This is just a writing because you are just too bored
waiting for a flight. I just would like to write about home. Rumah. To be
honest, sejak lima tahun lalu, saya tak tahu lagi definisi rumah itu dimana. Dulu
saya di India, saat pulang ke Samarinda, I cried too, karena sudah kadung akrab
dengan suasana di India, dua tahun saya tinggal disana. Padahal masih ingat
awal saya data
ng ke negara itu, saya menangis di mobil yang membawa saya ke
Mysore saat itu dan melihat betapa berbedanya makanan yang ada. Saya sempat
bilang ke supir taksinya bahwa saya ingin pulang saja. That what happened in
the beginning. Lalu saat saya meninggalkan kota itu di Juli 2014, saya juga
menangis dan merasa mungkin itu rumah saya. But nope, Allah Takdirkan kembali
dulu ke kamar kost yang saya diami di 2012.
Daaan episode selanjutnya berlangsung. I was there di kamar
kos itu hingga September 2015. Cukup 14 bulan, Allah Takdirkan lagi saya pindah
rumah. Tiba-tiba saya Dibawa lagi ke kota bernama Auckland, yang jauuuuhhh
banget rasanya menurut saya. Just take a look, Auckland itu di North Island,
negara New Zealand, yang bentuk negaranya kalau dilihat di peta cuma seuprit
mirip pulau Jawa. Itu adalah negara terakhir yang berpenghuni sebelum Kutub
Selatan, Antartika. Bayangkan, Allah Menjalankan saya dari negara nehi nehi ke
negara Barat.
Awal saya datang, saya disambut udara dingin di bandara dan
bertemu supir kiwi yang tinggi besar bertuliskan University of Auckland. Beliau
membawa kertas bertuliskan nama saya saat itu hingga saya mengenali beliau
sebagai yang ditugaskan universitas untuk menjemput saya. Waktu masih di dalam
bangunan bandara, masih aman, lha pas keluar, alamak, itu dingin serasa nusuk
ke tulang. Saya masuk lagi ke bangunan bandara sambil menangis lalu bilang “NOOOOO,
I WANT TO GO HOME”. Lalu si supir itu tertawa terkekeh melihat saya. Mungkin
karena sudah biasa melihat orang yang baru datang ke New Zealand, lalu
kedinginan seperti biasa. Lalu dingin itu bikin perut saya dangdutan lalu saya
pamit lagi ke beliau minta ke WC. Do you know what, tas saya sengaja dimasukkan
beliau ke dalam mobil agar saya tidak “lari” hehehe. Lalu dengan sabarnya
beliau membujuk saya agar mamu keluar dari bandara dan masuk ke mobil
bertuliskan University of Auckland itu. Dan masuklah saya dengan sesenggukan
menangis. Beliau tertawa sambil berkata “don’t worry, you will find a good man
here and make New Zealand as your home”. BERCANDA. Itu ucapan saya saat itu
sambil bilang “I want a muslim man, and what is the chance of meeting a muslim
man here, in this western country?”. Beliau Cuma mengangkat bahu sambil tetap
bilang “well, you’ll never know”. Sambil menitipkan saya ke Greg, lelaki tua
penjaga hostel Rocklands.
Dan well, saya kira Auckland tak akan pernah menjadi rumah
saya. But after two years, segala yang awalnya asing, segala yang awalnya tidak
ramah, segala yang tadinya tak terasa rumah terasa sebagai rumah. Dan ow well,
saya berurai air mata meninggalkan Auckland hari ini. That crucial moment saat
saya berbalik meninggalkan ia yang saya cintai di belakang saya. Perih itu
terasa lagi. The beauty saat hati kita terbelah karena rumah kita ada di dua
tempat. I never thought New Zealand akan terasa seperti rumah untuk saya. Apalagi
di awal-awal, saat saya di bully di sains itu wah sudah gak pingin pokoknya
hehe. Tapi sekarang dengan saya bekerja di Auckland, diterima dengan sangat
baik disana, hehe, Auckland pun mulai terasa rumah.
Anyway, cukup sebentar saja saya menangis, saya harus segara
berbenah memikirkan barang bawaan saya. Memikirkan gate imigrasi yang harus
saya lewati dan saya menyudahi tangisan saya hanya beberapa bulir saja. Hidup
harus terus berjalan. Data untuk riset saya harus diambil di Indonesia dan PhD
ini harus diselesaikan. Urusan yang sudah lama tertunda harus diselesaikan dan
langkah harus diteruskan ke masa depan. I don’t come to Indonesia without a
purpose. I have a huge purpose there.
Dan itulah sekelumit perjalanan mendefinisikan rumah. And for
me, rumah saya bukan yang berbentuk bangunan. Rumah saya adalah dimana hati
saya bahagia, dimana saya diterima dengan baik, dimana saya dianggap berarti
dan tidak dianggap lebih rendah. Tempat dimana kinerja saya dihargai, tempat dimana saya tidak dibedakan hanya karena latar belakang hidup. Mungkin saja saya akan menajdikan New Zealand sebagai rumah saya, karena saat ini saya sudah berencana membangun masa depan dengan lelaki asli Auckland (well, si supir benar, I do find a good muslim in Auckland hehe). Atau mungkin saja rumah saya tidak ter definisi
karena saya akan selalu berpindah, menemukan orang baru, tempat baru lalu
mewarnai hari mereka dengan keunikan saya. Saya masih ingin post doktoral lagi hehe. Dan itu belum pasti dimana. So, rumah saya mungkin saja tak akan terdefinisi, tapi hanya dimana saya merasa nyaman. Yeah, mungkin saja. I will never know.
As usual, in
whatever keadaan di hidup saya, I choose to write. Mungkin hanya sekedar
melepas ketegangan urat syaraf, atau sebagai penanda jika suatu saat di masa
depan saya menengok kembali masa lalu dan menemukan tulisan ini. And I really
love writing sehingga apapun yang saya tuangkan cukup powerful untuk dibaca
kembali suatu saat nanti, jika saya sudah dalam keadaan yang lebih baik. Ada banyak
bukti bahwa tulisan saya cukup kuat untuk dijadikan deposit kekuatan-sesuatu
yang pantas dibaca di saat lemah hingga bisa menumbuhkan semangat kembali. Well,
after all, saya hanya seorang wanita yang berjuang sendiri di tengah
ketidakadilan dan kekejaman seorang laki-laki beserta seluruh keluarganya.
Anyway, mungkin
banyak yang bingung kenapa saya se gugup ini padahal ada banyak urusan di luar
negeri yang telah saya tuntaskan dengan skill negosiasi dan pendekatan ala
saya. Kenapa Cuma urusan di dalam negeri begini saya gentar? Here are beberapa
faktor yang membuat mengapa urusan di dalam negeri itu selalu “licin” menurut
saya. Here are the sadness factors yang harus saya siapkan untuk hadapi
beberapa hari ke depan
Birokrasi.
Yup, ini adalah hal konyol yang harus saya hadapi. Kadang ada saja aturan yang
sudah nyata tapi bisa dibelokkan kemana mana. Perlu diketahui yang saya hadapi
adalah seorang laki-laki beserta seluruh keluarga besarnya yang tersebar di
berbagai urat birokrasi. Mereka yang berani keroyokan tanpa tahu masalah dengan
embel-embel “itu keluarga saya” lalu ikut menghakimi atau bahkan mempersulit.
Itu urusan yang harus saya hadapi. Berhadapan dengan sistem yang kelabu dengan
kalimat “itu keluarga saya” inilah yang membuat skill negosiasi saya yang
biasanya tajam di luar negeri dimana keadilan jelas, kadang bisa tumpul di
negara sendiri. Believe me, saya sudah mengalaminya sejak tahun 2012, kesulitan
demi kesulitan diciptakan untuk menghadang saya, demi satu tujuan: mempersulit
saya. Itu saja. Dan jika hanya ia seorang yang harus saya hadapi, mungkin
kekuatan wanita saya masih cukup untuk itu, tapi yang saya hadapi adalah sekali
lagi, keluarga besar yang berada di berbagai urat birokrasi. Now you know,
peperangan seperti apa yang ada di hadapan sana dan mengapa saya sedikit gentar
di pertempuran ini.
Materialistik:
saya harus sadar bahwa apa yang saya hadapi selain kelicinan birokrasi juga
adalah materialisme, sistem dimana jika uang Anda banyak, maka Anda akan
dihormati. That also frustrates me, karena saya telah banyak menemui di luar
negeri bahwa apa yang saya urus bisa jalan meski tanpa uang. Tapi di hadapan
sana, saya sudah tahu akan ada banyak pihak yang menadahkan tangan mereka pada
saya yang hampir tak punya apa-apa ini demi memuluskan urusan yang sebenarnya
job desc mereka. Mestinya tak perlu
semahal itu, tapi dengan kesulitan yang saya hadapi mereka akan meningkatkan
harga agar kesulitan itu bisa terlewati. Dan meski saya muak dengan sistem itu,
sepertinya tak ada jalan lain kecuali playing along dengan amplop untuk
sementara ini. Itu sebabnya saya bilang “be ready, mentally, financially”.
Karena truly, yang saya hadapi bukan hanya kelicinan birokrasi tapi juga
manusia-manusia yang ingin uang. Dan the power of amplop akan kembali masuk
arena. Saya sudah bekerja keras untuk itu. Saya bekerja keras untuk membeli
harga diri saya. Saya tidak meminta dengan orang lain, bahkan tidak pada ia
yang ingin membangun hidup dengan saya. This is my battle, saya akan beli harga
diri itu dengan keringat saya. Tapi tentu saja saya bukan wanita kaya dan
kemampuan amplop saya tak setebal orang lain dan jika bisa dituntaskan dengan
biaya seminimal mungkin, maka itu yang akan saya pilih. But saya sadar bahwa
permainan di arena itu bisa saja sangat rumit hingga menimbulkan excess biaya.
Saya sudah siapkan hal ini, semoga dollar demi dollar yang saya kumpulkan dari
bekerja di Auckland sini, cukup untuk menebus harga diri itu, dan melolosi
kelicinan birokrasi. Amin.
Penghakiman:
contoh, saya ke sekolah untuk bertemu anak saya di sela istirahat. Akan ada
ibu-ibu yang merasa mereka jauh lebih baik dari saya karena hidupnya lebih baik
dan acceptable di mata masyarakat, mereka itu akan apply kekejaman pada saya.
Believe me, hal ini sudah terjadi sejak 2014. Saat mereka memandang saya dengan
mata sinis, kadang ada yang sengaja meludah di hadapan saya, atau berkata
menyindir “kalau aku ya anak laki tu pang yang utama, lain karir pang. Karir tu
seberapa handak dikejar kada cukup”, sambil cekikikan khas para wanita yang
bergosip. Mereka itu akan menimbulkan cekikan di kerongkongan saya meski se
tuli apapun saya pada ke nyinyiran mereka. I think untuk ini meski tidak
signifikan, saya akan hadapi dengan diam khas ala saya. I will put my
sunglassess, melihat mereka sebagai “ammm, who are you?” sambil berlalu pergi.
Toh mereka tak tahu apa yang saya hadapi di pernikahan itu. Mereka tak tahu
perjuangan saya. Mereka hanya ibu-ibu yang melihat dunia dari satu sisi lalu
menghakimi siapapun yang bebeda dengan mereka. Yeah, mereka tak signifikan,
tapi tetap saat telinga saya mendengar atau mata saya melihat, itu tetap
menyakiti saya. No one can deny that.
Najwa:
yak, ia juga sumber kesedihan saya. Sedih karena saat saya melihatnya, ia tak
lagi tumbuh seperti yang saya harapkan. Kadang ia kelaparan, tak punya uang,
diremehkan kawan-kawannya, karena dianggap ia seorang anak kecil miskin, jelek,
dan keluarganya hancur. Dan seandainya pihak seberang itu mau mendengarkan,
maka ia tak perlu jadi korban yang sangat menderita. Bayangkan saja, setiap
barang yang diberi oleh ibu saya atau saya akan langsung dibuang oleh pihak
sana, meskipun Najwa menyenangi barang tersebut. So, yang ia lakukan adalah
biasanya ia meminta saya membawakan makanan saja, agar aman di dalam perutnya.
Can you imagine that? Saya bisa saja membawakan apapun dari New Zealand, tapi
karena ia tak berani membawa pulang, maka hanya makanan yang bisa saya bawakan.
You should know bahwa kami pernah menyembunyikan uang di sol sepatunya agar
pihak sana tak menemukan uang pemberian saya tersebut. Atau ia pernah sangat
gugup saat laki-laki itu datang dan saya sedang memberinya makan, lalu saya
bersembunyi di masjid sekolah hanya agar apa? Agar tak terjadi keributan,
karena laki-laki itu adalah orang yang tak sungkan berteriak, memaki, meski itu
di depan umum, karena merasa “hak”nya saya ganggu. Ya, ia merasa Najwa adalah “hak”
nya dan saya tak berhak lagi melihat anak saya. Dan jika Anda bertanya kenapa
saya mengalah, kenapa saya pergi, itu karena saya tak ingin lagi ribut. Sudah
cukup. Saya tak ingin lagi melihat anak saya gemetaran, atau ketakutan. Jadi
saya yang pergi dan ia dengan lantang mengabarkan pada masyarakat bahwa saya
ibu yang meninggalkan anaknya. I accept that, biarkan saja ia hendak menyebut
saya apa, yang jelas saya menerima seluruh kekacauan hidup ini sebagai takdir
Allah yang Maha Baik. Allah Maha Tahu bagaimana ibu saya membawakan makanan ke
sekolah dan kadang diteriaki olehnya jika ia menemukan beliau. No one knows
that, right? Yang masyarakat tahu, saya pergi sekolah, meninggalkan anak saya. That’s
it. Kenapa
Najwa menjadi sumber kesedihan saya? Ini adalah pertemuan pertama kami setelah
2 tahun say a tak melihatnya secara fisik. Saat ibu saya masih hidup, beliau
yang membawakan kamera dan kami saling menyapa lewat facebook. Tapi sejak beliau
meninggal, saya tak tahu lagi kabar anak saya tersebut. Selain itu, ini adalah
tahun terakhir Najwa berada di sekolah yang bisa saya akses. Setelah ini, ia
akan dipindahkan ke sekolah dimana pihak sana memiliki kontrol penuh sehingga
saya tak lagi bisa melihatnya. Sehingga saat saya berpamitan kembali ke New
Zealand, itu adalah saat paling menyakitkan karena saya dan Najwa tahu bahwa
kami tak akan bisa bertemu lagi (secara hitungan manusia). Tapi saya masih
terus berdoa, suatu saat, takdir perpisahan dengan anak ini akan berakhir dan
kami akan dikumpulkan kembali. Sesungguhnya saya sudah ikhlas akan takdir ini,
tapi tetap saja, saat dimana seorang ibu harus meninggalkan anaknya dan tahu ia
tak akan bisa melihatnya lagi, itu sangat-sangat menyakitan.
Anyway, ini
sesungguhnya hanya another battle. Satu pertempuran lagi yang harus saya perjuangkan
dengan sedikit materi dan kekuatan yang saya punya. Sama seperti pertempuran
saat saya tak punya uang di Auckland, atau saat saya me lobby imigrasi New
Zealand untuk perubahan visa, atau saat saya berjuang di India, atau saat gaji
saya dipotong di Indonesia. Ini hanya another battle, dan yang harus saya
lakukan adalah BERUSAHA. Saya tak tahu hasilnya, akankah saya menang menebus
harga diri saya di tengah kelicinan birokrasi dan sistem amplop dan keroyokan
keluarga besarnya? Akankah saya mampu melewati gemuruh badai kesedihan yang
sebentar lagi akan saya alami itu? Saya tak tahu hasilnya. Dan jujur saya
merasa seperti seorang wanita sendiri menghadapi barisan keroyokan di hadapan
sana. Yah, mungkin kegalauan ini sedikit menggentarkan iman dan tawakkal saya.
Yang harus saya dekati saat ini adalah Ia, yang Maha Kuasa, yang Maha
Bersiasat, yang Maha Menggenggam segala urusan. Dan saya tak perlu gentar tak
punya backing an, saya hanya perlu minta back up dengan Allah SWT dengan segala
kebaikan rencana-Nya. Itu cukup.
This is just
another battle, Nurul. And all you have to do is TRY. Trust Allah, and
everything will be fine. Let’s do this. It is time. Time to go home, time to
face reality, time to try, and maybe you will get one thing. WIN.
Pagi ini tia-tiba saja saya ingin menulis setelah sekian lama blog ini vakum tanpa new posts. well, sebenarnya sih lebih karena tidak ada kerjaan hehe. Saya akan supervision meeting hari ini sehingga ambil off day di kampus.
What would I write? Ammm, kayaknya sih lebih ke peaceful life. Saat ini hidup saya benar-benar damai. Well, sejak dulu juga saya selalu berhasil merasakan kedamaian meski pontang panting bekerja menghidupi diri di Samarinda. Tapi kali ini semuanya benar-benar Dicukupi oleh Allah SWT. What are they? Here are the list of my gratefulness.
1. Life
Ini list pertama yang saya syukuri. Hidup benar-benar up and down buat saya, ya dari pecah rumah tangga, lalu kena badai finansial, lalu kena depresi dan sekarang sedang berjuang untuk menyelesaikan PhD di Auckland ini. Tapi saat ini saya benar-benar merasakan bahwa hidup sedang cruising. Kapal saya sedang berlayar di laut tenang. Yeah saya tahu beberapa minggu ke depan saya akan menghadapi dua hal besar di Samarinda, tapi setidaknya saat ini saya sedang menikmati laut biru tenang meski saya tahu badai mungkin sedang menghadang di depan sana. Tapi ya nikmati saja dulu yg sekarang, badai nanti dihadapi saat sdh di hadapan saja hehe. Saat ini PhD saya sudah selangkah lebih maju-saya sudah di tahap data collection dan sudah melulusi tahun pertama saya di University of Auckland, alhamdulillah. Meski agak terlambat, setidaknya kemungkinan akan gagal PhD ini jauh lebih kecil dibanding saat saya di sains. Alhamdulillah, saya benar-benar merasakan kedamaian hidup saat ini. Saya punya waktu belajar, beribadah, jalan-jalan, shopping, semuanya tercukupi. Luar biasa rasa syukur saya pada Allah SWT.
2. Health
Yak kesehatan itu penting sekali, apalagi saya pernah kena penyakit perut yang luar biasa menyiksa sepanjang 2006-2011. Yah sekali sekali saya kena demam atau agak pusing sebagai bagian dari depresi saya yang (masih mungkin) muncul, tapi selalu saya tackle dengan olahraga dan alhamdulillah itu lumayan berhasil. Saya juga mulai hidup lebih sehat, menghindari minyak, gula dan banyak minum air putih. I think that is a good investment untuk selalu berusaha hidup sehat. Penyakit jauh, berat badan terkontrol dan kita bisa tetap menikmati hidup yang indah ini. Just my opinion though.
3. Love
Yup, ini adalah hal lain yang snagat saya syukuri dalam hidup saya. I am not a clingy woman yang maunya dimanjakan terus and I know I can live by myself. Tapi tetap sangat menyenangkan memiliki seseorang yang selalu bersama kita plus jika ia begitu memanjakan dan menyayangi. Yes, si kiwi man ini benar-benar luar biasa dalam mencintai wanita. Dan I am honored bahwa wanitanya kali ini adalah saya. Imagine, setiap kali ia tiba di pekerjaan ia akan SMS "one minute early today darling, have a good day at your work I love you". Lengkap dengan emoticon smile, love nya hehe. Lalu saat makan siang, ia akan SMS lagi "how is your day Darling?". Atau kadang telpon. Lalu sore hari ia akan SMS lagi, terusss sepanjang hari ia menemani. On weekend ia akan mengajak jalan-jalan atau shopping segala hal yang saya perlukan. So, bagaimana hidup tak terasa damai jika partner yang dimiliki sebegitu setia, tanggung jawab, penuh kasih sayang seperti dirinya? Apalagi jika ia mau bertahan untuk wanita rumit seperti saya ini. Wah, itu sungguh luar biasa ajaib menurut saya. Yeah, jika Anda bilang of course ia bertahan untuk saya karena ia yang sudah menginjak usia 51 tahun sedang saya masih 37 ini, betul, maybe that is one of the factors. Tapi jangan lupa, wanita mah bukan saya saja hehe. Ia bisa saja berpasangan dengan a kiwi woman yang sepantaran dengannya, atau yang muda dan ingin dimanjakan bule juga banyak laaah tak cuma saya saja hehe. So, seburuk apapun anggapan orang pada gap usia kami, yang jelas I am happy. That is enough.
4. Study
Seperti saya sebut di atas, study saya di education ini juga berjalan lancar alhamdulillah. Meski sempat terseok seok di sains, akhirnya saya berhasil memindahkan jurusan PhD ini ke education dan bahkan mendapat banyak opportunity. Well, seperti saya bilang, tidak ada hal yang sia-sia dan smeua pasti ada hikmahNya. Meski saya tidak lagi di jurusan yang sulitnya tingkat dewa, tapi setidaknya saya punya waktu buat have a life. Itu pun saya masih berjuang baca banyak artikel, mengakrabkan diri dengan penelitian kualitatif yang tentu juga tak mudah adanya. Tapi alhamdulillah, ethics saya lulus, seminar proposal lulus hingga kini saya bisa merencanakan data collection saya. Semua berjalan lancar. Alhamdulillah.
5. Work
Saya juga sangat bersyukur pekerjaan saya sangat lancar di Auckland. Tiga bulan lalu saya dikontrak universitas dan ditantang mengerjakan pekerjaan baru di timetabling. Ini pekerjaan super teliti karena kami berurusan dengan banyak data dan harus memikirkan banyak hal saat mendesain jadwal untuk seluruh anak master dan undergrad. Saya jadi tambah pengalaman dan tentunya, SKILL. Saat ini saya bahkan sudah pede untuk nge ganti staff, nge cek ruangan, mendesain seberapa yang diperlukan untuk satu course, intinya sudah akrab dengan timetabling job. Dan ini bikin kualitas diri saya tambah lagi. Sekarang saya tak hanya dipanggil di reception, di student center tapi juga sangat diperlukan di timetable. Dan punya tiga skill di tiga tempat bekerja itu sangat fruitful. Minggu ini saja saya diminta bekerja di student center, timetable dan assignment center. Yang saya kira Oktober akan adem ayem saja sambil menunggu tiket pulang, tapi ternyata rejeki Allah luar biasa. Tabungan SPP saya untuk tahun terkahir PhD yang tidak di support lagi oleh beasiswa sudah fix, saya hanya tinggal memikirkan bagaimana bisa survive dengan living cost saat itu. Tapi seperti prinsip saya, nikmati saja dulu laut biru ini. Perkara di depan ada badai, nanti pada saatnya baru kita alert dan panik. Sekarang mah nikmati saja dulu ketenangan ini hehe.
So, siklus hidup di Auckland itu sekarang berkisar pada: bangun pagi, baca amalan subuh dan baca quran, siap-siap kerja, bekerja hingga jam 5, jam 5 pulang sambil di bis baca Quran lagi, tiba di apartment masak, nonton TV, belajar, tidur. Itu jadwal weekdays. Weekend akan ada undangan dinner atau shopping date atau movie date. Sambil tiap hari si kiwi terus mengirimkan SMS manis. Atau dibahagiakan dengan shopping barang yang diinginkan. Atau makan *smile*.
Saya ingat 5 tahun lalu, saya merasa seperti sedang berenang di samudera luas setelah saya kehilangan segalanya. Lalu saya berhasil membangun sebuah rakit, lalu saat ini saya merasa saya sudah berada di sebuah kapal layar (belum kapal pesiar hehe), tapi hidup sudah jauh sangat membaik ketimbang 5 tahun lalu saat semua hancur tak bersisa. Setidaknya saya tidak berenang sendiri lagi di tengah lautan luas, setidaknya saya tidak berada di atas rakit mini lagi, setidaknya saya sudah berada di atas kapal layar dengan kemampuan nakhoda yang sudah mumpuni dibanding 5 tahun lalu. Dan saat ini my ship is cruising. Sedang berlayar di laut biru tenang. Jika 2 tahun lalu saya menyebut New Zealand sebagai New Hope, New Land, itu benar adanya. Karena sepertinya negara ini akan menjadi tanah baru bagi pelabuhan kapal saya. Setelah puas mengarungi samudera hidup ini seorang diri, maka tawaran seorang lelaki kiwi untuk berlabuh di New Zealand sebagai A New Hope, New Land, memang bisa dipertimbangkan. Jika saat itu saya menyebut New Zealand sebagai A New Hope, New Land sebagai penyemangat untuk memulai perjalanan akademik baru setelah baru saja selesai di India, maka sepertinya apa yang saya sebut itu memang benar adanya. New Zealand adalah tanah baru bagi saya. For me, New Zealand could be My New Hope, New Land.
Masih gelap di Auckland saat ia mulai mengetik di tuts keyboardnya. Sambil menikmati
sunrise yang muncul malu malu di ufuk timur sana, ia mulai menulis kalimat demi
kalimat, menyalurkan hobby menulisnya.
Ia bersyukur. Ada banyak rahmat Allah yang dirasakannya sejak ia memilih
hidup sendiri. Di kota besar ini, ia hidup di sebuah apartemen keren dari
kampus, ia masih mampu bayar sewa, masih mampu menabung dan masih mampu
menjalankan PhD dan pekerjaannya. Kadang ia tak percaya betapa kuatnya ia
bekerja. Entah karena ia ingin kebal dari luka atau hanya karena ia memang gila
kerja. Dan satu yang ia syukuri, ia tak gengsi dengan pekerjaan. Bukan hanya
karena ia seorang dosen di negaranya, ia lalu pilih pilih hal apa yang ia
hendak kerjakan. Ia juga menghargai proses. Ia tak suka langsung pakai
shortcut, apalagi pakai koneksi sana sini, pakai backing an, diterima hanya
karena ia kenal dengan pejabat A atau karena anaknya si B. No, ia lebih suka
membangun dinasti dengan tangannya sendiri. Hingga saat ini pun, meski ia sudah
punya seorang laki-laki yang menemani, ia tetap bekerja keras. Mengumpulkan dollar
demi dollar untuk tuition fee PhDnya. Karena seperti yang ia pernah bilang ke
laki-laki itu “this is my PhD and only MINE”. Ia tidak ingin di belakang nanti
ada yang menyebut nyebut jasa karena sudah membantunya membayar SPP PhD nya. Nope,
lebih baik bekerja keras, berhemat, agar bisa tetap menabung, mengumpulkan dana
untuk PhDnya ketimbang di kemudian hari disebut-sebut.
Ia juga bersyukur ia tak hilang iman hingga saat ini. Meski ia sudah
merantau ke beberapa negara dengan islam sebagai minoritas, ia tetap teguh
dengan amalan subuh nya, amalan maghribnya, tetap khusyuk tengah malam saat
orang lain lelap dalam tidurnya, tetap kasak kusuk shalat dhuha, shalat hajat,
tetap kasak kusuk sholat 5 waktu diantara jadwal kerjanya. Dan tak pernah
menyalahkan Allah atas takdir hidup yang menimpanya. Ia tak pernah hilang
keyakinan bahwa Allah Maha Baik dan akan selalu Memberi yang terbaik untuk
hamba-Nya. Dalam kondisi seperti dirinya yang selalu disalahkan lingkungan,
sebenarnya mudah saja jika ingin hilang iman, buka jilbab, minum, atau nge
drugs, hanya sekedar melepaskan luka dan mengkonfirmasi penghakiman lingkungan
terhadapnya. Mudah kan, bilang aja pada lingkungan, YES I AM A BAD GIRL dengan
brutally melakukan hal yang tak semestinya dilakukan mereka yang mengaku
beriman. Tapi NO, dimanapun ia berada,
maghrib ia selalu sudah di rumah, aman, terhindar dari kriminal ataupun ancaman
di luar sana.
Ia ingat saat dulu di kos ia tidur dengan pisau di bawah bantalnya. So jika
ada pencuri mendobrak pintu kamarnya, ia siap mempertahankan dirinya. Ia juga
(dulu) sering membawa larutaan asam yang ia simpan di botol parfum dan
diselipkannya di kaos kaki. Jika ada apa apa di jalan, ia selalu bisa
menyemprotan asam itu ke siapapun yang hendak membahayakannya. Akhirnya asam
itu diambil oleh teman-temannya saat ia di sains dan diyakinkan bahwa ia aman
di New Zealand. Hehe, nyengir sendiri ingat hal itu. Tapi itulah, ia harus
realistis. Dunia ini bukan cerita negeri dongeng. Ada banyak orang yg suka
ngibulin, suka memanfaatkan, orang-orang jahat yang tak segan menyakiti, belum
termasuk mereka yang kejam, terlihat baik padahal menikam. Yeah, ia sudah biasa
dengan IT’S A REAL WORLD itu. Dan ia selalu realistis dan siap akan segala
kemungkinan. Waspada, jaga diri. Tidak ingin menyakiti orang lain tapi juga tak
ingin disakiti.
Hari ini tanggal 20 Mei, hari Kebangkitan Nasional di negaranya. Dan menandai
hari ini, ia menulis beberapa momentum kebangkitannya. Ada banyak sekali momen
dimana ia di knock out oleh hidup tapi ia selalu berusaha BANGKIT lagi. Ia tak
patah semangat, meski sendiri saat itu. Bayangkan, di tahun 2012, hidupnya
diporak porandakan oleh seorang laki-laki yang dulu ia cintai tapi kini jadi
seteru abadi. Nama baiknya dihancurkan, kariernya dirusak, anaknya diambil, harta
yang ia punya diambil tanpa jelas pembagiannya, buku-bukunya tak bisa ia ambil,
bahkan ijazahnya hampir tak dikembalikan, intinya ya MENANG SENDIRI. Laki-laki
itu telah membuat HIS OWN LAW tanpa pengadilan. Dan ia Cuma terhenyak betapa
manusia bisa begitu kejamnya bagaimana pun ia telah mengabdikan dirinya. Saat
ia tak lagi mau menuruti keinginannya, maka hanya luka dan tikaman yang akan
diterimanya.
Yes ia hancur. Lebur saat itu. Ia menghilang ke India. Meski masih terus
menerus bertanya kenapa ia Dibawa Allah kesana, ia tetap tawakkal. Tak pernah
hilang keyakinan bahwa ini adalah yang terbaik. Dan ternyata negara itu telah
mengajarinya BANYAK HAL. Ia belajar kuat, belajar negosiasi, untuk pertama
kalinya ia merasa I AM PRETTY, ia masih ingat saat pertama kali mencoba jeans
saat seorang kawan dari Rwanda membawanya shoping di mall, ia menjerit “Jeanette,
my legs are shown”. Lalu si Rwanda itu bertanya “Shown where? It is fully
covered!”. Hehe maksudnya adalah ia kaget betapa ketatnya jeans itu membalut
betisnya dan ia merasa seperti “telanjang” saja. Namun Jeanette menjelaskan
memang begitu perempuan pakai jeans. Dan sejak itu, ia tahu rasanya belanja ke
mall, memilih baju yang pas dan bahagia. Ia punya 2 jeans pertamanya setelah
bertahun-tahun dilarang laki-laki masa lalu itu. Ia berpikir “this is not bad.
I feel free and pretty”.
Sejak itu ia tahu apa itu SHOPPING. Sesuatu yang dulu tertahan karena
memikirkan anak, memikirkan ingin membantu suami, mengumpulkan rupiah demi
rupiah meski tak pernah dihargai. Dulu ia membuat kebahagian orang lain sebagai
prioritasnya dan berharap orang itu akan ingat jasanya dan baik padanya. Naif,
yeah. Sejak kehancuran hidupnya, ia membuat kebahagiaan dirinya sebagai
PRIORITAS. Ia belajar jika ia tidak happy bagaimana ia bisa membahagiakan orang
lain. Dan di India lah ia mengenggam kekuatan demi kekuatan menghadapi tantangan
selanjutnya.
Kembali ke tanah air, ia dihadapkan dengan pemotongan gaji. Lalu ia mulai
kasak kusuk mencari job tambahan. Ia masih ingat saat ia datang ke salah satu
unit di tempat kerjanya. Ia mengikuti seluruh rangkaian tes, menulis CV, ikut interview.
Saat itu ia bahkan berkata pada pimpinan unit tersebut, “berilah saya pekerjan
Pak, meski Cuma gulung kabel, yang penting ada tambahan buat saya bayar kos”. Dan
mereka sih berjanji melibatkannya. Dan ia masih naif mengira bahwa mungkin karena
dulu gelarnya, mungkin dulu karena penyakitnya, mungkin dulu karena ia
berkeluarga, sehingga ia tak diberi job. Tapi ternyata bukan itu. Ya kalau
memang gak diberi job ya gak diberi job aja meski ia mampu. Supervisornya di NZ
sini selalu berkata “there are many people in this world that are too afraid to
give somebody a chance because they know she is powerful and will beat them
someday. But don’t worry dear, a diamond will always shine”.
Dan akhirnya ia berakhir bekerja di sebuah kursus terbesar di kotanya. Mereka
yang menghargai kinerjanya. Bahkan membayar dengan harga pantas. Ia akhirnya
bertemu banyak orang. Ia punya akses internet tanpa batas dan mulai menyusun
rencana PhDnya. Ia bertemu Jon dan tiba-tiba ia Dibawa ke NZ. Negara dimana ia
mengetik ini saat ini. Ia bahkan tak menyangka rencana PhD nya bisa terwujud
begitu cepat dan mulus padahal ada banyak rintangan yang harus ia lalui. Dan hari
ini, ia berterima kasih pada dirinya sendiri atas semangat pantang menyerah
itu. Atas keyakinan kuat itu, atas semangat kerja keras dan tidak gengsi itu.
Ia selalu yakin bahwa jika Allah hendak Mengangkat derajat seseorang,
bagaimana pun seluruh dunia hendak menjatuhkannya, tetap ia akan terangkat.
Begitu pula jika Allah hendak Menjatuhkan seseorang, bagaimana pun dunia
mendukungnya, pasti jatuh juga. Dan ia hanya ingat saat ia memelas minta
pekerjaan dulu. Ia bahkan bilang ia siap bekerja apa saja, tapi tetap tak
diberi kesempatan. Padahal jika diberi kesempatan, ia insya Alah bisa. Ia hanya
pelu waktu sedikit belajar, dan terbiasa dengan pekerjaan. Ia juga ingat saat
saat tak punya uang, tak punya dapur, dan harus puas dengan bakso 5,000 rupah
itu. Belum lagi kadang ia makan tempe 5,000 agar ia bisa dapat lalapan tempe
plus sambal. Nasi ia masak sendiri. Kadang ia pulang mengajar, banyak warung yg
sudah tutup dan ia bawa saja tidur perut kosong setelah puasa seharian itu. Toh
ini Cuma 24 jam, esok pasti lebih baik. Selalu itu yang ada di pikirannya. So ia
tak pernah risau, apalagi menangis. Ia menangis justru saat semua kondisi
membaik. Ia menangis bukan saat terjatuh, tapi saat berhasil bangkit. Dan satu
lagi, ia pantang mengeluh. Menurutnya, masalah itu DISELESAIKAN bukan
DIBICARAKAN. So, sejak ia memilih sendiri, ia tak pernah lagi membagi
deritanya. Ia memilih menutup rapat apapun yg sedang dihadapinya lalu hanya
bercerita saat ia sudah bangkit saja. Hey, the world doesn’t like si cengeng. Percayalah,
saat kita share problem itu, 80% yang mendengar itu tidak perduli, sementara
20% sisanya senang saat kita ada problem. This is a real world, bukan dunia
cinderella. Dan the difference between
drama queen and real queen is: while drama queen is busy TALKING about her
problems, real queen is busy SOLVING them. Itu prinsipnya.
Dan video ini mungkin bisa sedikit menggambarkan betapa warriornya dirinya. Pantang menyerah. Pantang menangis saat kesulitan datang, menangis saat sudah menang saja, pantang meratap dan selalu berusaha mengatasi apapun yang terjadi. Video yang pantas menggambarkan betapa kerasnya hidup yang ia lihat saat ia di India telah begitu mendewasakannya dan membuatnya tumbuh menjadi tidak cengeng, menadi warrior yang siap berjuang untuk hidupnya. Ia terbiasa melihat orang-orang kejam, biasa ditinggalkan mereka yang mengaku kawan, bisa dicueki orang-orang yang mengaku perduli. Yes, ia sudah biasa dengan kekejaman dunia dan tak lagi meratapinya. Baginya semua itu hanya sekedar lewat saja, ia tetap dengan perjuangannya.
Ia juga ingat di tahun 2012 itu bajunya hanya beberapa lembar saja yang
berhasil dibawa dari kekisruhan rumah tangga yang tak lagi aman itu. Ia tak
bersedih mengingat ada banyak baju dan harta bendanya yang tertinggal di rumah
itu. Mungkin jika pun ia menangis, itu hanya untuk buku-bukunya yang entah
dimana saat ini. Buku-buku farmasinya, doraemon kesukaannya yang ia beli sejak
ia belum menikah, buku Merck Indexnya
hadiah dari sahabatnya di Amerika, buku Hembing hadiah abahnya, buku bahasa
Inggris yang membantunya mengajar, entah dimana semua itu saat ini. Hanya buku,
yang membuatnya menangis. Bukan uang. Terserah uang mau diambil seberapa pun,
ia tak terlalu perduli. Ia hanya ingin safe, selamat. Bahkan ia hampir tak
berhasil mengambil ijazahnya dan harus kasak kusuk ke kantor polisi buat surat
hilang dan bikin ijazah baru hanya untuk menghindari kekejaman laki-laki itu. Yeah,
itulah pengadilan tanpa pengadilan. Saat manusia lain bisa semena mena
menghukum manusia lain. Adil? TIDAK, tentu saja. Tapi apakah ia akan terus
berusaha berkutat dengan orang yang tak lagi mau mendengarkan dan hanya berniat
menyakiti? Bodoh sekali jika selalu diam saat disakiti. Lebih baik menghindar,
cari jalan yang lebih baik. Dan itu yang diputuskannya. Saat ia memilih detach
dengan kebendaan dan berusaha sendiri dengan kekuatan wanitanya. Tapi lihatlah
saat ini. Ia bangkit. Bajunya hendak yang mana, ia tinggal buka lemari. Itu pun
masih banyak yang ada labelnya karena ia belum sempat memakainya. Meski buku
bukunya tak lagi sama dan masih tak sebanyak dulu karena ia selalu berpindah pindah
tapi setidaknya kini ia sudah punya buku. Alhamdulillah.
Lalu ia kolaps lagi di sains. Dan akhirnya jatuh dalam depresi. Ia merasa
melayang-layang, pusing, tak nafsu makan, tak bisa bangun, selalu merasa lelah.
Ia tak bisa tidur hingga diberi sleeping pill. Lalu paginya ia harus minum anti
depressan. Lalu ia pusing mengurus kepindahannya ke education, belum lagi
tuntutan uang SPP yang harus ditanggung sendiri akibat keputusan ini. Tapi hari
ini, ia menulis dengan syukur. Ia bahagia ia dipercaya banyak pihak di
education. PhDnya jauh lebih baik di education ketimbang di sains, dan sekali
lagi ia BANGKIT dari keterpurukannya. Ia sekarang bukan hanya mahasiswa PhD
yang siap proposal di jurusan rangking 20 top dunia, tapi juga baru diangkat
sebagai staff di divisi lain di Universitas terbesar di New Zealand ini. Ia
masih tak percaya hingga pagi ini.
Bangkit, ini 20 Mei. Siapapun Anda. Mau yang baru patah hati, kehilangan
pekerjaan, sakit, kehilangan sahabat, anak atau siapapun itu, BANGKIT! Jangan biasakan
meratap pada dunia, itu tidak menyelesaikan masalah. Start solving your
problem, stop talking about it. Karena 80% orang yang mendengar masalah Anda
tidak perduli, 20% sisanya senang Anda dalam kesulitan. Tak perlu lah dunia
melihat saat Anda terpuruk, cukup tunjukkan saat Anda menggenggam victory.
Kemenangan. Menang karena tak jadi pribadi cengeng dan suka meratap, menang
karena berhasil menyelesaikan masalah, menang karena tetap mengandalkan Tuhan
dalam setiap keadaan. Stop playing sebagai KORBAN TAKDIR, tapi jadilah ACTOR OF
CHANGE of your own life. Karena percayalah, tak ada yang lebih manis dari
kesuksesan yang dibangun dengan usaha sendiri, tanpa short cut, tanpa
nepotisme, tanpa kolusi, fair play, itu kesuksesan yang MANIS. Dan bangkit dari
keterpurukan itu jauh lebih gemilang dari apapun di dunia. Musuh Anda bisa saja
menikam dari belakang, menghancurkan Anda dengan berbagai cara, tapi Anda juga
punya PILHAN untuk stay as a loser atau berusaha jadi pemenang. Yeah, pemenang
kehidupan. Dan meski Anda wanita, yang mungkin dianggap lemah, believe me, a
woman with victory is SEXY. Yes, Sexy!
Pagi ini tanggal 18 di Auckland. Ku harap kau disana merayakan ulang tahun dengan bahagia. Kemarin adalah hari yang berat buatku. Saat pagi aku bangun dan ingat bahwa itu adalah hari ulang tahunmu, seluruh sel tubuhku yang biasanya penuh semangat jadi layu. Aku menulis di instagram untukmu, hanya sekedar melepaskan perih luka ku. Tapi tetap mengharu biru meski bagaimana pun aku berusaha mengangkat mood ku. Aku merasa kau dan aku semakin kabur dan tak terlihat lagi. Jika biasanya aku tahu apa kesukaanmu, kini semua itu sudah hampir kabur. Aku bahkan tak punya lagi foto kita berdua.
Dear Najwa.
Aku ingat saat kita masih bersama. Aku adalah teman terbaikmu karena aku tak jaim bermain bersamamu. Yeah aku memang orang dewasa tapi aku tak segan bermain sebahagia anak-anak. Kita sering menonton sponge bob bersama, sering makan es krim, jalan jalan berdua naik motor, dan ah, aku merindukan wangi rambutmu dari shampo yang kau suka. Masihkah kau pakai shampo donald bebek itu anakku? Entahlah, semuanya kabur tak bermakna.
Dear Najwa.
Meski kemarin aku bersedih, aku tak ingin itu terlihat dunia. Apalagi di saat yang sama aku menghadapi ujian proposal. Bayangkan betapa sintingnya otakku ini dipaksa belajar padahal yang ku ingat hanya kenangan-kenangan bersamamu yang membuat mataku kabur akan air mata. Aku ingat saat kita nonton upin ipin lalu kau berkata "mama, kita kan geng" dan kompak bersamaku. Aku tahu aku bukan ibu yang jelek, aku mendidikmu begitu rupa. Yeah mungkin sedikit keras, tapi aku tahu itu untuk kebaikanmu semata.
Dear Najwa.
Ku pikir warnaku sudah tak ada lagi di dirimu. Semua yg ku desain saat kau masih kecil telah terkaburkan oleh warna warni orang lain yang kini bersamamu. Aku masih ingat saat kau ku didik mampu belanja sendiri. Aku memberimu uang lalu kau masuk ke supermarket, memilih barang yang kau suka, lalu membawanya ke kasir. Dan aku hanya melihatmu dari kejauhan. Dan saat itu umurmu hanya TIGA TAHUN. Kau sudah ku didik begitu mandiri. Ibu-ibu lain pasti takut melepas anaknya sendiri ke dalam lorong lorong supermarket untuk belanja sendiri. Atau mereka takut uang nya jautuh dan hilang atau takut kembaliannya salah. Tapi aku tak takut untukmu anakku. Aku tahu JIKA AKU PERCAYA KAU BISA, MAKA KAU BISA. Dan itu yang ku tanamkan padamu meski kau merengek padaku dan berkata "Awa malu ma". Nope, dengan kejamnya aku menepuk punggungmu lalu berkata "Awa bisa". Dan yah, KAU BISA. Betapa bahagianya dirimu saat itu berlari ke arahku yang menunggu di depan pintu supermarket, memberikan uang kembalian dan berkata "AWA BISA MA!". Yeah, kau bisa anakku, tidak ada yang tak mungkin di dunia ini. Dan aku tak pernah dan tak akan mendidikmu menjadi cengeng. Kau akan selalu ku didik (seolah-olah dengan kejamnya) bahwa kau bisa.
Dear Najwa.
Kemandirian itu pula yang membuatmu tumbuh jadi pribadi yang kuat dan tidak panik. Apakah kau ingat saat kau tersesat di mall Balikpapan? Kau tidak panik anakku padahal umurmu baru EMPAT tahun saat itu. Kau terpisah dariku dan yang kau lakukan adalah MENEMUI SATPAM DAN MENYEBUTKAN NAMAKU. Hebat anakku! Itu sungguh hebat. Bayangkan kau dengan otak 4 tahunmu, kau bisa berpikir strategic bahwa yang kau lakukan adalah menemui laki-laki berseragam itu lalu menyebutkan nama IBUMU. Aku sendiri baru sadar kau telah terpisah dariku saat mendengar namaku di sebut di mikrofon mall bahwa Najwa sedang menungguku di bagian informasi. Kadang aku berharap skill ini juga yang akan membawamu padaku suatu saat nanti. Kau selalu ingat nama belakangku KASYFITA dan aku adalah SATU-SATUNYA KASYFITA di dunia. Hingga jika pun kau membuka google dan mengetik nama belakang itu, HANYA AKU, IBUMU YANG AKAN DIBAWA GOOGLE KEPADAMU. Ku harap suatu saat kau akan menunggu lagi di suatu tempat begitu kau menemukan nama belakangku di dunia ini. Dan aku masih hidup untuk hari itu. Semoga.
Dear Najwa.
Saat ini aku sudah memutuskan untuk hijrah ke masa depan. Mungkin kau tak akan melihatku lagi di Samarinda setelah masa baktiku selesai. Aku akan hijrah ke New Zealand, negara tenang dimana seorang laki-laki kiwi baik menungguku disini. Aku tahu kau mungkin tak akan mengerti kenapa aku memutuskan ini. Mungkin kau akan mencapku ibu bejat, ibu tak punya kasih dan banyak hal lain lagi yang selalu ditanamkan lingkungan padamu. Aku hanya melihat bahwa negosiasi untuk berbagi dirimu itu sudah tak ada lagi. Dan ku pikir sudah saatnya aku menata hidupku kembali ketimbang selalu terombang-ambing dalam dilema dan pertikaian tanpa henti. Kau pun tahu betapa berat halangan yang harus aku dan keluargaku dapatkan hanya untuk melihatmu saja. Mereka telah merasa begitu berhak akan dirimu dan aku sekeluarga tak lagi pantas untukmu. Tapi sudahlah anakku, aku sudah tak ingin berdebat lagi. Rasanya sudah cukup banyak usaha yang dilakukan tapi semuanya tak ada jalan negosiasi. Itulah yang mendasari keputusanku bahawa aku sebaiknya minggir saja. Aku akan hijrah, anakku. Aku memutuskan New Zealand adalah rumahku. Tapi percayalah, suatu saat jika kau cukup dewasa untuk memilih, kapanpun kau ingin untuk mengunjungiku, kami disini akan sangat bahagia menemuimu. Ia laki-laki yang baik, mampu menghargai ibumu yang sudah tak jelas ini dan mengangkatnya menjadi wanita terhormat lagi. Ia juga begitu romantis, hingga mataku sering basah betapa besar kasih sayang yang ia curahkan padaku, anakku, dan aku bahagia. Aku harap kau pun akan menemukan laki-laki yang begitu menghargaimu seperti ia menghargaiku saat ini.
Dear Najwa.
Kemarin sejak pagi aku menahan tangisku. Aku tak suka menangis. Menangis membuat otakku buntu sementara aku harus berpikir apa yang harus ku lakukan saat itu. Aku harus menghadapi supervisor ujianku anakku, lalu harus berpacu dengan waktu untuk me revisi sisa proposalku. Dan semua itu perlu OTAK YANG TENANG jauh dari gelayut kesedihan. Tapi meski aku hanya mengizinkan diriku bersedih di tanggal 17 Mei untukmu, aku memaksa diriku untuk tetap ceria, tetap semangat menghadapi ujianku.
Dan saat di bis, air mataku masih menggantung. Namun tidak begitu masuk ruang ujian. Yang dilihat supervisor hanya Nurul yang tenang, Nurul yang ceria, Nurul yang happy, tanpa pernah terlihat luka di matanya. Lalu aku masih harus berjuang me revisi proposalku anakku. Selama 2 jam aku diberi waktu untuk itu. Dan alhamdulillah aku berhasil mengatasi itu.
Ku pikir luka kehilanganmu itu telah membuatku berlari hanya agar luka itu tak terasa lagi, tapi akhirnya aku berlari begitu cepat hingga mampu mencapai apa yang tak ku kira sebelumnya. Aku tak suka meratap pada dunia karena menurutku ketimbang meratap akan kesulitan lebih baik kita berpikir bagaimana mengatasinya. Dan itu yang ku lakukan kemarin. Aku cukup kuat untuk ujianku, untuk deadline itu dan begitu proposal itu SUBMIT dan LOLOS, keluarlah air mataku. Dan aku menangis. Meraung di sofa apartemenku. Seluruh sel di tubuhku memanggil dirimu Najwa, tapi aku tahu aku tak lagi bisa bersamamu. Saat itu aku melepaskan seluruh kesedihanku. Aku mengizinkan diriku menangis. Dan aku menangis, hingga aku tertidur di sofa itu.
Dear Najwa.
Pagi ini aku sudah tak sedih lagi. Hanya sehari dalam setahun aku boleh bersedih, dan itu hanya untukmu. Air mataku terlalu mahal untuk dihabiskan oleh kekejaman orang lain padaku. Aku tak pernah menangis untuk mereka, orang-orang kejam itu. Mereka tak pantas mendapatkan air mataku. Pagi ini aku juga sudah semangat lagi. Aku sudah berencana menghabiskan hariku dengan belajar lalu membuat slide untuk presentasiku. Ku harap kau juga bahagia disana dengan mereka yang menemanimu. Ini saatnya aku move on, anakku. Saatnya hijrah. Tapi percayalah, meski aku tak lagi berada satu kota dengan mu suatu saat nanti aku tetap menyayangimu. Dan kau, selalu dalam doaku. Selalu.
Selamat ulang tahun Najwa. Tetaplah jadi anak yang ceria, pemberani, banyak akal, bijaksana, tak mudah mengeluh dan pantang menyerah. Dan semoga suatu saat kita bisa bersama. Amin.
I posted on facebook *malu* huaaa tobatnya cuma tobat sambel ternyata hehe. Sebenarnya sih rada males posting, you know sedari pagi saya benar-benar menghindari FB dan cuma jawab seperlunya text. Posting pun cuma naruh video India gitu terus kabur.
And theeen tak disangka, saya diajak shopping oleh si kiwi. Gak nyangka juga karena awalnya ia bilang ia akan sibuk di bengkel, yo wis lah, gak maksa juga. Eh ternyata habis shalat Jumat ia ngajakin shopping. Yeah, gimana gak menggeliat semangat berburu sale hehehe.
Daaan kami pun shopping. Awalnya cuma ngambil coat yg di alter sepuluh hari yg lalu. Coat yg dikasih si Jerman tapi gak masuk akibat perkembangan tubuh yang tak terkendali di NZ hahaha. Jadilah terpaksa tu dress di alter hehe. Muahaaalll minta ampun biaya alter nya, 120 NZD booo gileeee seharga baju baru. Tapi RC paham betapa berartinya coat itu bagi saya dan juga bagi MC. So, akhirnya dengan 2 kali bayar, terbayarlah 120 NZD itu hehe. From his pocket of course, saya mah ogah bayar semahal itu cuma buat alter hehehe.
Lalu kami ke warehouse. Say arencana hanya mau cari clearance, eh ternyata malah liat kalung pearl yg cantik banget. Tanpa dinyana, ia menyanggupi lagi membelikan kalung itu. Entah kena apa tuh kiwi kemarin yang jelas setelah nge bayarin alteration dress yang mahal banget, lalu ia oke lagi ngebayarin kalung mutiara super cantik itu. Plus, extension chain yg sudah lama memang ingin saya beli. Yay, sudah senang kan hati ini hehe.
Lalu ia bawa lagi saya makan di resto india. saya pesan yg murah saja, 15 dollar sudah dapat naan, nasi, butter chicken plus minum. Saya pikir cukuplah itu. Dan saya gak habis hehe. Sekarang perut saya gak se starving dulu lho lebih sopan setelah saya ikutan diet GM ala saya yang juga gak bikin kurus itu hahaha. Sudahlah. Lalu kami turun menuju parkir. Nah, saat itulah saya liat butik bagus banget plus coat-coat cantik mereka. Biasanya kami gak pede masuk ke butik cantik, karena dah tahu uang kami gak akan cukup buat beli sesuatu apapun disana hehe. So daripada bikin keki mending gak usah masuk.
Namun ia encourage saya kemarin, daaan masuklah saya di butik itu. Wuih emang kereeen serasa di film pretty woman sayaaa hahaha. Nah, ia ambil 2 coat buat saya coba, yg broken whote dan yg merah maroon. Saat itu seperti biasa yaaa foto karena saya suka membandingkan pakaian dengan difoto dulu. Lalu karena bingung, saat itulah say aupload. Bingung pilih yang mana, gitu aja caption nya.
Eh, langsung banyak yg suka, nah mulai lah gatal tangan saya. Langsung nge cek notifikasi lagi daaan tobat FB pun bubar jalan eheheh. Sudahlah. Habis itu tanpa dinyana, say aliat DOTTI! Toko dress yang saya suka banget ituuu daaaan liatlah tu jaket keren, dan lagi lagi DIBELIKAAAN> Subhanallah ya rabbi, betapa besar kuasaMu. Benar-benar saya gak kuat lagi gak nangis kemarin itu. Ya, karena saya sudah sering hidup sendirian dan menahan hal yang tak mampu saya beli lalu tiba-tiba sekarang liat jaket pagi di web sore sudah di tangan. Ya Allah ya rabbi, saya benar-benar tak menyangka akan perubahan hidup yang begitu drastis terjadi di NZ sini. Yah saya juga sudah hijrah, saat itu ke India dan seperti saya bilang, meski hidup sudah ada perubahannya tapi tak se drastis yang terjadi di NZ sini. Dan seandainya saya tak bertemu dengannya pun, maka hidup saya juga mungkin akan flat-flat saja, tak ada perubahan yang berrati kecuali kuliah, menulis dan menulis.
Pagi ini, saya liat sunrise yg oke banget dan gatal lagi nih tangan mencet tombol POST. Hbais itu hilanglah seluruh tobat sambel itu dan berganti dari posting ke posting hehehhe *malu maluuu banget* hahahaha.
But kayaknya sudah deh. Habis posting terakhir ini tentang kerinduan akan tanah India, sepertinya saya akan silent lagi. Semoga bisa meredam rasa happiness yang kadang begitu membuncah hingga susah untuk dipendam sendiri. Kalau masalah saya maish bisa pendam, tapi happiness wuaaa susaaah hahahah.
Hari ini juga saya shopping. Masih ter nganga sih liat gedung tinggi secara saya jarang banget jalan ke downtown. Dan hari ini saya menyusuri Queen street melihat berbagai koleksi coat dari berbagai merk ternama di Auckland. Itu tu saya merasa seperti Kabayan masuk kota hahaha, ter nganga gitu liat betapa classy nya pakaian pakaian ala Barat. Terus saya liat jaket tapi masih mikir-mikir hendak beli apa nggak, karena jaket saya sudah lumayan banyak. Sambil terus ditemani si kiwi meski cuma lewat SMS. Nah, sore ini saya liat semua belanjaan saya itu, ya rabb, betapa besar rahmat-Mu. Kadang saya suka takut sendiri dengan betapa mudahnya hidup saat ini. Entah karena saya yang sudah biasa tahan banting atau rasa syukur saya yang begitu terasah, yang jelas saya merasa saat ini semuanya Dimudahkan oleh Allah. Sebenarnya sejak saya di India sih saya sudah merasakan hal itu. Kadang saya suka takjub dengan negotiation skill yang saya punya. Gak nyangka aja saya yang dulunya pemalu bahkan nukar uang ke warung aja malu tiba-tiba karena keadaan jadi harus nego sana sini, nyari uang sendiri, menghalau orang-orang kejam, belum yg suka manfaatin, intinya tiba-tiba saya SENDIRI. Dan saat sendiri itulah tiba-tiba semua inner strength itu keluar hehe. The power of kepepet lah istilahnya. Saya merasa bahkan jadwal ujian universitas saja bisa bergeser dengan Allah dan the power of my negotiation. Sejak saat itu saya paham bahwa jika kita berusaha pasti ada saja jalanNya. Dan itu memang terbukti. Di Indonesia saat saya kepepet karena pemotongan gaji, doa dan usaha saya diijabah Allah melalui EF dan banyaknya murid privat yang memanggil saya lalu membayar lebih. Lalu di NZ sini saya membelokkan PhD dari sains ke education. Yang dilobby bukan main-main lagi, universitas, beasiswa, plus imigrasi. Dan semuanya juga terlewati. So, sebenarnya the power of kepepet itu yang keren hehe.
Tapi saya jadi takut sendiri. Karena ingat ada beberapa artis atau teman yang hidupnya berubah drastis eh lalu juga dipanggil Allah cepat alias pendek umurnya hehe. Semoga lah saya masih dipanjangkan umur, masih banyak dosa soalnya. Ini barusan tobat FB nya tobat sambel hehehe.
Anyway, rasanya postingan terakhir tentang foto bersama mahasiswa tadi cukuplah untuk keheningan sementara. Toh kalau saya nge share bagaimana saya nge lobby banyak pihak dan survive dengan kesendirian saya ntar malah dibilang show off lagi *hedeh, menghela napas*. Posting foto juga off dulu lah, menghilang lagi kita, sembunyiiii hehehe. Ntar kalau ada yg signifikan lagi baru kita post lagi. Lagian, ni lagi rame masalah hendak kumpul kumpul lah sesama mahasiswa, jadi saya yang malas ber sosialisasi lagi inginnya hidden saja, biar tak terlihat lagi. Sudahlah, cukuplah ke insyafan sementara ini. Saya harus bertobat lagi (within period of time heheh) ntar ya balik lagi tobatnya.
Oya, saya juga ngerasa gak bebas lagi lho, karena banyak notif. Jadi kangen lagi saat saya duduk nonton TV sendirian dan gak pegang hape, atau saat bisa tidur dengan nyenyak karena gak ada juag yg hendak dihubungi. Plus ibu saya kan juga marah kalau saya updtae status tapi gak pernah say HI. Jadi yo males, biarlah saya hidden lagi. Rasanya sudah cukup online 2 hari ini. Saya ingin fokus belajar dan istirahat lagi ahhhh.
Oke, waktunya menyusun baju-baju penuh dengan label itu. I know no one will read this, tapi cukuplah buat bikin hati saya gak terlalu sakit hidden dari FB hehe.
Have a lovely weekend, people! I am off sebelum dibilang showing off!
Hi there!I know no one is there, but saya tetap bilang hi there aja yah!
Saya lagi nih, dengan postingan aneh ala saya.
Kali ini pingin cerita tentang si superman, laki-laki kiwi yang menemani saya di Auckland sini. Jujur awalnya saya gak terlalu ON dengan lelaki ini. Yah beda umur kita hampir 14 tahun, after all, se anti-anti nya saya ma brondong tapi tetaplaaah beda usia 14 tahun itu bikin saya liat dia looks like my father instead of my man. But you know he never gives up on me. Meski awalnya saya tolak mentah mentah tuh tawaran bersama, meski saya juga lagi jomblo saat itu, tapi ia tetap keukeuh mengejar saya dan finally, yay, he wins!
Pagi ini saya bangun, shalat subuh terus ngaji sambil liat sunrise. Keren banget tiap hari melihat bagaimana langit Auckland berubah dari gelap, menjadi semburat kuning, lalu matahari muncul dari balik Rangitoto. Indaaaaahhhh banget dan seperti biasa, this is just for me, just for me!
Ow anyway, kemarin saya posting di FB. Cuma foto pemandangan gitu terus dengan caption Allah and His natural entertainment. Udah, cuma gitu aja. Itu pun saya posting pas lagi iseng sambil nunggu jawaban di WA saya tentang artikel yg saya submit. Setelah itu, saya OFF. Tapi terasa loh saya attach lagi dengan hape, Wuih males. Mending off lagi haha. Udah males baorriednget dengan facebook atau instagram. Sebenarnya sih karena my mum. Serba salah pokoknya. Kalau saya gak balas textnya tapi update terus di FB beliau marah. Nah giliran saya nge text kadang juga gak disahutin tuh apalagi kalau lagi sibuk dengan my sister, yo wis lah saya minggir ajaaahh. Nah jadi kan mending saya gak balas text plus gak update anything juga di FB. Anyway, say apikir who am I to post sih? Artis bukan, presiden bukan, ilmuwan kondang bukan, terus ngapain saya posting? Belum lagi liat ungrateful public itu, belum liat postingan yg suka grup grupan terus komen komen an hanya sesama grupnya semata-mata agar postingannya rame. Belum orang-orang oportunis yg tiba-tiba nyapa pas ada buku yg saya share atau pas pingin di cek tugansnya, wuih udahlah malas banget saya! I feel sick pokoknya. So, tetap off dan memlih silent itu lebih baik. Terserah orang mau mikit saya meninggal, saya sakit, saya kalah dalam hidup, saya sudah gak ada yang bsia dibanggain lagi, TERSERAH! Intinya lu mau mikir apapun tentang saya, I am not worried, saya tahu hidup saya baik-baik aja, saya happy aja di NZ sini, dan saya udah males nulis lagi karena ada labih banyak jealousy eyes ketimbang yg tulus mendoakan. Hidup saya masih berjalan teratur, pagi tadi bangun, set apple watch, nge gym, lalu sarapan cereal (which is kalau saya posting my Mum itu pasti nyinyir lagi dan bilang kenapa gak makan nasi lagi dan saya sudah seperti bule katanya). Heran lho, ada a mum yg gak bangga anaknya sekolah doktoral dan berhasil mengatasi kehancuran hidupnya dengan melakukan hal positif. Ahhh, sudahlah, makanya kalau sudah di konfront gitu saya paling bilang "iya, emang gak ada untungnya kok punya anak kayak saya ini. Kesian rugi banget yak sudah melahirkan saya ke dunia ini". Paling cuma gitu, saking sudah gak punya jawaban lagi dan terus terang capek tau disalahkan dan disesali terus menerus itu. Siapa sih yang ingin hidupnya hancur, cerai, terus gak punya akses ke anak? Tanpa disalahin dan disesalin aja tiap hari hidup saya tu udah harus merangkak supaya bisa tetap maju, Kalau saya nurutin sakit hati karena hidup hancur ini wahahahaha udah gak bangun lagi kali esok hari. But you know, itulah my Mum. Selalu nge regret.
Okay, enough tentang FB. Now about my life. Kerjaan saya sekarang udah jarang paling seminggu sekali. Yeah income jadi low juga sih jadi sekitar 100 dollar NZD aja tiap minggu. Nah kalau kerjaan lagi sepi gini apa ada saya komplen ke orang lain? Gak tuh, ya saya SUCK IT UP aja. Mau gimana lagi coba? Komplen pun gak akan berubah kan? Tapi keputusan saya untuk gak share hal-hal ygs edih itulah yg bikin orang lain mikir saya ini selalu happy hahaha. Sudahlh, public mah gak pernah happy! No matter what!
So, everyday saya cuma di rumah kecuali sehari seminggu itu saya kerja. Pagi biasanya kalau lagi gak puasa saya nge gym. Lalu sarapan, terus mandi (dengan hot shower yang super oke itu), lalu saya belajar hingga zuhur. Intinya hidup tenang banget. Kadang saya kangen juga sih dengan hidup saya di India dulu. Yeah, itu negara crowded banget, tapi yang jelas I am happy there.
Tapi sepertinya my love luck gak berhasil disana. Saya malah akhirnya dipinang seorang kiwi man yg keren banget menemani saya yang monster ini. Ia benar-benar laki-laki keren. Gak pernah bentak, selalu humble, romantis, terus selalu ingin nyenangin hati saya. Hari Jumat ini aja, ia rela ninggalin mobilnya di bengkel, lalu bawa saya shopping yay (nih kalau di share lagi di FB jadi lah banyak mata jealousy lagi hahahaha). So, rencananya sore ini kami bakalan shopping plus makan di resto Indonesia di darerah Albany. Yang saya suka banget karena di Albany itu lengkap mallnya. Plus gak jauh dari tempat tinggal saya. So yay, having a date lagi kitaaa.
Aaannnd ketemu lagu India yang oke banget bikin perasaan mellow. Tiba-tiba keingat lagi dengan semua memori saya di India dulu. Pergi ke easy day, pergi ke big chicken resto, makan di warung Maliyali, ketemu banyak orang disana yang melihat saya seperti a movie star karena pakaian saya yang jauh berbeda dengan mereka. Terus terang, India membuat saya kaya. India membuat saya tumbuh berbeda dan saya bangga pernah tinggal disana dua tahun lamanya. Mungkin bagi orang lian, India itu negara kotor, negara crowded, yeah, I couldn't deny that. Tapi juga gak bisa dipungkiri betapa uniknya negara itu dan betapa saya ingin kembali lagi kesana. Ingat betapa murahnya barang-barang disana, betapa hormatnya laki-laki dengan wanita disana (untuk yg mereka sayangi lho ya) dan my happy life selama saya disana. But well, sekarang saya sudah di negara maju ini sehingga India terlihat begitu konservatif sekarang. Tapi tetap, saya rindu ingin kembali kesana.
Udah ya entar saya sambung lagi. Saya mau siap-siap nge date nih hehe. Stay happy ya people, meski I know no one is there to say hey back to me. But it is okay to be alone. It is better dan gak nyakitin siapa-siapa.