Do you know what, tas saya sengaja dimasukkan beliau ke dalam mobil agar saya tidak “lari” hehehe. Lalu dengan sabarnya beliau membujuk saya agar mamu keluar dari bandara dan masuk ke mobil bertuliskan University of Auckland itu. Dan masuklah saya dengan sesenggukan menangis. Beliau tertawa sambil berkata “don’t worry, you will find a good man here and make New Zealand as your home”. BERCANDA. Itu ucapan saya saat itu sambil bilang “I want a muslim man, and what is the chance of meeting a muslim man here, in this western country?”. Beliau Cuma mengangkat bahu sambil tetap bilang “well, you’ll never know”. Sambil menitipkan saya ke Greg, lelaki tua penjaga hostel Rocklands.
Dan well, saya kira Auckland tak akan pernah menjadi rumah saya. But after two years, segala yang awalnya asing, segala yang awalnya tidak ramah, segala yang tadinya tak terasa rumah terasa sebagai rumah. Dan ow well, saya berurai air mata meninggalkan Auckland hari ini. That crucial moment saat saya berbalik meninggalkan ia yang saya cintai di belakang saya. Perih itu terasa lagi. The beauty saat hati kita terbelah karena rumah kita ada di dua tempat. I never thought New Zealand akan terasa seperti rumah untuk saya. Apalagi di awal-awal, saat saya di bully di sains itu wah sudah gak pingin pokoknya hehe. Tapi sekarang dengan saya bekerja di Auckland, diterima dengan sangat baik disana, hehe, Auckland pun mulai terasa rumah.
Anyway, cukup sebentar saja saya menangis, saya harus segara berbenah memikirkan barang bawaan saya. Memikirkan gate imigrasi yang harus saya lewati dan saya menyudahi tangisan saya hanya beberapa bulir saja. Hidup harus terus berjalan. Data untuk riset saya harus diambil di Indonesia dan PhD ini harus diselesaikan. Urusan yang sudah lama tertunda harus diselesaikan dan langkah harus diteruskan ke masa depan. I don’t come to Indonesia without a purpose. I have a huge purpose there.
Dan itulah sekelumit perjalanan mendefinisikan rumah. And for me, rumah saya bukan yang berbentuk bangunan. Rumah saya adalah dimana hati saya bahagia, dimana saya diterima dengan baik, dimana saya dianggap berarti dan tidak dianggap lebih rendah. Tempat dimana kinerja saya dihargai, tempat dimana saya tidak dibedakan hanya karena latar belakang hidup. Mungkin saja saya akan menajdikan New Zealand sebagai rumah saya, karena saat ini saya sudah berencana membangun masa depan dengan lelaki asli Auckland (well, si supir benar, I do find a good muslim in Auckland hehe). Atau mungkin saja rumah saya tidak ter definisi karena saya akan selalu berpindah, menemukan orang baru, tempat baru lalu mewarnai hari mereka dengan keunikan saya. Saya masih ingin post doktoral lagi hehe. Dan itu belum pasti dimana. So, rumah saya mungkin saja tak akan terdefinisi, tapi hanya dimana saya merasa nyaman. Yeah, mungkin saja. I will never know. 

Sydney, 29 Oktober 2017,

-NK-


Saturday, 21 October 2017

Let's do this!

Let’s Do This

As usual, in whatever keadaan di hidup saya, I choose to write. Mungkin hanya sekedar melepas ketegangan urat syaraf, atau sebagai penanda jika suatu saat di masa depan saya menengok kembali masa lalu dan menemukan tulisan ini. And I really love writing sehingga apapun yang saya tuangkan cukup powerful untuk dibaca kembali suatu saat nanti, jika saya sudah dalam keadaan yang lebih baik. Ada banyak bukti bahwa tulisan saya cukup kuat untuk dijadikan deposit kekuatan-sesuatu yang pantas dibaca di saat lemah hingga bisa menumbuhkan semangat kembali. Well, after all, saya hanya seorang wanita yang berjuang sendiri di tengah ketidakadilan dan kekejaman seorang laki-laki beserta seluruh keluarganya.

Anyway, mungkin banyak yang bingung kenapa saya se gugup ini padahal ada banyak urusan di luar negeri yang telah saya tuntaskan dengan skill negosiasi dan pendekatan ala saya. Kenapa Cuma urusan di dalam negeri begini saya gentar? Here are beberapa faktor yang membuat mengapa urusan di dalam negeri itu selalu “licin” menurut saya. Here are the sadness factors yang harus saya siapkan untuk hadapi beberapa hari ke depan

  1. Birokrasi. Yup, ini adalah hal konyol yang harus saya hadapi. Kadang ada saja aturan yang sudah nyata tapi bisa dibelokkan kemana mana. Perlu diketahui yang saya hadapi adalah seorang laki-laki beserta seluruh keluarga besarnya yang tersebar di berbagai urat birokrasi. Mereka yang berani keroyokan tanpa tahu masalah dengan embel-embel “itu keluarga saya” lalu ikut menghakimi atau bahkan mempersulit. Itu urusan yang harus saya hadapi. Berhadapan dengan sistem yang kelabu dengan kalimat “itu keluarga saya” inilah yang membuat skill negosiasi saya yang biasanya tajam di luar negeri dimana keadilan jelas, kadang bisa tumpul di negara sendiri. Believe me, saya sudah mengalaminya sejak tahun 2012, kesulitan demi kesulitan diciptakan untuk menghadang saya, demi satu tujuan: mempersulit saya. Itu saja. Dan jika hanya ia seorang yang harus saya hadapi, mungkin kekuatan wanita saya masih cukup untuk itu, tapi yang saya hadapi adalah sekali lagi, keluarga besar yang berada di berbagai urat birokrasi. Now you know, peperangan seperti apa yang ada di hadapan sana dan mengapa saya sedikit gentar di pertempuran ini.
  2.  Materialistik: saya harus sadar bahwa apa yang saya hadapi selain kelicinan birokrasi juga adalah materialisme, sistem dimana jika uang Anda banyak, maka Anda akan dihormati. That also frustrates me, karena saya telah banyak menemui di luar negeri bahwa apa yang saya urus bisa jalan meski tanpa uang. Tapi di hadapan sana, saya sudah tahu akan ada banyak pihak yang menadahkan tangan mereka pada saya yang hampir tak punya apa-apa ini demi memuluskan urusan yang sebenarnya job desc mereka.  Mestinya tak perlu semahal itu, tapi dengan kesulitan yang saya hadapi mereka akan meningkatkan harga agar kesulitan itu bisa terlewati. Dan meski saya muak dengan sistem itu, sepertinya tak ada jalan lain kecuali playing along dengan amplop untuk sementara ini. Itu sebabnya saya bilang “be ready, mentally, financially”. Karena truly, yang saya hadapi bukan hanya kelicinan birokrasi tapi juga manusia-manusia yang ingin uang. Dan the power of amplop akan kembali masuk arena. Saya sudah bekerja keras untuk itu. Saya bekerja keras untuk membeli harga diri saya. Saya tidak meminta dengan orang lain, bahkan tidak pada ia yang ingin membangun hidup dengan saya. This is my battle, saya akan beli harga diri itu dengan keringat saya. Tapi tentu saja saya bukan wanita kaya dan kemampuan amplop saya tak setebal orang lain dan jika bisa dituntaskan dengan biaya seminimal mungkin, maka itu yang akan saya pilih. But saya sadar bahwa permainan di arena itu bisa saja sangat rumit hingga menimbulkan excess biaya. Saya sudah siapkan hal ini, semoga dollar demi dollar yang saya kumpulkan dari bekerja di Auckland sini, cukup untuk menebus harga diri itu, dan melolosi kelicinan birokrasi. Amin.
  3. Penghakiman: contoh, saya ke sekolah untuk bertemu anak saya di sela istirahat. Akan ada ibu-ibu yang merasa mereka jauh lebih baik dari saya karena hidupnya lebih baik dan acceptable di mata masyarakat, mereka itu akan apply kekejaman pada saya. Believe me, hal ini sudah terjadi sejak 2014. Saat mereka memandang saya dengan mata sinis, kadang ada yang sengaja meludah di hadapan saya, atau berkata menyindir “kalau aku ya anak laki tu pang yang utama, lain karir pang. Karir tu seberapa handak dikejar kada cukup”, sambil cekikikan khas para wanita yang bergosip. Mereka itu akan menimbulkan cekikan di kerongkongan saya meski se tuli apapun saya pada ke nyinyiran mereka. I think untuk ini meski tidak signifikan, saya akan hadapi dengan diam khas ala saya. I will put my sunglassess, melihat mereka sebagai “ammm, who are you?” sambil berlalu pergi. Toh mereka tak tahu apa yang saya hadapi di pernikahan itu. Mereka tak tahu perjuangan saya. Mereka hanya ibu-ibu yang melihat dunia dari satu sisi lalu menghakimi siapapun yang bebeda dengan mereka. Yeah, mereka tak signifikan, tapi tetap saat telinga saya mendengar atau mata saya melihat, itu tetap menyakiti saya. No one can deny that.
  4.  Najwa: yak, ia juga sumber kesedihan saya. Sedih karena saat saya melihatnya, ia tak lagi tumbuh seperti yang saya harapkan. Kadang ia kelaparan, tak punya uang, diremehkan kawan-kawannya, karena dianggap ia seorang anak kecil miskin, jelek, dan keluarganya hancur. Dan seandainya pihak seberang itu mau mendengarkan, maka ia tak perlu jadi korban yang sangat menderita. Bayangkan saja, setiap barang yang diberi oleh ibu saya atau saya akan langsung dibuang oleh pihak sana, meskipun Najwa menyenangi barang tersebut. So, yang ia lakukan adalah biasanya ia meminta saya membawakan makanan saja, agar aman di dalam perutnya. Can you imagine that? Saya bisa saja membawakan apapun dari New Zealand, tapi karena ia tak berani membawa pulang, maka hanya makanan yang bisa saya bawakan. You should know bahwa kami pernah menyembunyikan uang di sol sepatunya agar pihak sana tak menemukan uang pemberian saya tersebut. Atau ia pernah sangat gugup saat laki-laki itu datang dan saya sedang memberinya makan, lalu saya bersembunyi di masjid sekolah hanya agar apa? Agar tak terjadi keributan, karena laki-laki itu adalah orang yang tak sungkan berteriak, memaki, meski itu di depan umum, karena merasa “hak”nya saya ganggu. Ya, ia merasa Najwa adalah “hak” nya dan saya tak berhak lagi melihat anak saya. Dan jika Anda bertanya kenapa saya mengalah, kenapa saya pergi, itu karena saya tak ingin lagi ribut. Sudah cukup. Saya tak ingin lagi melihat anak saya gemetaran, atau ketakutan. Jadi saya yang pergi dan ia dengan lantang mengabarkan pada masyarakat bahwa saya ibu yang meninggalkan anaknya. I accept that, biarkan saja ia hendak menyebut saya apa, yang jelas saya menerima seluruh kekacauan hidup ini sebagai takdir Allah yang Maha Baik. Allah Maha Tahu bagaimana ibu saya membawakan makanan ke sekolah dan kadang diteriaki olehnya jika ia menemukan beliau. No one knows that, right? Yang masyarakat tahu, saya pergi sekolah, meninggalkan anak saya. That’s it. Kenapa Najwa menjadi sumber kesedihan saya? Ini adalah pertemuan pertama kami setelah 2 tahun say a tak melihatnya secara fisik. Saat ibu saya masih hidup, beliau yang membawakan kamera dan kami saling menyapa lewat facebook. Tapi sejak beliau meninggal, saya tak tahu lagi kabar anak saya tersebut. Selain itu, ini adalah tahun terakhir Najwa berada di sekolah yang bisa saya akses. Setelah ini, ia akan dipindahkan ke sekolah dimana pihak sana memiliki kontrol penuh sehingga saya tak lagi bisa melihatnya. Sehingga saat saya berpamitan kembali ke New Zealand, itu adalah saat paling menyakitkan karena saya dan Najwa tahu bahwa kami tak akan bisa bertemu lagi (secara hitungan manusia). Tapi saya masih terus berdoa, suatu saat, takdir perpisahan dengan anak ini akan berakhir dan kami akan dikumpulkan kembali. Sesungguhnya saya sudah ikhlas akan takdir ini, tapi tetap saja, saat dimana seorang ibu harus meninggalkan anaknya dan tahu ia tak akan bisa melihatnya lagi, itu sangat-sangat menyakitan.

Anyway, ini sesungguhnya hanya another battle. Satu pertempuran lagi yang harus saya perjuangkan dengan sedikit materi dan kekuatan yang saya punya. Sama seperti pertempuran saat saya tak punya uang di Auckland, atau saat saya me lobby imigrasi New Zealand untuk perubahan visa, atau saat saya berjuang di India, atau saat gaji saya dipotong di Indonesia. Ini hanya another battle, dan yang harus saya lakukan adalah BERUSAHA. Saya tak tahu hasilnya, akankah saya menang menebus harga diri saya di tengah kelicinan birokrasi dan sistem amplop dan keroyokan keluarga besarnya? Akankah saya mampu melewati gemuruh badai kesedihan yang sebentar lagi akan saya alami itu? Saya tak tahu hasilnya. Dan jujur saya merasa seperti seorang wanita sendiri menghadapi barisan keroyokan di hadapan sana. Yah, mungkin kegalauan ini sedikit menggentarkan iman dan tawakkal saya. Yang harus saya dekati saat ini adalah Ia, yang Maha Kuasa, yang Maha Bersiasat, yang Maha Menggenggam segala urusan. Dan saya tak perlu gentar tak punya backing an, saya hanya perlu minta back up dengan Allah SWT dengan segala kebaikan rencana-Nya. Itu cukup.

This is just another battle, Nurul. And all you have to do is TRY. Trust Allah, and everything will be fine. Let’s do this. It is time. Time to go home, time to face reality, time to try, and maybe you will get one thing. WIN. 

Auckland, 22 Oktober 2017

-NK-

Monday, 2 October 2017

New Zealand, New Hope, New Land: A List of Gratefulness

Hi there,

Pagi ini tia-tiba saja saya ingin menulis setelah sekian lama blog ini vakum tanpa new posts. well, sebenarnya sih lebih karena tidak ada kerjaan hehe. Saya akan supervision meeting hari ini sehingga ambil off day di kampus.

What would I write? Ammm, kayaknya sih lebih ke peaceful life. Saat ini hidup saya benar-benar damai. Well, sejak dulu juga saya selalu berhasil merasakan kedamaian meski pontang panting bekerja menghidupi diri di Samarinda. Tapi kali ini semuanya benar-benar Dicukupi oleh Allah SWT. What are they? Here are the list of my gratefulness.

1. Life
Ini list pertama yang saya syukuri. Hidup benar-benar up and down buat saya, ya dari pecah rumah tangga, lalu kena badai finansial, lalu kena depresi dan sekarang sedang berjuang untuk menyelesaikan PhD di Auckland ini. Tapi saat ini saya benar-benar merasakan bahwa hidup sedang cruising. Kapal saya sedang berlayar di laut tenang. Yeah saya tahu beberapa minggu ke depan saya akan menghadapi dua hal besar di Samarinda, tapi setidaknya saat ini saya sedang menikmati laut biru tenang meski saya tahu badai mungkin sedang menghadang di depan sana. Tapi ya nikmati saja dulu yg sekarang, badai nanti dihadapi saat sdh di hadapan saja hehe. Saat ini PhD saya sudah selangkah lebih maju-saya sudah di tahap data collection dan sudah melulusi tahun pertama saya di University of Auckland, alhamdulillah. Meski agak terlambat, setidaknya kemungkinan akan gagal PhD ini jauh lebih kecil dibanding saat saya di sains. Alhamdulillah, saya benar-benar merasakan kedamaian hidup saat ini. Saya punya waktu belajar, beribadah, jalan-jalan, shopping, semuanya tercukupi. Luar biasa rasa syukur saya pada Allah SWT.

2. Health
Yak kesehatan itu penting sekali, apalagi saya pernah kena penyakit perut yang luar biasa menyiksa sepanjang 2006-2011. Yah sekali sekali saya kena demam atau agak pusing sebagai bagian dari depresi saya yang (masih mungkin) muncul, tapi selalu saya tackle dengan olahraga dan alhamdulillah itu lumayan berhasil. Saya juga mulai hidup lebih sehat, menghindari minyak, gula dan banyak minum air putih. I think that is a good investment untuk selalu berusaha hidup sehat. Penyakit jauh, berat badan terkontrol dan kita bisa tetap menikmati hidup yang indah ini. Just my opinion though.

3. Love
Yup, ini adalah hal lain yang snagat saya syukuri dalam hidup saya. I am not a clingy woman yang maunya dimanjakan terus and I know I can live by myself. Tapi tetap sangat menyenangkan memiliki seseorang yang selalu bersama kita plus jika ia begitu memanjakan dan menyayangi. Yes, si kiwi man ini benar-benar luar biasa dalam mencintai wanita. Dan I am honored bahwa wanitanya kali ini adalah saya. Imagine, setiap kali ia tiba di pekerjaan ia akan SMS "one minute early today darling, have a good day at your work I love you". Lengkap dengan emoticon smile, love nya hehe. Lalu saat makan siang, ia akan SMS lagi "how is your day Darling?". Atau kadang telpon. Lalu sore hari ia akan SMS lagi, terusss sepanjang hari ia menemani. On weekend ia akan mengajak jalan-jalan atau shopping segala hal yang saya perlukan. So, bagaimana hidup tak terasa damai jika partner yang dimiliki sebegitu setia, tanggung jawab, penuh kasih sayang seperti dirinya? Apalagi jika ia mau bertahan untuk wanita rumit seperti saya ini. Wah, itu sungguh luar biasa ajaib menurut saya. Yeah, jika Anda bilang of course ia bertahan untuk saya karena ia yang sudah menginjak usia 51 tahun sedang saya masih 37 ini, betul, maybe that is one of the factors. Tapi jangan lupa, wanita mah bukan saya saja hehe. Ia bisa saja berpasangan dengan a kiwi woman yang sepantaran dengannya, atau yang muda dan ingin dimanjakan bule juga banyak laaah tak cuma saya saja hehe. So, seburuk apapun anggapan orang pada gap usia kami, yang jelas I am happy. That is enough.

4. Study
Seperti saya sebut di atas, study saya di education ini juga berjalan lancar alhamdulillah. Meski sempat terseok seok di sains, akhirnya saya berhasil memindahkan jurusan PhD ini ke education dan bahkan mendapat banyak opportunity. Well, seperti saya bilang, tidak ada hal yang sia-sia dan smeua pasti ada hikmahNya. Meski saya tidak lagi di jurusan yang sulitnya tingkat dewa, tapi setidaknya saya punya waktu buat have a life. Itu pun saya masih berjuang baca banyak artikel, mengakrabkan diri dengan penelitian kualitatif yang tentu juga tak mudah adanya. Tapi alhamdulillah, ethics saya lulus, seminar proposal lulus hingga kini saya bisa merencanakan data collection saya. Semua berjalan lancar. Alhamdulillah.

5. Work
Saya juga sangat bersyukur pekerjaan saya sangat lancar di Auckland. Tiga bulan lalu saya dikontrak universitas dan ditantang mengerjakan pekerjaan baru di timetabling. Ini pekerjaan super teliti karena kami berurusan dengan banyak data dan harus memikirkan banyak hal saat mendesain jadwal untuk seluruh anak master dan undergrad. Saya jadi tambah pengalaman dan tentunya, SKILL. Saat ini saya bahkan sudah pede untuk nge ganti staff, nge cek ruangan, mendesain seberapa yang diperlukan untuk satu course, intinya sudah akrab dengan timetabling job. Dan ini bikin kualitas diri saya tambah lagi. Sekarang saya tak hanya dipanggil di reception, di student center tapi juga sangat diperlukan di timetable. Dan punya tiga skill di tiga tempat bekerja itu sangat fruitful. Minggu ini saja saya diminta bekerja di student center, timetable dan assignment center. Yang saya kira Oktober akan adem ayem saja sambil menunggu tiket pulang, tapi ternyata rejeki Allah luar biasa. Tabungan SPP saya untuk tahun terkahir PhD yang tidak di support lagi oleh beasiswa sudah fix, saya hanya tinggal memikirkan bagaimana bisa survive dengan living cost saat itu. Tapi seperti prinsip saya, nikmati saja dulu laut biru ini. Perkara di depan ada badai, nanti pada saatnya baru kita alert dan panik. Sekarang mah nikmati saja dulu ketenangan ini hehe.

So, siklus hidup di Auckland itu sekarang berkisar pada: bangun pagi, baca amalan subuh dan baca quran, siap-siap kerja, bekerja hingga jam 5, jam 5 pulang sambil di bis baca Quran lagi, tiba di apartment masak, nonton TV, belajar, tidur. Itu jadwal weekdays. Weekend akan ada undangan dinner atau shopping date atau movie date. Sambil tiap hari si kiwi terus mengirimkan SMS manis. Atau dibahagiakan dengan shopping barang yang diinginkan. Atau makan *smile*.

Saya ingat 5 tahun lalu, saya merasa seperti sedang berenang di samudera luas setelah saya kehilangan segalanya. Lalu saya berhasil membangun sebuah rakit, lalu saat ini saya merasa saya sudah berada di sebuah kapal layar (belum kapal pesiar hehe), tapi hidup sudah jauh sangat membaik ketimbang 5 tahun lalu saat semua hancur tak bersisa. Setidaknya saya tidak berenang sendiri lagi di tengah lautan luas, setidaknya saya tidak berada di atas rakit mini lagi, setidaknya saya sudah berada di atas kapal layar dengan kemampuan nakhoda yang sudah mumpuni dibanding 5 tahun lalu. Dan saat ini my ship is cruising. Sedang berlayar di laut biru tenang. Jika 2 tahun lalu saya menyebut New Zealand sebagai New Hope, New Land, itu benar adanya. Karena sepertinya negara ini akan menjadi tanah baru bagi pelabuhan kapal saya. Setelah puas mengarungi samudera hidup ini seorang diri, maka tawaran seorang lelaki kiwi untuk berlabuh di New Zealand sebagai A New Hope, New Land, memang bisa dipertimbangkan. Jika saat itu saya menyebut New Zealand sebagai A New Hope, New Land sebagai penyemangat untuk memulai perjalanan akademik baru setelah baru saja selesai di India, maka sepertinya apa yang saya sebut itu memang benar adanya. New Zealand adalah tanah baru bagi saya. For me, New Zealand could be My New Hope, New Land.

Have a blessed day, everyone.

Stay grateful. Teruslah bersyukur!

Best Regards,

-Nurul Kasyfita-

Friday, 19 May 2017

A WOMAN WITH VICTORY: BANGKIT, INI 20 MEI!


Masih gelap di Auckland saat ia mulai mengetik di tuts keyboardnya. Sambil menikmati sunrise yang muncul malu malu di ufuk timur sana, ia mulai menulis kalimat demi kalimat, menyalurkan hobby menulisnya.
Ia bersyukur. Ada banyak rahmat Allah yang dirasakannya sejak ia memilih hidup sendiri. Di kota besar ini, ia hidup di sebuah apartemen keren dari kampus, ia masih mampu bayar sewa, masih mampu menabung dan masih mampu menjalankan PhD dan pekerjaannya. Kadang ia tak percaya betapa kuatnya ia bekerja. Entah karena ia ingin kebal dari luka atau hanya karena ia memang gila kerja. Dan satu yang ia syukuri, ia tak gengsi dengan pekerjaan. Bukan hanya karena ia seorang dosen di negaranya, ia lalu pilih pilih hal apa yang ia hendak kerjakan. Ia juga menghargai proses. Ia tak suka langsung pakai shortcut, apalagi pakai koneksi sana sini, pakai backing an, diterima hanya karena ia kenal dengan pejabat A atau karena anaknya si B. No, ia lebih suka membangun dinasti dengan tangannya sendiri. Hingga saat ini pun, meski ia sudah punya seorang laki-laki yang menemani, ia tetap bekerja keras. Mengumpulkan dollar demi dollar untuk tuition fee PhDnya. Karena seperti yang ia pernah bilang ke laki-laki itu “this is my PhD and only MINE”. Ia tidak ingin di belakang nanti ada yang menyebut nyebut jasa karena sudah membantunya membayar SPP PhD nya. Nope, lebih baik bekerja keras, berhemat, agar bisa tetap menabung, mengumpulkan dana untuk PhDnya ketimbang di kemudian hari disebut-sebut.
Ia juga bersyukur ia tak hilang iman hingga saat ini. Meski ia sudah merantau ke beberapa negara dengan islam sebagai minoritas, ia tetap teguh dengan amalan subuh nya, amalan maghribnya, tetap khusyuk tengah malam saat orang lain lelap dalam tidurnya, tetap kasak kusuk shalat dhuha, shalat hajat, tetap kasak kusuk sholat 5 waktu diantara jadwal kerjanya. Dan tak pernah menyalahkan Allah atas takdir hidup yang menimpanya. Ia tak pernah hilang keyakinan bahwa Allah Maha Baik dan akan selalu Memberi yang terbaik untuk hamba-Nya. Dalam kondisi seperti dirinya yang selalu disalahkan lingkungan, sebenarnya mudah saja jika ingin hilang iman, buka jilbab, minum, atau nge drugs, hanya sekedar melepaskan luka dan mengkonfirmasi penghakiman lingkungan terhadapnya. Mudah kan, bilang aja pada lingkungan, YES I AM A BAD GIRL dengan brutally melakukan hal yang tak semestinya dilakukan mereka yang mengaku beriman.  Tapi NO, dimanapun ia berada, maghrib ia selalu sudah di rumah, aman, terhindar dari kriminal ataupun ancaman di luar sana.
Ia ingat saat dulu di kos ia tidur dengan pisau di bawah bantalnya. So jika ada pencuri mendobrak pintu kamarnya, ia siap mempertahankan dirinya. Ia juga (dulu) sering membawa larutaan asam yang ia simpan di botol parfum dan diselipkannya di kaos kaki. Jika ada apa apa di jalan, ia selalu bisa menyemprotan asam itu ke siapapun yang hendak membahayakannya. Akhirnya asam itu diambil oleh teman-temannya saat ia di sains dan diyakinkan bahwa ia aman di New Zealand. Hehe, nyengir sendiri ingat hal itu. Tapi itulah, ia harus realistis. Dunia ini bukan cerita negeri dongeng. Ada banyak orang yg suka ngibulin, suka memanfaatkan, orang-orang jahat yang tak segan menyakiti, belum termasuk mereka yang kejam, terlihat baik padahal menikam. Yeah, ia sudah biasa dengan IT’S A REAL WORLD itu. Dan ia selalu realistis dan siap akan segala kemungkinan. Waspada, jaga diri. Tidak ingin menyakiti orang lain tapi juga tak ingin disakiti.
Hari ini tanggal 20 Mei, hari Kebangkitan Nasional di negaranya. Dan menandai hari ini, ia menulis beberapa momentum kebangkitannya. Ada banyak sekali momen dimana ia di knock out oleh hidup tapi ia selalu berusaha BANGKIT lagi. Ia tak patah semangat, meski sendiri saat itu. Bayangkan, di tahun 2012, hidupnya diporak porandakan oleh seorang laki-laki yang dulu ia cintai tapi kini jadi seteru abadi. Nama baiknya dihancurkan, kariernya dirusak, anaknya diambil, harta yang ia punya diambil tanpa jelas pembagiannya, buku-bukunya tak bisa ia ambil, bahkan ijazahnya hampir tak dikembalikan, intinya ya MENANG SENDIRI. Laki-laki itu telah membuat HIS OWN LAW tanpa pengadilan. Dan ia Cuma terhenyak betapa manusia bisa begitu kejamnya bagaimana pun ia telah mengabdikan dirinya. Saat ia tak lagi mau menuruti keinginannya, maka hanya luka dan tikaman yang akan diterimanya.
Yes ia hancur. Lebur saat itu. Ia menghilang ke India. Meski masih terus menerus bertanya kenapa ia Dibawa Allah kesana, ia tetap tawakkal. Tak pernah hilang keyakinan bahwa ini adalah yang terbaik. Dan ternyata negara itu telah mengajarinya BANYAK HAL. Ia belajar kuat, belajar negosiasi, untuk pertama kalinya ia merasa I AM PRETTY, ia masih ingat saat pertama kali mencoba jeans saat seorang kawan dari Rwanda membawanya shoping di mall, ia menjerit “Jeanette, my legs are shown”. Lalu si Rwanda itu bertanya “Shown where? It is fully covered!”. Hehe maksudnya adalah ia kaget betapa ketatnya jeans itu membalut betisnya dan ia merasa seperti “telanjang” saja. Namun Jeanette menjelaskan memang begitu perempuan pakai jeans. Dan sejak itu, ia tahu rasanya belanja ke mall, memilih baju yang pas dan bahagia. Ia punya 2 jeans pertamanya setelah bertahun-tahun dilarang laki-laki masa lalu itu. Ia berpikir “this is not bad. I feel free and pretty”.
Sejak itu ia tahu apa itu SHOPPING. Sesuatu yang dulu tertahan karena memikirkan anak, memikirkan ingin membantu suami, mengumpulkan rupiah demi rupiah meski tak pernah dihargai. Dulu ia membuat kebahagian orang lain sebagai prioritasnya dan berharap orang itu akan ingat jasanya dan baik padanya. Naif, yeah. Sejak kehancuran hidupnya, ia membuat kebahagiaan dirinya sebagai PRIORITAS. Ia belajar jika ia tidak happy bagaimana ia bisa membahagiakan orang lain. Dan di India lah ia mengenggam kekuatan demi kekuatan menghadapi tantangan selanjutnya.
Kembali ke tanah air, ia dihadapkan dengan pemotongan gaji. Lalu ia mulai kasak kusuk mencari job tambahan. Ia masih ingat saat ia datang ke salah satu unit di tempat kerjanya. Ia mengikuti seluruh rangkaian tes, menulis CV, ikut interview. Saat itu ia bahkan berkata pada pimpinan unit tersebut, “berilah saya pekerjan Pak, meski Cuma gulung kabel, yang penting ada tambahan buat saya bayar kos”. Dan mereka sih berjanji melibatkannya. Dan ia masih naif mengira bahwa mungkin karena dulu gelarnya, mungkin dulu karena penyakitnya, mungkin dulu karena ia berkeluarga, sehingga ia tak diberi job. Tapi ternyata bukan itu. Ya kalau memang gak diberi job ya gak diberi job aja meski ia mampu. Supervisornya di NZ sini selalu berkata “there are many people in this world that are too afraid to give somebody a chance because they know she is powerful and will beat them someday. But don’t worry dear, a diamond will always shine”.
Dan akhirnya ia berakhir bekerja di sebuah kursus terbesar di kotanya. Mereka yang menghargai kinerjanya. Bahkan membayar dengan harga pantas. Ia akhirnya bertemu banyak orang. Ia punya akses internet tanpa batas dan mulai menyusun rencana PhDnya. Ia bertemu Jon dan tiba-tiba ia Dibawa ke NZ. Negara dimana ia mengetik ini saat ini. Ia bahkan tak menyangka rencana PhD nya bisa terwujud begitu cepat dan mulus padahal ada banyak rintangan yang harus ia lalui. Dan hari ini, ia berterima kasih pada dirinya sendiri atas semangat pantang menyerah itu. Atas keyakinan kuat itu, atas semangat kerja keras dan tidak gengsi itu.
Ia selalu yakin bahwa jika Allah hendak Mengangkat derajat seseorang, bagaimana pun seluruh dunia hendak menjatuhkannya, tetap ia akan terangkat. Begitu pula jika Allah hendak Menjatuhkan seseorang, bagaimana pun dunia mendukungnya, pasti jatuh juga. Dan ia hanya ingat saat ia memelas minta pekerjaan dulu. Ia bahkan bilang ia siap bekerja apa saja, tapi tetap tak diberi kesempatan. Padahal jika diberi kesempatan, ia insya Alah bisa. Ia hanya pelu waktu sedikit belajar, dan terbiasa dengan pekerjaan. Ia juga ingat saat saat tak punya uang, tak punya dapur, dan harus puas dengan bakso 5,000 rupah itu. Belum lagi kadang ia makan tempe 5,000 agar ia bisa dapat lalapan tempe plus sambal. Nasi ia masak sendiri. Kadang ia pulang mengajar, banyak warung yg sudah tutup dan ia bawa saja tidur perut kosong setelah puasa seharian itu. Toh ini Cuma 24 jam, esok pasti lebih baik. Selalu itu yang ada di pikirannya. So ia tak pernah risau, apalagi menangis. Ia menangis justru saat semua kondisi membaik. Ia menangis bukan saat terjatuh, tapi saat berhasil bangkit. Dan satu lagi, ia pantang mengeluh. Menurutnya, masalah itu DISELESAIKAN bukan DIBICARAKAN. So, sejak ia memilih sendiri, ia tak pernah lagi membagi deritanya. Ia memilih menutup rapat apapun yg sedang dihadapinya lalu hanya bercerita saat ia sudah bangkit saja. Hey, the world doesn’t like si cengeng. Percayalah, saat kita share problem itu, 80% yang mendengar itu tidak perduli, sementara 20% sisanya senang saat kita ada problem. This is a real world, bukan dunia cinderella.  Dan the difference between drama queen and real queen is: while drama queen is busy TALKING about her problems, real queen is busy SOLVING them. Itu prinsipnya.

Dan video ini mungkin bisa sedikit menggambarkan betapa warriornya dirinya. Pantang menyerah. Pantang menangis saat kesulitan datang, menangis saat sudah menang saja, pantang meratap dan selalu berusaha mengatasi apapun yang terjadi. Video yang pantas menggambarkan betapa kerasnya hidup yang ia lihat saat ia di India telah begitu mendewasakannya dan membuatnya tumbuh menjadi tidak cengeng, menadi warrior yang siap berjuang untuk hidupnya. Ia terbiasa melihat orang-orang kejam, biasa ditinggalkan mereka yang mengaku kawan, bisa dicueki orang-orang yang mengaku perduli. Yes, ia sudah biasa dengan kekejaman dunia dan tak lagi meratapinya. Baginya semua itu hanya sekedar lewat saja, ia tetap dengan perjuangannya. 


Ia juga ingat di tahun 2012 itu bajunya hanya beberapa lembar saja yang berhasil dibawa dari kekisruhan rumah tangga yang tak lagi aman itu. Ia tak bersedih mengingat ada banyak baju dan harta bendanya yang tertinggal di rumah itu. Mungkin jika pun ia menangis, itu hanya untuk buku-bukunya yang entah dimana saat ini. Buku-buku farmasinya, doraemon kesukaannya yang ia beli sejak ia  belum menikah, buku Merck Indexnya hadiah dari sahabatnya di Amerika, buku Hembing hadiah abahnya, buku bahasa Inggris yang membantunya mengajar, entah dimana semua itu saat ini. Hanya buku, yang membuatnya menangis. Bukan uang. Terserah uang mau diambil seberapa pun, ia tak terlalu perduli. Ia hanya ingin safe, selamat. Bahkan ia hampir tak berhasil mengambil ijazahnya dan harus kasak kusuk ke kantor polisi buat surat hilang dan bikin ijazah baru hanya untuk menghindari kekejaman laki-laki itu. Yeah, itulah pengadilan tanpa pengadilan. Saat manusia lain bisa semena mena menghukum manusia lain. Adil? TIDAK, tentu saja. Tapi apakah ia akan terus berusaha berkutat dengan orang yang tak lagi mau mendengarkan dan hanya berniat menyakiti? Bodoh sekali jika selalu diam saat disakiti. Lebih baik menghindar, cari jalan yang lebih baik. Dan itu yang diputuskannya. Saat ia memilih detach dengan kebendaan dan berusaha sendiri dengan kekuatan wanitanya. Tapi lihatlah saat ini. Ia bangkit. Bajunya hendak yang mana, ia tinggal buka lemari. Itu pun masih banyak yang ada labelnya karena ia belum sempat memakainya. Meski buku bukunya tak lagi sama dan masih tak sebanyak dulu karena ia selalu berpindah pindah tapi setidaknya kini ia sudah punya buku. Alhamdulillah.
Lalu ia kolaps lagi di sains. Dan akhirnya jatuh dalam depresi. Ia merasa melayang-layang, pusing, tak nafsu makan, tak bisa bangun, selalu merasa lelah. Ia tak bisa tidur hingga diberi sleeping pill. Lalu paginya ia harus minum anti depressan. Lalu ia pusing mengurus kepindahannya ke education, belum lagi tuntutan uang SPP yang harus ditanggung sendiri akibat keputusan ini. Tapi hari ini, ia menulis dengan syukur. Ia bahagia ia dipercaya banyak pihak di education. PhDnya jauh lebih baik di education ketimbang di sains, dan sekali lagi ia BANGKIT dari keterpurukannya. Ia sekarang bukan hanya mahasiswa PhD yang siap proposal di jurusan rangking 20 top dunia, tapi juga baru diangkat sebagai staff di divisi lain di Universitas terbesar di New Zealand ini. Ia masih tak percaya hingga pagi ini.
Bangkit, ini 20 Mei. Siapapun Anda. Mau yang baru patah hati, kehilangan pekerjaan, sakit, kehilangan sahabat, anak atau siapapun itu, BANGKIT! Jangan biasakan meratap pada dunia, itu tidak menyelesaikan masalah. Start solving your problem, stop talking about it. Karena 80% orang yang mendengar masalah Anda tidak perduli, 20% sisanya senang Anda dalam kesulitan. Tak perlu lah dunia melihat saat Anda terpuruk, cukup tunjukkan saat Anda menggenggam victory. Kemenangan. Menang karena tak jadi pribadi cengeng dan suka meratap, menang karena berhasil menyelesaikan masalah, menang karena tetap mengandalkan Tuhan dalam setiap keadaan. Stop playing sebagai KORBAN TAKDIR, tapi jadilah ACTOR OF CHANGE of your own life. Karena percayalah, tak ada yang lebih manis dari kesuksesan yang dibangun dengan usaha sendiri, tanpa short cut, tanpa nepotisme, tanpa kolusi, fair play, itu kesuksesan yang MANIS. Dan bangkit dari keterpurukan itu jauh lebih gemilang dari apapun di dunia. Musuh Anda bisa saja menikam dari belakang, menghancurkan Anda dengan berbagai cara, tapi Anda juga punya PILHAN untuk stay as a loser atau berusaha jadi pemenang. Yeah, pemenang kehidupan. Dan meski Anda wanita, yang mungkin dianggap lemah, believe me, a woman with victory is SEXY. Yes, Sexy!
Selamat hari Kebangkitan Nasional.

Bangkit and be a woman, with VICTORY!

Auckland, 20 Mei 2017
-NK-




Wednesday, 17 May 2017

LUKA

Sebenarnya pagi ini saya harus menyelesaikan power point untuk presentasi seminar proposal dua minggu lagi. Tapi entah kenapa membaca postingan tahun lalu tentang Najwa http://the-solitaire-queen.blogspot.co.nz/2016/05/dear-najwa.html?spref=fb ini saya jadi ingin menulis lagi untuknya.

Dear Najwa.

Pagi ini tanggal 18 di Auckland. Ku harap kau disana merayakan ulang tahun dengan bahagia. Kemarin adalah hari yang berat buatku. Saat pagi aku bangun dan ingat bahwa itu adalah hari ulang tahunmu, seluruh sel tubuhku yang biasanya penuh semangat jadi layu. Aku menulis di instagram untukmu, hanya sekedar melepaskan perih luka ku. Tapi tetap mengharu biru meski bagaimana pun aku berusaha mengangkat mood ku. Aku merasa kau dan aku semakin kabur dan tak terlihat lagi. Jika biasanya aku tahu apa kesukaanmu, kini semua itu sudah hampir kabur. Aku bahkan tak punya lagi foto kita berdua.

Dear Najwa.
Aku ingat saat kita masih bersama. Aku adalah teman terbaikmu karena aku tak jaim bermain bersamamu. Yeah aku memang orang dewasa tapi aku tak segan bermain sebahagia anak-anak. Kita sering menonton sponge bob bersama, sering makan es krim, jalan jalan berdua naik motor, dan ah, aku merindukan wangi rambutmu dari shampo yang kau suka. Masihkah kau pakai shampo donald bebek itu anakku? Entahlah, semuanya kabur tak bermakna.

Dear Najwa.
Meski kemarin aku bersedih, aku tak ingin itu terlihat dunia. Apalagi di saat yang sama aku menghadapi ujian proposal. Bayangkan betapa sintingnya otakku ini dipaksa belajar padahal yang ku ingat hanya kenangan-kenangan bersamamu yang membuat mataku kabur akan air mata. Aku ingat saat kita nonton upin ipin lalu kau berkata "mama, kita kan geng" dan kompak bersamaku. Aku tahu aku bukan ibu yang jelek, aku mendidikmu begitu rupa. Yeah mungkin sedikit keras, tapi aku tahu itu untuk kebaikanmu semata.

Dear Najwa.
Ku pikir warnaku sudah tak ada lagi di dirimu. Semua yg ku desain saat kau masih kecil telah terkaburkan oleh warna warni orang lain yang kini bersamamu. Aku masih ingat saat kau ku didik mampu belanja sendiri. Aku memberimu uang lalu kau masuk ke supermarket, memilih barang yang kau suka, lalu membawanya ke kasir. Dan aku hanya melihatmu dari kejauhan. Dan saat itu umurmu hanya TIGA TAHUN. Kau sudah ku didik begitu mandiri. Ibu-ibu lain pasti takut melepas anaknya sendiri ke dalam lorong lorong supermarket untuk belanja sendiri. Atau mereka takut uang nya jautuh dan hilang atau takut kembaliannya salah. Tapi aku tak takut untukmu anakku. Aku tahu JIKA AKU PERCAYA KAU BISA, MAKA KAU BISA. Dan itu yang ku tanamkan padamu meski kau merengek padaku dan berkata "Awa malu ma". Nope, dengan kejamnya aku menepuk punggungmu lalu berkata "Awa bisa". Dan yah, KAU BISA. Betapa bahagianya dirimu saat itu berlari ke arahku yang menunggu di depan pintu supermarket, memberikan uang kembalian dan berkata "AWA BISA MA!". Yeah, kau bisa anakku, tidak ada yang tak mungkin di dunia ini. Dan aku tak pernah dan tak akan mendidikmu menjadi cengeng. Kau akan selalu ku didik (seolah-olah dengan kejamnya) bahwa kau bisa.

Dear Najwa.

Kemandirian itu pula yang membuatmu tumbuh jadi pribadi yang kuat dan tidak panik. Apakah kau ingat saat kau tersesat di mall Balikpapan? Kau tidak panik anakku padahal umurmu baru EMPAT tahun saat itu. Kau terpisah dariku dan yang kau lakukan adalah MENEMUI SATPAM DAN MENYEBUTKAN NAMAKU. Hebat anakku! Itu sungguh hebat. Bayangkan kau dengan otak 4 tahunmu, kau bisa berpikir strategic bahwa yang kau lakukan adalah menemui laki-laki berseragam itu lalu menyebutkan nama IBUMU. Aku sendiri baru sadar kau telah terpisah dariku saat mendengar namaku di sebut di mikrofon mall bahwa Najwa sedang menungguku di bagian informasi. Kadang aku berharap skill ini juga yang akan membawamu padaku suatu saat nanti. Kau selalu ingat nama belakangku KASYFITA dan aku adalah SATU-SATUNYA KASYFITA di dunia. Hingga jika pun kau membuka google dan mengetik nama belakang itu, HANYA AKU, IBUMU YANG AKAN DIBAWA GOOGLE KEPADAMU. Ku harap suatu saat kau akan menunggu lagi di suatu tempat begitu kau menemukan nama belakangku di dunia ini. Dan aku masih hidup untuk hari itu. Semoga.

Dear Najwa.

Saat ini aku sudah memutuskan untuk hijrah ke masa depan. Mungkin kau tak akan melihatku lagi di Samarinda setelah masa baktiku selesai. Aku akan hijrah ke New Zealand, negara tenang dimana seorang laki-laki kiwi baik menungguku disini. Aku tahu kau mungkin tak akan mengerti kenapa aku memutuskan ini. Mungkin kau akan mencapku ibu bejat, ibu tak punya kasih dan banyak hal lain lagi yang selalu ditanamkan lingkungan padamu. Aku hanya melihat bahwa negosiasi untuk berbagi dirimu itu sudah tak ada lagi. Dan ku pikir sudah saatnya aku menata hidupku kembali ketimbang selalu terombang-ambing dalam dilema dan pertikaian tanpa henti. Kau pun tahu betapa berat halangan yang harus aku dan keluargaku dapatkan hanya untuk melihatmu saja. Mereka telah merasa begitu berhak akan dirimu dan aku sekeluarga tak lagi pantas untukmu. Tapi sudahlah anakku, aku sudah tak ingin berdebat lagi. Rasanya sudah cukup banyak usaha yang dilakukan tapi semuanya tak ada jalan negosiasi. Itulah yang mendasari keputusanku bahawa aku sebaiknya minggir saja. Aku akan hijrah, anakku. Aku memutuskan New Zealand adalah rumahku. Tapi percayalah, suatu saat jika kau cukup dewasa untuk memilih, kapanpun kau ingin untuk mengunjungiku, kami disini akan sangat bahagia menemuimu. Ia laki-laki yang baik, mampu menghargai ibumu yang sudah tak jelas ini dan mengangkatnya menjadi wanita terhormat lagi. Ia juga begitu romantis, hingga mataku sering basah betapa besar kasih sayang yang ia curahkan padaku, anakku, dan aku bahagia. Aku harap kau pun akan menemukan laki-laki yang begitu menghargaimu seperti ia menghargaiku saat ini.

Dear Najwa.

Kemarin sejak pagi aku menahan tangisku. Aku tak suka menangis. Menangis membuat otakku buntu sementara aku harus berpikir apa yang harus ku lakukan saat itu. Aku harus menghadapi supervisor ujianku anakku, lalu harus berpacu dengan waktu untuk me revisi sisa proposalku. Dan semua itu perlu OTAK YANG TENANG jauh dari gelayut kesedihan. Tapi meski aku hanya mengizinkan diriku bersedih di tanggal 17 Mei untukmu, aku memaksa diriku untuk tetap ceria, tetap semangat menghadapi ujianku.

Dan saat di bis, air mataku masih menggantung. Namun tidak begitu masuk ruang ujian. Yang dilihat supervisor hanya Nurul yang tenang, Nurul yang ceria, Nurul yang happy, tanpa pernah terlihat luka di matanya. Lalu aku masih harus berjuang me revisi proposalku anakku. Selama 2 jam aku diberi waktu untuk itu. Dan alhamdulillah aku berhasil mengatasi itu.

Ku pikir luka kehilanganmu itu telah membuatku berlari hanya agar luka itu tak terasa lagi, tapi akhirnya aku berlari begitu cepat hingga mampu mencapai apa yang tak ku kira sebelumnya. Aku tak suka meratap pada dunia karena menurutku ketimbang meratap akan kesulitan lebih baik kita berpikir bagaimana mengatasinya. Dan itu yang ku lakukan kemarin. Aku cukup kuat untuk ujianku, untuk deadline itu dan begitu proposal itu SUBMIT dan LOLOS, keluarlah air mataku. Dan aku menangis. Meraung di sofa apartemenku. Seluruh sel di tubuhku memanggil dirimu Najwa, tapi aku tahu aku tak lagi bisa bersamamu. Saat itu aku melepaskan seluruh kesedihanku. Aku mengizinkan diriku menangis. Dan aku menangis, hingga aku tertidur di sofa itu.

Dear Najwa.

Pagi ini aku sudah tak sedih lagi. Hanya sehari dalam setahun aku boleh bersedih, dan itu hanya untukmu. Air mataku terlalu mahal untuk dihabiskan oleh kekejaman orang lain padaku. Aku tak pernah menangis untuk mereka, orang-orang kejam itu. Mereka tak pantas mendapatkan air mataku. Pagi ini aku juga sudah semangat lagi. Aku sudah berencana menghabiskan hariku dengan belajar lalu membuat slide untuk presentasiku. Ku harap kau juga bahagia disana dengan mereka yang menemanimu. Ini saatnya aku move on, anakku. Saatnya hijrah. Tapi percayalah, meski aku tak lagi berada satu kota dengan mu suatu saat nanti aku tetap menyayangimu. Dan kau, selalu dalam doaku. Selalu.

Selamat ulang tahun Najwa. Tetaplah jadi anak yang ceria, pemberani, banyak akal, bijaksana, tak mudah mengeluh dan pantang menyerah. Dan semoga suatu saat kita bisa bersama. Amin.

Auckland, 18 Mei 2017,

-ME-


Friday, 5 May 2017

ALHAMDULILLAH, HIDUP PUN BERUBAH

Hi there.

I posted on facebook *malu* huaaa tobatnya cuma tobat sambel ternyata hehe. Sebenarnya sih rada males posting, you know sedari pagi saya benar-benar menghindari FB dan cuma jawab seperlunya text. Posting pun cuma naruh video India gitu terus kabur.

And theeen tak disangka, saya diajak shopping oleh si kiwi. Gak nyangka juga karena awalnya ia bilang ia akan sibuk di bengkel, yo wis lah, gak maksa juga. Eh ternyata habis shalat Jumat ia ngajakin shopping. Yeah, gimana gak menggeliat semangat berburu sale hehehe.

Daaan kami pun shopping. Awalnya cuma ngambil coat yg di alter sepuluh hari yg lalu. Coat yg dikasih si Jerman tapi gak masuk akibat perkembangan tubuh yang tak terkendali di NZ hahaha. Jadilah terpaksa tu dress di alter hehe. Muahaaalll minta ampun biaya alter nya, 120 NZD booo gileeee seharga baju baru. Tapi RC paham betapa berartinya coat itu bagi saya dan juga bagi MC. So, akhirnya dengan 2 kali bayar, terbayarlah 120 NZD itu hehe. From his pocket of course, saya mah ogah bayar semahal itu cuma buat alter hehehe.

Lalu kami ke warehouse. Say arencana hanya mau cari clearance, eh ternyata malah liat kalung pearl yg cantik banget. Tanpa dinyana, ia menyanggupi lagi membelikan kalung itu. Entah kena apa tuh kiwi kemarin yang jelas setelah nge bayarin alteration dress yang mahal banget, lalu ia oke lagi ngebayarin kalung mutiara super cantik itu. Plus, extension chain yg sudah lama memang ingin saya beli. Yay, sudah senang kan hati ini hehe.

Lalu ia bawa lagi saya makan di resto india. saya pesan yg murah saja, 15 dollar sudah dapat naan, nasi, butter chicken plus minum. Saya pikir cukuplah itu. Dan saya gak habis hehe. Sekarang perut saya gak se starving dulu lho lebih sopan setelah saya ikutan diet GM ala saya yang juga gak bikin kurus itu hahaha. Sudahlah. Lalu kami turun menuju parkir. Nah, saat itulah saya liat butik bagus banget plus coat-coat cantik mereka. Biasanya kami gak pede masuk ke butik cantik, karena dah tahu uang kami gak akan cukup buat beli sesuatu apapun disana hehe. So daripada bikin keki mending gak usah masuk.

Namun ia encourage saya kemarin, daaan masuklah saya di butik itu. Wuih emang kereeen serasa di film pretty woman sayaaa hahaha. Nah, ia ambil 2 coat buat saya coba, yg broken whote dan yg merah maroon. Saat itu seperti biasa yaaa foto karena saya suka membandingkan pakaian dengan difoto dulu. Lalu karena bingung, saat itulah say aupload. Bingung pilih yang mana, gitu aja caption nya.

Eh, langsung banyak yg suka, nah mulai lah gatal tangan saya. Langsung nge cek notifikasi lagi daaan tobat FB pun bubar jalan eheheh. Sudahlah. Habis itu tanpa dinyana, say aliat DOTTI! Toko dress yang saya suka banget ituuu daaaan liatlah tu jaket keren, dan lagi lagi DIBELIKAAAN> Subhanallah ya rabbi, betapa besar kuasaMu. Benar-benar saya gak kuat lagi gak nangis kemarin itu. Ya, karena saya sudah sering hidup sendirian dan menahan hal yang tak mampu saya beli lalu tiba-tiba sekarang liat jaket pagi di web sore sudah di tangan. Ya Allah ya rabbi, saya benar-benar tak menyangka akan perubahan hidup yang begitu drastis terjadi di NZ sini. Yah saya juga sudah hijrah, saat itu ke India dan seperti saya bilang, meski hidup sudah ada perubahannya tapi tak se drastis yang terjadi di NZ sini. Dan seandainya saya tak bertemu dengannya pun, maka hidup saya juga mungkin akan flat-flat saja, tak ada perubahan yang berrati kecuali kuliah, menulis dan menulis.

Pagi ini, saya liat sunrise yg oke banget dan gatal lagi nih tangan mencet tombol POST. Hbais itu hilanglah seluruh tobat sambel itu dan berganti dari posting ke posting hehehhe *malu maluuu banget* hahahaha.

But kayaknya sudah deh. Habis posting terakhir ini tentang kerinduan akan tanah India, sepertinya saya akan silent lagi. Semoga bisa meredam rasa happiness yang kadang begitu membuncah hingga susah untuk dipendam sendiri. Kalau masalah saya maish bisa pendam, tapi happiness wuaaa susaaah hahahah.

Hari ini juga saya shopping. Masih ter nganga sih liat gedung tinggi secara saya jarang banget jalan ke downtown. Dan hari ini saya menyusuri Queen street melihat berbagai koleksi coat dari berbagai merk ternama di Auckland. Itu tu saya merasa seperti Kabayan masuk kota hahaha, ter nganga gitu liat betapa classy nya pakaian pakaian ala Barat. Terus saya liat jaket tapi masih mikir-mikir hendak beli apa nggak, karena jaket saya sudah lumayan banyak. Sambil terus ditemani si kiwi meski cuma lewat SMS. Nah, sore ini saya liat semua belanjaan saya itu, ya rabb, betapa besar rahmat-Mu. Kadang saya suka takut sendiri dengan betapa mudahnya hidup saat ini. Entah karena saya yang sudah biasa tahan banting atau rasa syukur saya yang begitu terasah, yang jelas saya merasa saat ini semuanya Dimudahkan oleh Allah. Sebenarnya sejak saya di India sih saya sudah merasakan hal itu. Kadang saya suka takjub dengan negotiation skill yang saya punya. Gak nyangka aja saya yang dulunya pemalu bahkan nukar uang ke warung aja malu tiba-tiba karena keadaan jadi harus nego sana sini, nyari uang sendiri, menghalau orang-orang kejam, belum yg suka manfaatin, intinya tiba-tiba saya SENDIRI. Dan saat sendiri itulah tiba-tiba semua inner strength itu keluar hehe. The power of kepepet lah istilahnya. Saya merasa bahkan jadwal ujian universitas saja bisa bergeser dengan Allah dan  the power of my negotiation. Sejak saat itu saya paham bahwa jika kita berusaha pasti ada saja jalanNya. Dan itu memang terbukti. Di Indonesia saat saya kepepet karena pemotongan gaji, doa dan usaha saya diijabah Allah melalui EF dan banyaknya murid privat yang memanggil saya lalu membayar lebih. Lalu di NZ sini saya membelokkan PhD dari sains ke education. Yang dilobby bukan main-main lagi, universitas, beasiswa, plus imigrasi. Dan semuanya juga terlewati. So, sebenarnya the power of kepepet itu yang keren hehe.

Tapi saya jadi takut sendiri. Karena ingat ada beberapa artis atau teman yang hidupnya berubah drastis eh lalu juga dipanggil Allah cepat alias pendek umurnya hehe. Semoga lah saya masih dipanjangkan umur, masih banyak dosa soalnya. Ini barusan tobat FB nya tobat sambel hehehe.

Anyway, rasanya postingan terakhir tentang foto bersama mahasiswa tadi cukuplah untuk keheningan sementara. Toh kalau saya nge share bagaimana saya nge lobby banyak pihak dan survive dengan kesendirian saya ntar malah dibilang show off lagi *hedeh, menghela napas*. Posting foto juga off dulu lah, menghilang lagi kita, sembunyiiii hehehe. Ntar kalau ada yg signifikan lagi baru kita post lagi. Lagian, ni lagi rame masalah hendak kumpul kumpul lah sesama mahasiswa, jadi saya yang malas ber sosialisasi lagi inginnya hidden saja, biar tak terlihat lagi. Sudahlah, cukuplah ke insyafan sementara ini. Saya harus bertobat lagi (within period of time heheh) ntar ya balik lagi tobatnya.

Oya, saya juga ngerasa gak bebas lagi lho, karena banyak notif. Jadi kangen lagi saat saya duduk nonton TV sendirian dan gak pegang hape, atau saat bisa tidur dengan nyenyak karena gak ada juag yg hendak dihubungi. Plus ibu saya kan juga marah kalau saya updtae status tapi gak pernah say HI. Jadi yo males, biarlah saya hidden lagi. Rasanya sudah cukup online 2 hari ini. Saya ingin fokus belajar dan istirahat lagi ahhhh.

Oke, waktunya menyusun baju-baju penuh dengan label itu. I know no one will read this, tapi cukuplah buat bikin hati saya gak terlalu sakit hidden dari FB hehe.

Have a lovely weekend, people! I am off sebelum dibilang showing off!

Auckland, 6 Mei 2017,

-NK-